Submitted by clara_anita on


Kemarin secara kebetulan saya bertemu dengan seorang teman. Kebetulan juga dia adalah salah satu orang yang menjadi tempat curhat saya ketika saya mengalami peristiwa yang menyakitkan dua tahun lalu.

Sambil asyik menyeruput bubur ayam, pembicaraan pun mengalir. Entah bagaimana, kami pun membahas peristiwa dua tahun lalu. Saya bertutur bahwa saat ini saya sudah benar-benar memaafkan meski belum dapat melupakannya.

Dia pun menyibak fakta yang sebetulnya diketahuinya namun tak diungkapnya dulu. Mungkin dia berpikir andai saat itu saya tahu yang sesungguhnya terjadi, saya akan makin merasa diperlakukan dengan tidak adil, dan makin terpuruk dalam lembah depresi.

Fakta itu memang mengejutkan, ...
tapi tak lagi terasa menyakitkan.
Justru saya merasa bersyukur TUHAN menunjukkan banyak hal lewat penolakan itu.

Saya tak mau munafik. Usai penolakan itu, saya merasa hancur. Segala pencapaian dan kualifikasi saya terasa tak bermakna. Selama setahun setelah peristiwa itu pun saya tak lagi bersemangat menjalani hidup. Tiap hari saya hanya berusaha untuk bertahan, dan bukannya bergerak maju.

Tiga pelarian saya ketika depresi itu mendera adalah bekerja, makan, dan berdoa. Praktis tubuh saya yang sudah gempal jadi bertambah gempal. Hubungan sosial saya pun mulai retak karena saya membenamkan diri dalam pekerjaan.

Di titik paling rendah dalam hidup saya itulah saya meratap, dan tatkala harapan itu nyaris pergi saya tersungkur dalam doa. Saat itulah bayangan tentang permainan bola bekel muncul. Saya sendiri heran, karena saya tak pernah benar-benar menyukai permainan ini.

Bayangan itu tak lekas pergi. Lama ia bertahan hingga saya sadar maknanya. Ketika bola karet itu dilempar ke bawah, ia akan memantul saat menghantam lantai. Semakin keras ia dilempar, semakin tinggi pula pantulannya.

Seketika itu pula saya tersadar. Saya telah mencapai dasar jurang kepahitan akibat penolakan itu. Tiba-tiba saya pun tertawa geli. Alangkah bodohnya saya menyia-nyiakan hidup saya hanya karena satu pintu yang tertutup. Padahal beribu pintu lain terbuka lebar buat saya.

Sudah cukup!!

Saya telah menghantam dasar jurang dan saatnyalah, bersama DIA, saya harus memantul tinggi.

Semudah itukah?
TIDAK

Banyak hal-hal yang menahan saya, tapi semuanya menghilang saat setahun lepas peristiwa itu saya akhirnya mampu memaafkan mereka, dan juga diri saya. Saat maaf yang tulus itu berhasil saya beri, saya pun mulai membumbung tinggi.

Teman saya itupun bertanya, apakah saya sudah merasa damai sekarang? Saya pun melihat apa yang saya miliki saat ini. Genggaman tangan TUHAN yang erat, keluarga yang penuh kasih, sahabat-sahabat yang baik, pekerjaan dan posisi yang relatif baik, senyum murid-murid kecil saya yang ceria, kesempatan merengkuh ilmu yang tak ternilai, dan banyak hal lain yang tak terhitung jumlahnya.

Dan senyum itupun mengembang saat saya menjawab YA.