Sudah hampir 4 tahun ini aku beribadah ke gereja, meninggalkan cara ibadah yang sejak kecil telah diajarkan oleh kedua ibu bapakku. Dulu awal-awalnya tertarik masuk ke gereja adalah karena kedamaian yang tampaknya terpancar dari bangunan gereja dan orang-orang yang keluar masuk bangunan itu. Apalagi ketika pas Idul Fitri, halaman gereja akan dihiasi dengan baliho/spanduk besar bertuliskan "Selamat Hari Raya Idul Fitri", melihat itu bikin hati mak nyess..
Tapi setelah berkutat dengan orang orang yang "katanya" mencintai Yesus, aku melihat kesamaan dengan orang-orang yang dulu aku tinggalkan dalam keyakinanku dulu. Hari ini semakin genap perasaan itu ketika membaca polling yang dibuat sodara JF.
Jadi inget waktu dulu sekitar tahun 2001, aku ikut sholat Idul Adha di halaman Kampus Universitas Muhammadiyah Jember. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kami sholat dengan kawalan penuh aparat kepolisian. Hal ini untuk menjaga serangan dari kaum Nahdliyyin (warga NU) terhadap kami, yang kebetulan mengikuti putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah, sholat Idul Adha sehari lebih awal dari ummat muslim lainnya. Disamping waktu itu sedang marak-maraknya fatwa "halal"-nya darah Prof. Dr. Amien Rais karena melakukan Bughot (kudeta) terhadap Presiden K.H. Abdurrahman Wahid, wajar bila warga Muhammadiyah dan aset amal usaha Muhammadiyah mendapat penjagaan ekstra ketat di wilayah yang notabene warganya mayoritas adalah Nahdliyyin.
Meskipun memiliki keyakinan yang sama, baik dari segi nabi, kitab suci, dan keyakinan-keyakinan pokok lainnya, dua ormas agama di Indonesia ini jarang terlihat akur. Hal-hal yang membuat mereka bentrol seringkali merupakan hal yang sepele dan bukan merupakan masalah agama.
Kesandung oleh realitas tersebut, aku akhirnya menemukan sesuatu yang lebih indah di dalam gereja. Doktrin-doktrin "jangan menghakimi", "jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain", "jadilah pembawa damai, supaya kalian disebut anak-anak Allah" sungguh menjawab kekecewaan dan keresahan hatiku. Apalagi melihat banyaknya denominasi dalam kristen tetapi belum pernah aku dengar ummat katolik menyerang gereja kharismatik, orang kharismatik melempari gereja mormon, membuat aku semakin yakin akan pilihanku.
Dua tahun ini realitas yang dulu ada dalam keyakinanku yang lama, lambat laun mulai menampakkan batang hidungnya di lingkunganku yang baru. Dan malam ini tulisan sodara JF benar-benar telah membuka mataku. Ternyata Sama Saja!