Submitted by
ebed_adonai
on
Ya, judul di atas adalah salah satu dari tiga buah kalimat menarik seputar masalah seks, yang saya dapatkan dari orang-orang Kristen yang pernah saya temui dalam perjalanan pelayanan saya. Berikut adalah petikan dari ketiga kalimat tersebut, yang akan saya jelaskan satu-persatu:
1.“Berdosa nggak Pak, kalau wanita yang di atas?”
Pengalaman ini saya dapatkan semasa saya menjalani KKN dulu di sebuah gereja. Pada waktu itu, kebetulan ada dua orang jemaat yang akan melangsungkan pernikahan, dan saya beserta Bapak Pendeta mentor saya sedang berada dalam salah satu sesi pastoral pra-nikah dengan kedua jemaat tersebut. Kebetulan pada saat itu adalah sesi mengenai seks. Di akhir sesi, ada satu pertanyaan (yang mengagetkan) yang dilontarkan oleh calon mempelai wanita, sehingga saya dan mentor saya (kami berdua sudah berkeluarga) menahan rasa geli dalam hati mendengar pertanyaannya. Pertanyaan sang calon mempelai wanita inilah yang saya angkat dalam poin no. 1 ini. Yang mengejutkan, pertanyaan tersebut bukan dilontarkan oleh seorang gadis lugu yang berusia belasan tahun, namun justru keluar dari seseorang yang sudah cukup matang usianya, sudah bekerja, dan bertitel pula.
2.“Saya terpaksa selingkuh karena istri saya seperti ‘sapi mati’ di ranjang.”
Kalau kalimat yang ke-dua ini saya dapatkan dari dosen saya dalam sebuah kesempatan diskusi dengan beliau, dimana beliau menceritakan pengalamannya dalam pelayanan konseling dengan seorang jemaat di gereja tempatnya melayani, yang sedang ribut besar dengan istrinya karena ketahuan berselingkuh. Sang bapak tersebut (menurut cerita dosen saya itu) mengatakan bahwa ia sebenarnya terpaksa berselingkuh, karena (menurutnya) istrinya seperti tidak bergairah dalam berhubungan seks dengannya, pasif, pasrah, mau diapain juga diam aja, pokoknya nggak responsif (buset dah, ngegas mobil kali, pikir saya waktu itu), yang dijelaskannya dengan istilah seperti ‘sapi mati.’ Apapun yang dilakukan sang bapak untuk membangkitkan suasana erotis dengan sang istri selalu diitolak, dengan alasan malu. Padahal mereka berdua benar-benar saling mencintai, bukan dinikahkan secara paksa, yang memang sering berakibat dinginnya seseorang dalam berhubungan seks dengan pasangannya.
3.“Pak XYZ hati-hati ikut kebaktian itu, ntar kalau sudah ditengking roh-roh jahatnya, jadi ‘nggak bisa’ lho sama istrinya, ha..ha..ha..”
Nah, kalau kalimat yang satu ini tidak saya dapatkan dalam pengalaman pelayanan di gereja, melainkan dari seorang rekan mahasiswi seangkatan yang lebih muda, baru tamat SMA langsung kuliah, masih singel, lumayan cantik,.. tinggi semampai,.. (wah,..wah,..kok jadi ngelantur, maaf pembaca, agak ‘terbawa’ perasaan nih, hi3x). Pernyataan itu dilantarkannya tatkala kami sedang makan siang bersama di asrama kampus, ketika ia mendengar saya akan mengikuti kebaktian kharismatik yang diadakan oleh komunitas kharismatik di fakultas saya. Hampir saya tersedak mendengar ucapannya saat itu, yang terdengar begitu polos.
Pembaca yang budiman, apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah, betapa dalam kemajuan dunia modern saat ini, dimana hampir segala sesuatu begitu mudah untuk diakses, dipelajari, masih saja ada orang-orang Kristen yang berpikiran primitif dalam hal seks. Memang ini bukan didapat dari hasil penelitian ilmiah, dan hanya dari pengalaman saya pribadi saja. Namun yang jelas hal ini nyata, pernah terjadi, dan karena itu bukan tidak mungkin, terjadi juga di tempat-tempat lain. Bagaimana dengan pembaca masing-masing, pernahkan mendengar hal-hal konyol seperti pengalaman saya di atas di lingkungan pelayanan anda?
Pendidikan seks memang selayaknya diajarkan sejak dini (dimulai dengan hal yang paling sederhana tentunya), apakah itu dari lingkungan keluarga, institusi pendidikan, dan gereja (untuk pembahasan yang mendalam mengenai pendidikan seks di gereja ini, pembaca bisa menelusurinya dari berbagai karya penulis lain di blog ini). Gereja, menurut hemat penulis adalah gerbang terakhir pendidikan seks (melalui pastoral pra-nikah), sebelum dua sejoli Kristen melangsungkan pernikahan. Dan layaknya gerbang terakhir, apa-apa saja yang mungkin terlewatkan pastoral pra-nikah, mungkin akan menjadi masalah besar di kemudian hari, seperti pada contoh-contoh kasus di atas (poin no. 3 berpotensi untuk menjadi masalah).
Pada ketiga kasus di atas, saya melihat adanya indikasi pengaruh budaya Timur Kuno yang umumnya memandang seks sebagai hal yang tabu (atau bahkan jahat), dan melulu sebagai sarana untuk prokreasi (berkembang biak) saja. Dan wanita dalam budaya seperti itu umumnya juga dilihat sebagai pihak yang pasif dalam interaksi seksual, dan berfungsi terutama hanya sebagai child bearer, yang melahirkan keturunan saja. Anda juga bisa melihat tentang hal itu di sini dan di sini. Hal ini bisa kita cermati dari pertanyaan sang calon mempelai wanita, karakter istri sang bapak yang berselingkuh, dan pernyataan rekan saya tadi. Tidak heran kalau Kaum Essen (komunitas keagamaan Yahudi yang hidup mengasingkan diri di padang gurun dan menjalankan pola hidup asketisme) dulu sangat mengharamkan hubungan seks, bahkan nafsu seks dipandang sebagai “api dosa”. Dan kalaupun boleh (bagi sekte-sekte Essen tertentu), benar-benar hanya untuk menghasilkan keturunan saja, dan tidak disertai dengan pemuasan hasrat seks. Anda merasa kaget? Jangan anggap saya salah tulis pembaca, walau seks tanpa nafsu kedengarannya mustahil (lalu bagaimana bisa,…hi3x), tetapi memang begitulah adanya ideologi mereka (dan saya tidak pernah tahu hal itu berhasil atau tidak).
Dari sudut pandang Alkitab sendiri, memang banyak silang pendapat para teolog mengenai hakekat seks dalam ayat-ayat yang terkait dengan itu (seperti Yes 57:3-5; 1 Kor 7:1-9; Rom 13:13; dll), yang akan terlalu panjang untuk dibahas tersendiri di sini. Namun kita hendaknya jangan lupa, bahwa sedari awal, bahkan dari era Adam dan Hawa, ada nada-nada bahwa hubungan sekspun juga bisa dipandang sabagai sarana rekreasi (termasuk bagi wanita), yaitu dalam Kej 3:16. Jadi, kalau sebenarnya secara alkitabiahpun seks juga bisa dilihat sebagai rekreasi (Kej 3:16) selain prokreasi (Kej 1:28), permasalahan-permasalahan seperti di atas seharusnya tidak perlu terjadi, dan kitapun bisa lebih bebas mengupas hal-hal yang berkaitan dengan seks bukan? Baiklah, memang banyak faktor yang mempengaruhi pengertian seseorang tentang seks, dan banyak juga faktor yang mempengaruhi kualitas hubungan seks. Namun paling tidak jelas juga, dari pengalaman saya di atas, kalau pemahaman kuno mengenai seks sebagai hal yang tabu, jahat, hak dominan kaum pria, dan hanya untuk menghasilkan keturunan saja, masih banyak menghinggapi orang-orang Kristen sekarang ini.
Karena itu pula, untuk mengantisipasi kasus-kasus seperti di atas, tidak ada salahnya bagi hamba-hamba Tuhan, di tengah-tengah pergumulan dunia pastoral (yang seringkali menuntut seorang pendeta untuk menjadi yang serba-bisa), khususnya pastoral pra-nikah, untuk menjadi sedikit seperti Dr. Boyke atau Dr. Naek L. Tobing (dan tidak melulu berbicara mengenai hal-hal yang umum saja, seperti KB dan pemeriksaan kesehatan), agar orang-orang Kristen yang hendak memasuki jenjang kehidupan berkeluarga, bisa mendapatkan pemahaman yang benar mengenai seks. Seandainya, kalau saya adalah pendeta yang menjadi mentor saya saat itu (waktu itu saya tidak boleh menjawab, hanya mengamati saja), maka saya akan menjawab kepada calon mempelai wanita tersebut demikian: “Tidak ada sangkut-pautnya dengan dosa mbak. Soal posisi bagaimana enjoynya mbak’e dan mas’e saja, mau yang bagaimanapun ya monggo, dan jangan merasa bersalah, karena memang tidak yang salah dengan hal itu...”
(Dari berbagai sumber)
Shalom!