Submitted by Ari_Thok on



Selasa pagi minggu kemaren sekitar jam 9 nan pagi, kakak dari Jakarta telepon mengabarkan berita disuruh siap sewaktu-waktu, kalau-kalau nenek meninggal. Siap-siap disini artinya siap antar Bapak ke desa untuk kumpul dengan anggota keluarga besar dalam pemakaman nenek tentunya. Ibu sudah berangkat ke desa duluan saat pagi saat aku berangkat ke kantor, karena dikabarkan nenek sudah kritis.


Sekitar jam 11 siang, ada sms masuk (sms apa telepon ya, aku lupa) dari tetangga sebelah yang masih termasuk keluarga juga, mengabarkan bahwa nenek sudah meninggal dan disuruh segera pulang untuk bersiap-siap mengantar ayah menyusul ke desa untuk acara pemakaman yang akan berlangsung jam 4 sore. Entah kenapa aku merasa biasa saja dan malah ketawa-ketiwi dengan staf kantor sebelah yang justru menggoda dengan menyuruh membawa tisu kalau-kalau aku menangis. Lantalk dari HRD juga menanyakan, kenapa aku gak sedih. Memang sudah jauh-jauh hari keluarga dah siap dan merelakan jika sewaktu-waktu nenek dipanggil yang maha kuasa.



Pulang ke rumah, mampir ke pom bensin yang masih baru (didepan SMAN 5, buat yang ingin mencoba Tongue out), tangki motor kuiisi bensin 15 ribu perak (dapatnya 2.5 liter, sekarang bensin 6 ribu ). Aku bersiap diri karena perjalanan kali ini kemungkinan akan banyak antar pulang pergi anggota keluarga besar juga, bakalan jadi ojek lah setengah hari itu.



Berangkat ke desa Jatisobo (masih masuk wilayah Sukoharjo) dengan panas terik matahari membuat kulitku yang putih ini jadi memerah (please deh Thok .. Elo kan cowok .... ). Bapak bonceng dibelakang dengan kedua tangan di pundakku. Entah kenapa kalau bonceng pasti pegang disitu, kakakku pernah tanyakan itu ke aku, tapi aku juga gak tahu, belum pernah tanya ke Bapak. Sekitar setengah jam sampai 45 menit akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Suasana gak begitu mirip dengan perkabungan. Masih cukup sepi, hanya ada beberapa anggota keluarga dan beberapa tetangga disitu yang mengurus. Tidak terlihat juga suasana sedih ataupun terdengar isak tangis dari keluarga. Semua kayaknya sudah pada merelakan nenek yang usianya mencapai 86 tahun.



Beberapa menit setelah itu, acara memandikan jenazah dilakukan. Beberapa kerabat dan anggota keluarga terlibat di situ. Aku hanya mengamati dari jauh, di kursi yang berjajar yang nantinya disediakan untuk para pelayat. Tak berapa lama, statusku sebagai ojek dimulai. Kali ini aku diminta balik ke Solo untuk jemput saudara perempuan anak dari bulikku yang masih kerja, sekalian bawa lelayu untuk dipakai sebagai ijin. Tak hanya itu, ada titipan juga lelayu untuk kerabat di Solo yang lain. Mmm .. perjalanan bolak-balik ke Solo pun dimulai.



Perjalanan pun dimulai dari menjemput saudara perempuan yang bekerja di sekitar Sekarpace. Kupikir akan cepat untuk masalah ini, tinggal bilang ke satpam, orangnya dipanggil, lalu teken corat-coret, beres. Ternyata, serasa minta ijin untuk bertemu pejabat (mungkin pejabat lebih mudah kaleee ..). Bertemu satpam di tempat parkir, lalu dihubungkan dengan satpam dalam pabrik. Habis itu baru si anak dipanggil. Motor yang sempet kumasukkan ke dalam pabrik disuruh keluar suruh nunggu disebrang jalan. Si anak harus minta surat ijin yang ditandatangani beberapa level pimpinan, mondar-sana-sini, nunggu dipanggil masuk, dst. Aku yang diluar sudah setengah jam, sejam, sampai akhirnya dua jam. Busyhet ... Sudah menghabiskan satu mangkuk soto, es teh sama tempe goreng satu belum keluar juga tuh anak dari pabrik.



Beberapa kali sms ke dia, jawabannya cuma, tunggu ya. Ditengah menunggu selain makan nasi soto, esteh dan tempe goreng, sempat ada satu rombongan pemakaman yang lewat. Maklum, pabrik itu jalur utama dimana TPU Purwoloyo berada, sekitar 100 meter lah. Kali ini jenazah diangkut dengan kereta dorong, tidak ada bis yang menyertainya, hanya rombongan sepeda motor di depan dan rombongan orang berjalan di belakang. Btw, akhirnya si anak itu keluar juga dari pabrik, dengan wajah lesu, si anak cerita betapa sulitnya ijin keluar dari pabrik. Sampai ditanya siapa nama ayah dan ibunya, untuk membuktikan apakah nama-nama itu tercantum dalam lelayu yang kubawa. Mm .. dikira penipuan kali.



Selesai itu, motornya segera diambil dari tempat parkir. Ehm, tidak segera sebenarnya, aku masih nunggu setengah jam lagi, karena parkirnya penuh didalam, satpam beberapa kali nengok aja, kok gak ya dibantu mung clingak-clinguk, sementara aku mau masuk juga pekewuh, maklum bukan home baseku ataupun kandangku. Motor berhasil keluar, cerita berlanjut sebentar untuk mengantar lelayu ke wilayah Gandekan. Kali ini cukup cepat, bisa bertemu orang yang dituju, pas saat dia naik motor keluar dari gang. Uh .. pas banget, untung tidak terlewatkan. Saatnya balik ke desa.



Perjalanan balik ke desa ini tidak seperti berangkat tadi, kali ini gak boncengin orang, jadi bisa ngebut bersaing dengan si anak atau saudara perempuan yang tadi kujemput. Lumayan, kebut-kebutan di siang bolong. Sampai di desa, suasana tak begitu jauh sewaktu tadi pertama ke situ, masih sepi. Tetapi satu jam setelah itu suasana cukup banyak berubah. Sound system mulai dinyalakan dengan kaset pembacaan ayat-ayat dari alquran. Waduh .. dengan nada yang melejit-lejit dan diterjemahkan dengan banyak kata "Sesungguhnya .. dan sesungguhnya.." membuat suasana jadi seram. Tapi setelah beberapa lama juga sudah biasa sih. Hanya masalah bahasa Arab saja yang gak biasa di telinga. Ditengah bincang-bincang dengan kerabat, sempat sekali dimintai tolong antar lelayu lagi ke rumah Pak Lurah desa sebelah (kalau gak salah), lumayan jauh juga perjalanannya, berkelok-kelok jalannya dan sepi.



Menjelang pukul 4 sore, suasana ramai sekali. Banyak orang berkerudung hitam dan putih. Suasana tidak seperti di Indonesia lagi. "Ini Indonesia apa Arab ya? " Pikirku dalam hati. Maklum aku kadang keki dengan agama yang satu ini, budaya Arab kok ya dibawa-bawa sampai Indonesia. Btw, suasana jadi rame banget, mungkin hampir satu desa tumpek breg di situ. Tepat pukul 4 jenazah diberangkatkan ke pemakaman terdekat yang jaraknya sekitar 100 meter dari rumah duka.



Nah sampai disitu dulu ah ceritanya, masih ada cerita setelah pemakaman, lalu 3 hari dan 7 hari peringatan yang berlangsung kemaren malam. Belum lagi 40 hari, 100 hari, pendak pisan, pendak pindho sampai nyewu ke depannya. Duh, banyak dan lama amat selamatannya, habisin banyak duit aja .