Ini salah satu kisah hidupku yang tidak akan pernah kulupakan. Tempat tinggalku merupakan daerah pelosok bisa dibilang gunung juga
. Keluarga intiku tinggal di daerah agak kota, nah karena dulu aku agak minder, aku pilih tinggal di desa dan meneruskan smp ku di gunung. Aku tinggal bersama keluarga pakdhe. Pakdheku adalah seorang dalang yang lumayan kondang (terkenal) di daerahku. Dulu sewaktu aku masih kecil pakdheku dalang yang laris.
Seiring perkembangan jaman, wayang kulit sudah tidak banyak peminatnya lagi. Orang lebih suka dengan totonan dangdut, campur sari maupun grup musik lokal. Pakdheku menjadi penganguran, padahal yang menjadi sumber pencaharian adalah dari usaha dalang wayang kulit. Keadaan ekonomi semakin parah sawah sudah tidak punya, dengan berat hati pakdhe mulai menjual gamelan yang ada dirumah satu-persatu. Hampir semua aset-aset yang digunakan untuk mendalang habis untuk makan dan mencukupi kebutuhan. Meskipun kebutuhanku tidak masuk dalam daftar anggaran belanja mereka, tapi anak-anak pakdhe banyak banget...
.
Sampai suatu saat..pakdhe ga punya uang dan kita harus tetap makan. Biasanya mbokdhe masak nasi menggunakan ketel, dan pasti ada intip alias kerak nasi. Mbokdhe tidak pernah membuang kerak nasi itu...waktu keadaan krisis dan tidak mampu beli beras kerak nasi itu di rendam dalam air sampai lemas dan nanti akan di kukus lagi untuk dimakan. Setelah itu yang paling tragis lagi Bagong ...si wayang kulit salah satu personil punakawan itu juga direndam air panas selama beberapa jam, dan dilakukan berulang-ulang supaya lemas. Bagong itu dimasak oleh mbokdheku sebagai sayur untuk kami makan, he..he...rasa sayurnya hoeks.... ga enak tetep aja bau cat
Sebenarnya waktu makan pakdhe ku sedih sekali bagaimanapun juga bagong adalah salah satu personil wayang kesayangannya. 
Kami ingat waktu pakdhe masih laris dan kaya ... semua serba enak, pakdhe juga di hormati didesanya. Kemudian seolah dunia terbalik...dan hidup dibawah garis kemiskinan. Pakdhe hanya bisa pasrah sambil berkata kepadaku "Yoh...kaya ngene nduk. Urip kui berkah opo wae bentuk e susah, seneng kabeh kudu di tampa kanthi syukur. Pasrah karo sing ngecet lombok" terjemahan " yah... seperti ini nduk(panggilan sayang untuk anak gadis). Hidup itu berkat apa saja bentuknya entah susah, senang semua harus diterima dengan syukur. Berserah kepada yang mengecat/memberiwarna cabe" 
Yah... itu kata-kata pakdhe yang selalu kuingat, sekarang pakdhe sudah tenang disana. Pakdhe memang sudah meninggal tapi aku berharap seni dalang wayang kulit didesaku juga tidak hilang...
Submitted by
riyanti
on