Sejak mulai bekerja full time empat tahun ini, saya belum pernah mengambil cuti dari pekerjaan saya kecuali cuti sakit dua tahun lalu. Itu pun tak penuh; dari satu minggu cuti saya hanya mengambil lima hari dan segera kembali pada pekerjaan. Rehat sejenak memang merupakan hak setiap karyawan di Republik tercinta ini, namun saya amat mencintai setiap detail pekerjaan saya sehingga saya memilih untuk tidak mengambil hak itu. Namun sekuat apapun rasa cinta itu, suatu saat akan dihinggapi oleh rasa jenuh pula. Mungkin inilah filosofi yang mendasari kebijakan pemberian cuti.
Istirahat memang merupakan salah satu kebutuhan mendasar manusia. Posisi istirahat bahkan sejajar dengan kebutuhan akan makanan dan minuman. Dengan kata lain, manusia tidak akan dapat bertahan hidup tanpa istirahat. Ibaratnya telepon genggam ataupun notebook, manusia juga perlu dicharge dalam keadaan off supaya dapat berfungsi optimal. Bila mesin pun butuh istirahat demikianlah pula manusia. Tanpa istirahat, kita berpeluang mengalami kelelahan fisik maupun psikis. Saat kelelahan datang, kita menjadi rentan atas serangan penyakit dan pengendalian emosi pun akan mengendur. Secara langsung maupun tidak, kelelahan yang mulanya menjadi masalah pribadi dapat menjalar ke sektor kehidupan lain dan menurunkan kualitas hidup.
Berkaitan dengan konsep istirahat, pagi ini saat saya membaca Mazmur untuk mengawali hari, saya menemukan kata selah. Kata ini merupakan kata yang sulit diterjemahkan, namun memiliki arti yang dekat dengan stop and listen alias berhenti dan mendengarkan. Selah juga dapat diartikan sebagai doa dan hubungan. Dari kedua arti tersebut, saya menarik pemahaman pribadi bahwa selah berarti berhenti sejenak untuk menjalin hubungan yang lebih dalam denganNYA dengan mendengar serta berdoa. Bila kata selah dituliskan berulang kali dalam kitab Mazmur, pastilah si penulis benar-benar ingin menyampaikan pesan tersebut pada pembacanya.
Kita memang terkadang perlu berhenti sejenak untuk sekedar meneropong ke dalam. Menilik lekat-lekat sisi intrapersonal kita yang individual supaya kita lebih mampu melakukan fungsi interpersonal yang sosial. Berhenti bukan lalu berarti menyerah. Berhenti bermakna rehat sejenak untuk memulai lagi dengan lebih bijak. Seperti kata bijak Pengkhotbah, untuk segala sesuatu ada waktunya. Untuk itu saya mohon ijin untuk mengambil cuti dari komunitas ini barang sejenak dan kembali lagi setelah saya selesai dengan selah.
GBU
anita