Submitted by Ari_Thok on

Bapakku ternyata punya sembilan saudara, sebagian besar sudah tidak ada di dunia ini lagi. Dua saudara diatas beliau sudah wafat semasa remaja, satu adik dibawahnya juga meninggal di usia muda karena sakit. Dua kakak dari adik Bapakku, yang sekarang lumpuh di kursi roda, juga sudah meninggal sejak bayi. Satu lagi kakak tepat diatas bapakku sekitar 1000 hari lebih yang lalu juga sudah meninggal. Kini, tinggal tiga bersaudara termasuk bapakku yang "nuwani" (dituakan) diantara keluarga besar. Mmm ... cerita tentang sembilan saudara yang baru malam ini kudengar dari bapakku tercinta. Cerita lanjutan yang acak dari kisah-kisah yang mulai beliau ceritakan saat ngobrol asyik dengan anaknya ini.

Malam ini sempat dengar juga cerita tentang mbah Kung (bapak dari bapak saya) katanya pernah mutung dan malas bekerja gara-gara anak nomor dua meninggal, anak yang kata bapak digadang-gadangkan (diandalkan dan disayang) mbah Kung. Mbah Kung sempat pergi jauh ke Batu (daerah wonogiri, bukan Batu Malang) untuk golek tombo ati (cari obat hati / jiwa). Yah, pokok nemoni (menemui) orang-orang pinter atau yang lebih tua dan bijaksanalah, katanya sih gitu. Cerita berakhir dengan kembalinya mbah Kung saat penjajahan jepang dimulai. Semangat kerja untuk memelihara keluarga akhirnya sudah kembali sepulang dari Batu.

Hari-hari sebelumnya sempat aku tanyakan tentang masa susah dimasa remaja bapak. Wuih .. ternyata jaman rekoso (sulit, susah). Jaman penjajahan Jepang terutama masa yang paling susah untuk cari makan. Jadi buruh pun susah. Sempat hanya makan kimpul (sejenis ubi-ubian) selama beberapa waktu lamanya. "Jelas waktu itu kurang gizi, makane bodho-bodho", hehe, gitu deh kata Bapakku. Masalah pakaian, bagor (sejenis karung) pun jadi pakaian favorite. Beruntunglah diriku karena ini sudah zaman Indonesia merdeka. "Saya ucapkan terima kasih kepada para pedjoeang dan para pahlawan yang telah berdjoeang demi kemerdekaan negeri ini. MERDEKA !! " Halah ..

Malam kemaren akhirnya aku mendapat kesempatan bisa berduaan sama bapak keliling kota Solo naik motor. Memang sengaja aku ingin ajak sih, maklum, jarang sekali beliau keluar dari rumah, maksudnya keluar yang agak jauh lah :). Setelah tujuan utama mampir di salah satu anggota keluarga Ibu untuk antar duit selesai, lalu sempat ngehik (wedangan di warung hik) sekitar sejam, perjalanan pulang aku bisa belok sedikit untuk mengajaknya keliling ke jalan-jalan utama di kota Solo. Hehe, jadi inget ojekin si Priska (tapi kali ini beda, yang dibonceng gak bawel dan gak ngeluh soal kecepatan motor yang lambat, enjoy-enjoy aja ). Ditengah perjalanan, layaknya seperti seorang guide wisata, tapi kali ini guide ojek, diriku menerangkan kepada Bapak tentang setiap jengkal yang kami lewati ini daerah mana dan perubahan-perubahan apa yang terjadi selama ini. Maklum kota Solo sekarang ini banyak sekali pembangunan, dari slogan kota kuliner sampai kota IT. Hehe, promo dikit. Makanya ke solo aja, makanan enak, murah, modern, jalanan tidak macet lagi

Sampai di rumah, hati ini rasanya senang banget, eh senang sekali. Plong plong plong kata orang Jawa. Bahagia karena bisa membuat bahagia orang tua walo hanya satu hal kecil, yang jelas tidak sebanding dengan jasa-jasa beliau saat membesarkan diriku. Btw, kedekatan dengan bapak memang aku rasakan dan usahakan beberapa bulan ini. Dan makin hari makin asyik aja (hehe, kayak stasiun TPI, makin Indonesia makin ...).Tongue out Memang waktu dulu aku orangnya tidak dekat dengan siapapun sih, clingus (pemalu) dan super introvert (pengen tahu kenapa? ya lihat aja di sini), termasuk dengan orang tuaku sendiri. Hehe, nek sekarang sih malah kebablasan, bukan hanya ektrovert lagi, tapi narsis . Ada yang bilang, cowok kok crigis (cerewet). Yah, lumayanlah banyak kemajuan, bisa ngobrol sana sini dengan bebas, bisa cari teman dengan mudah. Tuh kan .. narsisnya keluar .. Cerewet lagi .. DASAR !!

Tinggal serumah dengan orang tua ternyata tak selamanya menjengkelkan. Justru kesempatan besar bisa lebih dekat dengan orang tua, kesempatan membalas cinta kasih mereka, kesempatan mendengar lebih banyak cerita-cerita unik, lucu dan khas masa lalu. "Bapak, cerita selanjutnya masih kutunggu untuk kudengarkan lho." Hehe, "Ibu, giliranmu juga untuk cerita ke anakmu ini ya .." Pasti cerita ibuku khas dari desa Jatisobo Sukoharjo. Anakmu ini siap menjadi pendengar yang crigis Bu, eh maksudnya, pendengar yang baik dan setia.