Baru-baru ini terjadi peristiwa yang cukup "menggemparkan" di kota kami. Seorang mahasiswa sebuah sekolah tinggi memilih mengakhiri hidupnya dengan terjun dari lantai tiga sebuah gedung di kampusnya. Ia memang tidak meninggal seketika. Tapi toh akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan ke rumah sakit.
Kematian seorang rekan sesama manusia yang memang tidak saya kenal ini, entah mengapa, membuat saya berpikir tentang kematian. Kehidupan, untuk kebanyakan orang, memang berat dan berliku. Dan mungkin banyak pula yang bertanya, kenapa bersusah-susah bertahan hidup? Bersekolah puluhan tahun lalu merasakan begitu banyak tekanan di dunia kerja. Berusaha mati-matian dan dikalahkan oleh ketidakadilan. Belum lagi berbagai sakit hati, keputusasaan, dan frustasi dalam keseharian hidup kita. Mengapa bersusah-susah kalau kita bisa memilih untuk mengakhirinya.
Teringat saya akan sepenggal soliloquy dari drama karya Shakespeare berjudul Hamlet:
To be, or not to be, that is the question:
Whether 'tis nobler in the mind
to suffer the slings and arrows of outrageous fortune,
Or to take arms against a sea of troubles,
And by opposing end them.
yang kalau diterjemahkan bebas adalah sebagai berikut:
Hidup atau mati
Itulah dua perkara besar yang perlu dipertanyakan
Apakah benar lebih mulia untuk
bertahan menghadapi berbagai kesulitan dalam hidup
ataupun melawan berbagai rintangan dan mengatasinya?
Kedengaran skeptis memang. Apakah memang hidup ini cukup berharga untuk dijalani dan dipertahankan? Inilah pertanyaan yang umum dipertanyakan mereka yang putus asa.
Bagi saya, (dan saya harap juga bagi anda), ada berjuta alasan untuk memandang hidup ini sebagai sesuatu yang layak dan berharga untuk dijalani tak peduli seberapa berat. Ijinkan saya membagikan beberapa di antaranya:
1. Hidup kita terlalu berharga bagi Tuhan, hingga Yesus sendiri bersedia disalib untuk menebusnya.
2. Selalu ada harapan di sepanjang jalan tak peduli seberapa gelap.
3. Seberat apapun hidup ini, saya yakin saya dapat melaluinya saat melangkan bersama-Nya
4. Saya tak pernah sendirian. Saat semua orang meninggalkan saya, IA akan selalu beserta saya
5. Saya percaya ada rencana besar di balik keberadaan saya di tengah berbagai badai, dan saya harus merampungkan tugas itu.
6. Setiap badai membuat saya semakin kuat; berarti badai adalah salah satu cara Tuhan mengasihi saya dan membentuk saya.
7. Life must go on no matter what. Karena kita tak pernah tahu penemuan besar apa yang menanti di ujung jalan.
Itu beberapa alasan saya untuk "bertahan" di masa-masa sulit.
Hidup ini begitu berharga untuk diperjuangkan sampai akhir, meskipun saat ini nampak begitu gelap dan tak menentu.
Saya berharap anda yang membaca tulisan yang masih jauh dari sempurna ini berkenan menambahkan alasan-alasan untuk terus mempertahankan hidup. Saya percaya kita dapat saling menguatkan lewat berbagi.
Akhir kata, semoga tiap hari kita dapat menemukan satu alasan baru untuk menjalani hidup dengan lebih berarti. Karena hidupmu begitu berharga.
Tuhan memberkati.