Submitted by Purnomo on

                  Suatu hari kebetulan aku melihat di panti asuhan "anak raja" seorang lelaki muda datang dengan motor bersama puterinya yang masih memakai baju seragam sekolah membawa sekarung beras 25 kg untuk disumbangkan. Mengapa dia tidak memberikan uang saja daripada repot-repot ke pasar terlebih dahulu lalu membawa beras itu ke panti?


                  Dari catatan donasi panti asuhan lain di mana aku diperbantukan untuk mentabulasi donasi uang serta natura, aku menghitung jumlah beras yang diterima bulan April 2015 sebanyak 470 kg, Maret 590 kg. Jika setiap hari beras yang dimasak untuk 55 orang (termasuk karyawannya) 15 kg, maka sebulan dibutuhkan 450 kg. Untuk April anggap saja pas. Tetapi bulan-bulan sebelumnya? Overstock !!!!
Pengurus panti bingung bagaimana menyampaikan kepada donatur beras sebuah pesan "jangan beras, tetapi uang saja".



                  Kelebihan persediaan beras yang bisa rusak karena waktu akan membuat pengurus panti menghadapi pilihan ini -

1) membagi gratis kepada orang-orang miskin.
2) menjual kepada kaum duafa dengan harga diskon.
3) menjual dengan harga pasar dan uangnya dimasukkan ke kas.
4) mendorong anak-anak panti makan nasi lebih banyak.
5) dikorup saja.

                  Ada yang tahu mengapa orang lebih senang menyumbang beras atau mi instan daripada uangnya saja?