Handai taulan sekalian, Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat baru saja menerbitkan buku barunya yang berjudul: "Membedah Soteriologi Salib: Sebuah Pergulatan Orang Dalam" Soteriologi berasal dari bahasa Latin: Sotere artinya keselamatan dan logos artinya ilmu. Berikut ini adalah pernyataan dari Pdt. Ioanes Rakhmat yang dihakimi membabibuta oleh sebagian orang Kristen. Pada kesempatan ini saya hendak mengajak anda untuk menghakimi EMAIL tersebut dengan ADIL. Anda akan kaget melihat yang tidak anda lihat karena berprasangka dan menghakimi membabibuta serta terburu-buru menjatuhkan VONIS.
Memberanikan diri bertanya, di dalam Emailnya Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat menulis:
Dear teman-teman semua,
Ada sejumlah orang bertanya kepada saya, apakah saya masih anggota gki (gereja kristen Indonesia). Pertanyaan ini terkait dengan berita-berita yang sekarang ini beredar di luar bahwa buku terbaru saya, Membedah Soteriologi Salib: Sebuah Pergulatan Orang Dalam (tebal 193 hlm; cetakan kedua expanded, Maret 2010), telah menjadi penyebab saya dikeluarkan dari gki oleh pimpinan sinode gki.
Buku ini (disingkat: MSS) dengan kuat berisi penolakan bulat saya terhadap ajaran utama Kristen tentang keselamatan (=soteriologi) bahwa kematian Yesus di kayu salib menebus orang dari semua dosanya dan menjamin orang yang percaya pada doktrin ini masuk surga. Saya menunjukkan kelemahan-kelemahan fatal doktrin ini dan menghancurkannya; dan saya menyatakan bahwa saya sudah tidak mempercayai soteriologi ini, tetapi, sebaliknya, saya masih bisa hidup sebagai orang Kristen dengan menerima soteriologi-soteriologi alternatif.
Terkait dengan hal di atas, pada kesempatan ini saya mau memberi beberapa klarifikasi.
Pertama, sampai sekarang secara de jure saya masih anggota gki dan masih berstatus pendeta emeritus gki. Secara de facto, saya memang atas kemauan sendiri sudah dua atau tiga tahun terakhir ini tidak melibatkan diri sama sekali dalam kehidupan gki (antara lain sudah tidak pernah ke gereja lagi pada setiap hari Minggu), dan sudah tidak pernah menyebut dan menulis diri saya sebagai seorang pendeta gki dalam situasi dan aktivitas kehidupan apapun.
Kedua, saya dalam satu bulan terakhir ini sudah menerima tiga surat resmi dari pimpinan sinode gki. Dua surat yang pertama meminta saya menghadap mereka untuk "digembalakan khusus"; tetapi kedua surat ini saya tidak indahkan sama sekali dan saya menjalani kehidupan sehar-hari dengan wajar saja tanpa merasa terbeban oleh persoalan apapun. Yang dimaksud dengan "penggembalaan khusus" dalam kehidupan gki adalah tindakan-tindakan menghakimi seseorang sebagai orang yang bersalah dan menjurus kepada dua hal. Jika orang yang sedang digembalakan khusus tidak mau mengubah perilakunya, artinya (dalam bahasa moral agama): tidak mau bertobat, maka pada akhirnya orang itu akan dinyatakan sebagai orang "sesat" atau orang yang "terhilang" lalu keanggotaan gerejanya dihapuskan. Nah, para birokrat rohani gki menghendaki saya mencabut semua pandangan saya dalam buku MSS saya tersebut diatas, jika saya masih ingin berstatus pendeta gki. Jadi, ada dua tujuan dalam penggembalaan khusus ini, yaitu pertobatan orang yang digembalakan, atau penghapusan keanggotaan, atau dalam hal saya: pencopotan status kependetaan dan penghapusan keanggotaan dalam gki.
Karena kedua surat pertama tidak saya hiraukan sama sekali, maka dilayangkanlah surat ketiga kepada saya, yang isinya sangat keras tetapi sudah saya antisipasi, yakni pernyataan bahwa sementara ini status dan pekerjaan kependetaan saya dibekukan sampai saya menyatakan diri bertobat dan mencabut semua pandangan saya yang telah saya uraikan dalam buku MSS. Dirinci dalam surat ini sekian hal yang sudah tidak boleh saya lakukan lagi dalam gki, dan ditulis juga di dalamnya nama empat orang pendeta yang menjadi tim pastoral (= tim penggembalaan khusus) yang akan menuntun saya kepada pertobatan, atau akan berakhir pada sebuah rekomendasi untuk pencopotan status kependetaan saya. Dua orang pendeta dalam tim ini pernah belajar pada saya dulu di sebuah sekolah tinggi teologi di Jakarta . Yang seorang lainnya memiliki gelar Doktor dalam ilmu penggembalaan. Yang keempat sering mengaku Doktor (Dr) walaupun gelar resmi tertingginya hanyalah doktorandus (Drs).
Nah, saya juga berketetapan hati bahwa surat ketiga ini juga TIDAK PERLU SAYA HIRAUKAN SAMA SEKALI. Artinya: saya sama sekali menolak bentuk penggembalaan apapun atas diri saya. Kepada teman-teman saya, saya sudah berulang kali menyatakan bahwa saya bukan seorang pembunuh, juga bukan seorang koruptor dan penggelap uang gereja, juga bukan seorang pezinah atau budak syahwat, juga bukan seorang tukang fitnah, juga bukan teroris. Jadi NO WAY bagi saya untuk digembalakan dalam bentuk apapun. Mereka mau mengadili saya karena SEBUAH BUKU YANG MENGHEBOHKAN. Artinya: para birokrat rohani itu mau mengadili dan memasung sebuah pemikiran bebas, yang merongrong kredibilitas dogma/doktrin gereja. Dengan saya menulis buku ini dan menerbitkannya, saya, dalam pandangan mereka, telah melanggar ikrar setia saya kepada semua ajaran gereja yang telah saya ucapkan ketika saya dulu ditahbis menjadi seorang pendeta. Saya sudah memiliki dua buah jawaban atas penilaian ini, pertama, bahwa saya dulu memang salah memilih pekerjaan kependetaan; kedua, bahwa saya DENGAN SADAR memang MELANGGAR JANJI SETIA SAYA itu karena sekarang saya sungguh menyadari bahwa pemikiran bebas dari dogma jauh lebih luhur dan lebih jujur ketimbang ketaatan membuta pada doktrin-doktrin gereja.
Dengan demikian, saya hingga kini dengan ringan menjalani kehidupan sehari-hari dengan mengerjakan tugas-tugas saya yang tidak ada hubungannya dengan gki dan pekerjaan kependetaan dalam gki. Diungkapkan dalam idiom sehari-hari, saya selalu mengatakan: "Memangnya guwa pikiran apapun yang kalian, para birokrat rohani gki, mau lakukan kepada saya!" Jadi, saya sudah siap 100 persen untuk mengalami pencopotan status kependetaan saya. Kini saya harus menghadapi suatu sisi lain dari pencopotan status kependetaan saya yang saya perkirakan akan terjadi dalam bulan April atau Mei tahun ini: yakni sisi ekonomi finansial. Bagaimanapun juga, saya akan terus menulis buku-buku yang "melawan arus" kekristenan mayoritas di Indonesia, sebagai sumber nafkah ekonomi saya untuk keluarga saya.
Jadi, ringkasnya, hingga hari ini, 06 April 2010, saya secara de jure masih berstatus pendeta emeritus gki yang MENOLAK BENTUK PENGGEMBALAAN APAPUN ATAS DIRI SAYA, tetapi secara de facto saya sudah menarik diri dari kehidupan gki atas kesadaran dan suara nurani sendiri.
Terima kasih atas perhatian teman-teman semua.
Salam,
Ioanes Rakhmat
Bengcu Menjawab:
Buku ini (disingkat: MSS) dengan kuat berisi penolakan bulat saya terhadap ajaran utama Kristen tentang keselamatan (=soteriologi) bahwa kematian Yesus di kayu salib menebus orang dari semua dosanya dan menjamin orang yang percaya pada doktrin ini masuk surga. Saya menunjukkan kelemahan-kelemahan fatal doktrin ini dan menghancurkannya; dan saya menyatakan bahwa saya sudah tidak mempercayai soteriologi ini, tetapi, sebaliknya, saya masih bisa hidup sebagai orang Kristen dengan menerima soteriologi- soteriologi alternatif.
Selain paragraf tesebut di atas, yang lainnya adalah urusan rumah tangga Gereja Kristen Indonesia (GKI). Biarlah urusan rumah tangga GKI di selesaikan oleh GKI sendiri sesuai dengan Tata Gereja Dan Tata Laksana Gereja Kristen Indonesia. Kita akan menghakimi paragraf tersebut di atas.
Penghakiman Pdt. Ir. Mangapul Sagala, D.Th:
1. Terus terang, setelah membaca email di atas, saya kaget. Walau tidak terlalu kaget seperti ketika dia menolak tentang kebangkitan Kristus secara jasmani. Saya jadi teringat tahun 2003 ketika saya mengunjungi kampusnya di Kampen. Dia dilaporkan mengalami stress berat. Karena itu, dipulangkan, alias drop out. Rupanya, dia belum sembuh ya?
2. Ketika dia mengatakan bahwa keselamatan berdasarkan kematian Kristus, memiliki kelemahan-kelemahan, maka itu adalah urusannya. Setiap orang bebas menerima atau menolak, dengan segala konsekwensinya. Tapi yang jelas, itulah ajaran seluruh Alkitab, baik PL dan PB. Sebagai contoh, nabi besar Yesaya menulis bahwa Dia tertikam karena pemberontakan kita, Dia diremukkan karena kejahatan kita (Yes.53:5). Lalu Yesus sendiri mengatakan bahwa Dia menyerahkan nyawaNya menjadi tebusan bagi orang banyak (Mark.10:45). Itu juga yang menjadi inti utama ajaran rasul-rasul, termasuk rasul Paulus dan Petrus. "Kristus sudah mati untuk semua orang" (2 Kor.5:15). Demikian juga dengan rasul Petrus, menulis: "Dia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib..."(1Pet.2:24).
Wah, banyak sekali firman Tuhan bicara mengenai hal itu. Wajar, karena itu memang telah menjadi salah satu ajaran utama Alkitab. Sayang sekali, IR tidak menerima otoritas Alkitab. Hal itu tercermin dalam banyak artikel dan buku2 yang ditulisnya. Itu juga yang pernah dituliskannya kepada saya ketika kami berdebat (via email, japri selama kira-kira tujuh kali) tentang Yesus dan Kekristenan. Semua Gereja menerima doktrin keselamatan melalui kematian Yesus. Hal itu terbukti dari praktik perjamuan kudus yang dilakukan oleh Gereja Tuhan, minimal sekali setahun. Malah ada Gereja yang melakukan PK itu setiap Minggu. Perjamuan Kudus menggambarkan akan Kristus yang menyerahkan tubuhNya bagi umatNya. Jadi yang benar adalah, pernyataan IR memiliki kelemahan. KELEMAHANNYA BERSIFAT FATAL!
3. Apa dasar IR mengatakan bahwa Keselamatan melalui kematian Kristus, memiliki kelemahan-kelemahan? Sudah pasti, bukan Alkitab. Saya kwatir, bahwa dia telah menelan mentah-mentah pandangan kaum liberal, seperti Gerd Ludemann, Marcus Borg, dll yang memang tidak menerima keselamatan melalui salib.
4.Lalu dia melanjutkan dengan keinginan untuk menghancurkan ajaran tsb. Bagaimana kira-kira hasil perjuangan IR? Bukankah ajaran Kekristenan itu telah memasuki millenium ketiga? Dan harap diperhatikan, dalam masa Gereja, banyak kekuatan ingin menghancurkan Kekristenan. Namun apa yang terjadi? Gereja tetap bertahan. Saya jadi kasihan melihat IR. Yang benar, bukan dia yang menghancurkan ajaran itu. Tapi dia sedang menghancurkan dirinya sendiri.
5. Dia menulis bahwa dia tidak lagi memercayainya, tapi mengatakan "saya masih bisa hidup sebagai orang Kristen". Fatal sekali sdr IR ini. Nampaknya, dia tidak memahami lagi esensi dari tulisan-tulisannya. Beberapa tahun yang lalu dia menulis di Kompas dan pandangannya itu telah dibukukan bahwa dia menolak kebangkitan Kristus sebagai fakta. Dia mengatakan menerima spekulasi bahwa kubur dan tulang belulang Yesus ditemukan di Talpiot. Bukankah kedua hal tsb merupakan inti sari Kekristenan? Menurut pengakuan Iman Kristen, Yesus mati dan bangkit. Tapi, Dia bukan hanya mati dan bangkit, tapi Dia mati dan bangkit bagi kita. Rasul Paulus menulis: " Yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu... Kristus mati karena dosa-dosa kita" (1Kor.15:3). Itulah Soteriologi Salib. Dan itulah yang mau dihancurkan oleh IR, dan tetap mengaku sebagai orang Kristen! Apa yang terjadi gerangan dengan cara berpikir IR ini?
Penghakiman Yang Adil
Ketika menghakimi tidak boleh berprasangka. Prasangka mengakibatkan penghakiman tidak adil. Ketika membaca sebuah tulisan, tidak boleh berprasangka. Prasangka mengakibatkan pemahaman menyimpang.
MENGHAKIMI berarti membandingkan sesuatu dengan STANDARD. Di pengadilan, bila anda menuduh perampok sebagai pencuri itu artinya anda menggunakan pasal yang salah. Dia akan BEBAS demi hukum. Bila tidak hati-hati menghakimi tulisan Pdt. Ioanes Rakhmat, maka anda akan nampak seperti badut YAK-YAK-O (sok tahu).
Handai taulan sekalian, mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat. Menurut saya, Pdt. Ir. Mangapul Sagala, D.Th sama sekali tidak memahami tulisan Pdt. Ioanes Rakhmat itu sebabnya penghakimannya benar-benar mengenaskan. Lang kong tang I kong sai, bahasa Hokian, artinya, orang bicara Utara dia bicara Selatan. Pdt. Ioanes Rakhmat menulis tentang utara, Pdt. Ir. Mangapul Sagala, D.Th menghakiminya sebagai selatan.
Pdt. Ioanes Rakhmat menerbitkan buku barunya yang berjudul: Membedah Soteriologi Salib: Sebuah Pergulatan Orang Dalam. Pada kesempatan ini kita sama sekali tidak akan membahas isi buku tersebut karena yang akan kita bahas hanya satu paragraf dari emailnya.
Buku ini (disingkat: MSS) dengan kuat berisi penolakan bulat saya terhadap ajaran utama Kristen tentang keselamatan (=soteriologi) bahwa kematian Yesus di kayu salib menebus orang dari semua dosanya dan menjamin orang yang percaya pada doktrin ini masuk surga. Saya menunjukkan kelemahan-kelemahan fatal doktrin ini dan menghancurkannya; dan saya menyatakan bahwa saya sudah tidak mempercayai soteriologi ini, tetapi, sebaliknya, saya masih bisa hidup sebagai orang Kristen dengan menerima soteriologi-soteriologi alternatif.
Apa yang ditolak oleh Pdt. Ioanes Rakhmat?
Ajaran utama Kristen tentang keselamatan (=soteriologi)
Apakah dia menolak ajaran keselamatan Alkitab? Tidak! Yang dia tolak adalah ajaran utama Kristen tentang keselamatan.
Apakah menolak ajaran utama Kristen tentang keselamatan berarti menolak ajaran keselamatan Alkitab? Benar, bila anda meyakini bahwa ajaran keselamatan Alkitab sudah selesai dipahami dan standard kebenaran pemahaman ajaran keselamatan Alkitab adalah ajaran utama Kristen tentang keselamatan alias doktrin keselamatan yang dipegang oleh Gereja (khususnya GKI).
Namun, bila anda yakin bahwa ajaran keselamatan Alkitab belum selesai dipahami, itu berarti menolak ajaran utama Kristen tentang keselamatan belum tentu menolak ajaran keselamatan Alkitab. Menyebut Pdt. Ioanes Rakhmat sesat, murtad, nabi palsu karena dia menolak ajaran utama Kristen tentang keselamatan. Benar-benar tidak adil.
Kenapa Pdt. Ioanes Rakhmat menolak ajaran utama Kristen tentang keselamatan?
- Karena dia menemukan kelemahan-kelemahan fatal doktrin keselamatan yang diajarkan oleh Gereja (khususnya GKI).
- Karena dia menghancurkan doktrin keselamatan yang diajarkan oleh Gereja (khususnya GKI).
Menyebut Pdt. Ioanes Rakhmat sesat, murtad, nabi palsu karena dia menemukan kelemahan-kelemahan fatal bahkan menghancurkan doktrin keselamatan yang diajarkan oleh Gereja (khususnya GKI), sama sekali bukan hal yang bijaksana. Apabila yang dikatakannya itu benar, bukankah seharusnya kita menghargainya? Pada kesempatan ini kita tidak akan menguji apakah yang diajarkannya itu benar atau salah. Itu sebabnya kita tidak boleh menyebutnya sesat, murtad, nabi palsu karena dia mengaku menemukan kelemahan-kelemahan fatal bahkan menghancurkan doktrin keselamatan yang diajarkan oleh Gereja (khususnya GKI).
Apa Akibat menolak ajaran utama Kristen tentang keselamatan?
- Pdt. Ioanes Rakhmat tidak mempercayai ajaran utama Kristen tentang keselamatan
- Dia hidup sebagai orang Kristen dengan menerima soteriologi-soteriologi alternatif
Apakah Pdt. Ioanes Rakhmat yang tidak mempercayai ajaran utama Kristen tentang keselamatan yang telah dia temukan kelemahan-kelemahan fatalnya bahkan dihancurkannya dan hidup sebagai orang Kristen dengan menerima soteriologi-soteriologi alternatif boleh disebut murtad, sesat dan nabi palsu? Boleh! Asal soteriologi-soteriologi alternatif yang dipercayainya bertentangan dengan ajaran Alkitab. Tidak adil bila menyebutnya sesat, murtad dan nabi palsu karena soteriologinya berbeda dengan ajaran utama Kristen tentang keselamatan. Kenapa demikian? Karena ajaran utama Kristen tentang keselamatan gereja (GKI) bukan standard kebenaran ajaran keselamatan Alkitab.
Doktrin KESELAMATAN seperti apa yang ditolak oleh Pdt. Ioanes Rakhmat?
- kematian Yesus di kayu salib menebus orang dari semua dosanya
- kematian Yesus di kayu salib menjamin orang yang percaya pada doktrin ini masuk surga
Apakah GKI mengajarkan bahwa kematian Yesus di kayu salib menebus orang dari semua dosanya? Ada pengkotbah yang mengajarkan bahwa kematian Yesus di kayu salib menebus orang dari Iblis. Ada pula pengkotbah yang mengajarkan bahwa kematian Yesus di kayu salib menebus orang dari semua dosanya. GKI adalah anggota Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dengan demikian terikat oleh Pemahaman Bersama Iman Kristen PGI.
Tentang D. PENYELAMATAN, di dalam Pemahaman Bersama Iman Kristen PGI sama sekali TIDAK diajarkan bahwa kematian Yesus di kayu salib menebus orang dari semua dosanya. Yang diajarkan adalah: "Dalam Kristus Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya (1 Kor 5:18-19; Kol 1:1:20). Dalam Kristus manusia memperoleh pengampunan dari Allah dan diselamatkan dari kebinasaan."
Karena gereja-gereja anggota PGI tidak mengajarkan bahwa kematian Yesus di kayu salib menebus orang dari semua dosanya, bukankah itu berarti SEMUA anggota PGI sama seperti Pdt. Ioanes Rakhmat, menolak secara BULAT doktrin ajaran utama Kristen tentang keselamatan (=soteriologi) bahwa kematian Yesus di kayu salib menebus orang dari semua dosanya?
Apakah GKI mengajarkan kematian Yesus di kayu salib menjamin orang yang percaya pada doktrin ini masuk surga? Di dalam Pemahaman Bersama Iman Kristen PGI tertulis: "Di dalam Kristus Allah mulai MEWUJUDKAN rencana penyelamatan-Nya (Ef 1:9-10) yang akan digenapkan-Nya pada kedatangan Yesus kembali (1 Kor 15:22-25)."
Ada pengkotbah yang mengajarkan bahwa seseorang selamat karena dia secara BIJAKSANA memutuskan untuk PERCAYA kepada Yesus dan tawaran keselamatan dari-Nya. Ada pula pengkotbah yang mengajarkan bahwa seseorang selamat karena dia MERESPON alias MENERIMA tawaran keselamatan GRATIS yang diasong-asongkan oleh Roh Kudus dari hati ke hati. Namun GKI dan Gereja-gereja yang menjadi anggota PGI, jelas mengajarkan bahwa yang MEWUJUDKAN penyelamatan adalah Allah dan yang melaksanakannya adalah Yesus Kristus. Dengan ajaran demikian, itu berarti PERCAYA adalah CIRI, bukan SYARAT untuk SELAMAT. SYARAT untuk selamat adalah KARYA Allah dan Yesus Kristus, bukan karya manusia. Itu berarti gereja-gereja anggota PGI sama sekali tidak mengajarkan doktrin bahwa kematian Yesus di kayu salib menjamin orang yang percaya pada doktrin ini masuk surga.
Karena gereja-gereja anggota PGI tidak mengajarkan bahwa kematian Yesus di kayu salib menjamin orang yang percaya pada doktrin ini masuk surga, bukankah itu berarti SEMUA anggota PGI sama seperti Pdt. Ioanes Rakhmat, menolak secara BULAT doktrin ajaran utama Kristen tentang keselamatan (=soteriologi) bahwa kematian Yesus di kayu salib menjamin orang yang percaya pada doktrin ini masuk surga.
Handai taulan sekalian, bukankah orang-orang Kristen yang menyebut Pdt. Ioanes Rakhmat SESAT, MURTAD bahkan NABI PALSU karena satu paragraf dalam emailnya yang telah kita bahas berlaku seperti BADUT? Mereka tidak tahu bahwa mereka tidak tahu, itu sebabnya mereka SOK TAHU alias YAK-YAK-O? Ha ha ha ha ha ha ha ha ….. Bukankah dengan menybut Pdt. Ioanes Rakhmat SESAT, MURTAD bahkan NABI PALSU mereka sedang MENGUJAT dirinya sendiri, gerejanya sendiri? Ha ha ha ha ha ha ha ha ….. Izinkan saya bernyanyi.
YAK-YAK-O!
YAK-YAK-O!
YAK-YAK-O!