kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa
kita jadi tau beraneka bidang ilmu dari siapa
kita jadi pintar dididik pak guru
kita bisa pandai dibimbing bu guru
gurulah pelita penerang dalam gulita
jasamu tiada tara.......
... GURU ..
itu adalah sepenggal lirik yang aku tahu ketika bersekolah dulu. lirik lagu yang sarat pujian terhadap guru. karena judulnya pun guru. sekolah dan guru, disanalah aku mulai belajar mengenal huruf dan angka.
dulu ketika umurku barulah satu digit, aku hanya belajar dan mendapatkan ilmu dari sebuah tempat tempat yang bernama sekolah. selain dari lingkungan yang bernama keluarga. hingga kemudian perlahan aku belajar dari seseuatu yang sering disebut dengan "pengalaman".
hidup itu adalah proses pembelajaran diri, begitu kata ayahaku. kita harus bisa belajar pada apa pun, siapa pun dan dimana pun. awalnya aku tak mengerti pada kalimatnya, walalu pun aku menjawab " ya" namun aku sama sekali tidak mengerti dengan kalimatnya itu. yeah... aku tidak ingin ayahku berkicau lebih banyak tentang hidup. bagiku hidup ya hidup..... jalani saja.
waktuku untuk mencari ilmu dan pengalaman pun tiba, aku di izinkan untuk mencarinya diluar sekolah dan keluarga. perlahan aku keluar tanpa arah, aku berjalan sesuka hatiku hingga aku tersesat pada sebuah pasar. yaiks, pasar itu identik dengan jorok. kala itu ingin rasanya aku tertawa sinis pada ayah mengingat kalimatnya tentang belajar dimana pun dan siapa pun.
belajar disebuah pasar ? eiilooo... ini pasar dengan kebecekan, kebisingan, aroma bau yang menyengat dan ketidakramahan para penghuninya. huh, melihat suasana pasar aku mengurungkan niatku untuk berbicara segala hal tentang pasar yanga ada diotakku saat itu. aku diam.
aku mulai menyusuri pasar. disebuah lorong aku bertemu dengan seorang penjual pembeli atau entalah, aku tidak mengerti siapa dia kala itu. beberapa lama kemudian dia memperkenalkan diri. om vies, ya begitulah aku menyebutnya. tak lama kemudian datanglah om alithok, secepat kedatangannya maka kepergiannya pun tak kalah cepat. huh, om yang satu ini seperti jaelangkung saja. datang tak di jemput pulang tak diantar.
tak jauh dari situ aku bertemu dengan seorang penjual yang sering aku panggil mamie ely. jualannya sangat sederhana namun aku menyukainya. sama seperti bu gulu clala yang selalu menjual keserhanaanya. tanpa ku sadari aku sudah masuk ke dalam pasar, di blok yang lain aku mampir sebentar ke dalam sebuah kios yang kala itu ia sedang berjualan sebuah pengalaman. tak berapa lama muncul sang pemilik yang hingga saat ini aku memanggilnya dengan sebutan oma joli time.
pasar tanpa preman. impossible pikir ku. tiba-tiba saja ( walau kata ayahku tidak ada yang namanya tiba-tiba dimuka bumi ini ) segerombolan orang sedang beradu urat didepan sebuah kios. wah... wah... aku benar-benar berada di sebuah pasar, ujarku dalam hati. si pemilik kios adalah salah satu dari preman - preman itu. dengan rambut yang dibiarkan tergerai, ia mulai menjelaskan isi kiosnya. om gerai memang penjual yang handal, karena saat itu banyak sekali terjadi tawar menawar disamping ada om dennis dengan kembarannya si babi pink. oopss, nyaris saja aku tidak bisa membedakan babi pink dan ,,,,
wah... aku mulai menyukai pasar, disini aku menemukan banyak sekali keajaiban dunia yang tidak ku pelajari disekolah atau pun dirumah. ajaib, ada namboyu eyik yang jualan sirih, ada juga opung JF yang jualan toak, ada pdm. raissa yang jualan buku, ada om dede yang jualan teori dan para penjual lainnya.
ehm, belajar pada apa pun, siapa pun dan dimana pun... aku mulai menggambil catatanku ketika seorang penjual yang kurang disukai penghuni pasar menyerukan kata: catat !