Submitted by
John Adisubrata
on
SIAPA YANG MENCURI?
Saya cukup terkejut ketika membaca sebuah e-mail dari seorang rekan SABDA Space beberapa hari yang lalu yang mengatakan, bahwa saya telah dituduh melakukan ‘copy and paste’ artikel humor Tiga Orang Misionaris, lalu mem-posting-kannya sebagai sebuah artikel baru dengan mencantumkan nama saya di sana.
Sebenarnya ingin sekali saya menjelaskannya melalui kolom komentar di bawah artikel induknya, agar semua orang yang sempat membaca artikel humor tersebut bisa mengetahui duduk perkara yang sesungguhnya, di balik tuduhan yang ditujukan kepada saya untuk meragukan keaslian artikel itu. Tapi oleh karena penjelasan ini akan menjadi terlampau panjang untuk dimuat di situ, terpaksa saya harus mengirimkannya sebagai sebuah artikel blog di SABDA Space yang saya bagi menjadi dua seri.
Bagi Anda yang ikut meragukannya, saya akan berusaha untuk menerangkan sejelas mungkin asal mula tertulisnya artikel humor tersebut sesuai dengan kebenarannya. Bukankah di dalam setiap persoalan selalu ada dua pihak yang berhak untuk mengemukakan sisi mereka masing-masing?
Saya cukup terkejut ketika membaca sebuah e-mail dari seorang rekan SABDA Space beberapa hari yang lalu yang mengatakan, bahwa saya telah dituduh melakukan ‘copy and paste’ artikel humor Tiga Orang Misionaris, lalu mem-posting-kannya sebagai sebuah artikel baru dengan mencantumkan nama saya di sana.
Sebenarnya ingin sekali saya menjelaskannya melalui kolom komentar di bawah artikel induknya, agar semua orang yang sempat membaca artikel humor tersebut bisa mengetahui duduk perkara yang sesungguhnya, di balik tuduhan yang ditujukan kepada saya untuk meragukan keaslian artikel itu. Tapi oleh karena penjelasan ini akan menjadi terlampau panjang untuk dimuat di situ, terpaksa saya harus mengirimkannya sebagai sebuah artikel blog di SABDA Space yang saya bagi menjadi dua seri.
Bagi Anda yang ikut meragukannya, saya akan berusaha untuk menerangkan sejelas mungkin asal mula tertulisnya artikel humor tersebut sesuai dengan kebenarannya. Bukankah di dalam setiap persoalan selalu ada dua pihak yang berhak untuk mengemukakan sisi mereka masing-masing?
Saya menulis Tiga Orang Misionaris untuk pertama kalinya lebih dari delapan tahun yang lalu. Pada waktu itu langsung saya bagikan dalam bentuk e-mail kepada rekan-rekan seiman melalui tiga milis kristiani di Indonesia.
Ternyata versi mula-mula tersebut sempat diterbitkan, tergabung di dalam sebuah buku kumpulan ceritera-ceritera pendek di Indonesia. Kendatipun ejaan dan bahasanya diperbaiki, artikel humor itu dikutip persis sekali, kalimat demi kalimat dari awal sampai akhir, oleh seorang pengarang buku yang tidak saya kenal. Lalu diterbitkan di kota Yogyakarta pada tahun 2003, tanpa sepengetahuan saya. Pengarangnya tidak pernah meminta ijin atau menghubungi saya. Lucunya, buku tersebut di-copyright oleh mereka. Padahal saya sebagai penulisnya, yang memiliki file aslinya, tidak pernah memasang ketentuan tersebut.
Tetapi memandang semua itu melalui kaca mata kasih, … saya bisa memahami tindakan mereka. Dugaan saya, artikel humor tersebut diteruskan dari milis ke milis oleh para anggotanya saat itu juga. Dan oleh karena seringnya mengalami ‘copy and paste’, atau di-forward-kan, nama saya sebagai penulisnya akhirnya terhapus dari dalam e-mail yang memuat artikel tersebut. Oleh karena itu, … mungkin sekali … pengarang dan penerbitnya tidak bisa menghubungi saya untuk meminta ijin. Hal itu tidak menjadi masalah bagi saya, karena saya juga merasa ikut diberkati, jika artikel itu bisa menghibur hati orang lain melalui buku mereka.
Inilah versi aslinya (tahun 2000), yang saya ‘copy and paste’ seperti apa adanya dari arsip PC saya:
TIGA ORANG MISSIONARIS
Tiga orang Missionaris dari Eropah telah masuk ke pedalaman Pulau Kalimantan beberapa puluh tahun yang lalu. Mereka ditangkap oleh sebuah suku terasing disana, yang menolak Injil Tuhan Yesus Kristus. Seketika mereka diadili dan akan dijatuhi hukuman mati.
Sang Raja pada hari itu telah mengalami hal-hal yang mujur dan menyenangkan hatinya. Karena itu, sebab kegembiraannya tersebut, ia ingin memberi mereka bertiga kesempatan untuk hidup, tetapi hanya, jika mereka bisa memenangkan suatu pertandingan aneh, yang diberikan khusus untuk mereka.
Raja itu memerintahkan mereka untuk masuk ke dalam hutan di pedalaman Kerajaannya tersebut, untuk mencari sepuluh buah-buahan yang sejenis.
“Untuk apa buah-buahan itu?” bertanya Misionaris yang ketiga.
“Nanti akan saya terangkan, jika waktunya tiba. Ingatlah, jangan ada di antara kalian bertiga yang mencoba untuk melarikan diri, karena hutan itu ada di dalam awasanku!” Pesan Raja kepada ketiga Missionaris itu sebelum mereka berangkat pergi mencari buah-buahan tersebut.
Tidak lama kemudian dua orang dari Missionaris-missionaris itu kembali. Yang seorang membawa sepuluh buah mangga, sedangkan yang lainnya membawa sepuluh buah jambu air.
Tetapi anehnya, yang seorang lagi tidak nampak datang bersama-sama mereka, entah ia berada dimana?
Sang Raja memulai pertandingan karyanya itu dengan kedua Missionaris-missionaris yang sudah hadir itu. Pertandingannya sangatlah sederhana!!
Missionaris pertama harus dilempari dengan kesepuluh buah mangga yang ditemukan olehnya sendiri. Jika setiap saat ia dilempari dengan buah mangganya itu, dan ia bisa berdiam diri tanpa mengeluarkan SUARA apa-apa, ia akan selamat!
Lemparan demi lemparan dimulai. Sebenarnya ia ingin berteriak “Aduh!!” karena kesakitan, namun selalu ditahan olehnya. Tetapi pada lemparan yang terakhir, buah mangga yang besar dan sudah ranum itu tepat mengenai keningnya, sehingga getah tercampur air sari mangga tersebut mengalir turun merembes masuk ke dalam matanya, menimbulkan rasa nyeri dan sakit di dalam bola matanya. Tanpa dapat menahan refleksnya lagi, ia berteriak!
Kalahlah Missionaris yang pertama itu, dan ia dihukum mati oleh Sang Raja!!
Sekarang giliran Missionaris yang kedua, yang membawa buah jambu air itu untuk dilempari dengan buah-buahan yang ditemukan olehnya sendiri itu.
“Oh, yang ini ‘mah enteng banget! Aku tidak akan perlu berteriak apa-apa, sebab aku tidak bakalan merasa sakit oleh lemparan jambu-jambu air yang ringan itu!” Pikirnya dengan tenang. Ia merasa yakin, bahwa ia akan memenangkan pertandingan itu!!
Lemparan-lemparan yang keras dan sekuat tenaga dengan jambu-jambu air yang ringan itu tidak menimbulkan rasa sakit apapun pada dirinya. Dengan tenang ia berdiam diri, bahkan menerima semua lemparan-lemparan itu dengan wajah yang tersenyum penuh keyakinan!!
Tetapi pada lemparan yang ke delapan .........., mendadak dia tertawa keras terbahak-bahak tanpa terkendalikan lagi.
Karena ‘suara’ yang dikeluarkan olehnya itu, diapun dinyatakan gagal dalam pertandingan itu dan dihukum mati oleh Sang Raja!
Dan tentu saja ......., pada akhirnya keduanya masuk ke dalam Sorga.
Ketika mereka bertemu muka, bertanyalah Missionaris pertama kepada yang kedua: “Eh, kenapa elu jadi ‘ngikutin gue mati, nih? Bukankah buah-buah jambu air yang dilemparkan ke tubuh ‘lu itu tidak bakal membuat ‘lu sakit ataupun jadi geli?? Kenapa sih, elu kok mendadak ketawa terbahak-bahak kayak ‘gitu!?”
Jawab Missionaris kedua: “Iya ‘emangnya, ..... bener! Tetapi ‘gimana sih ......, ‘abis gue ‘ngeliatin teman kita tuh, lagi muncul dari dalam ‘utan, berat-berat ‘ngegondol DUREN gede-gede sepuluh biji!! Eh ………….., bangga lagi!!”
John Adisubrata
Mei 2000
Dan inilah versi kutipan yang diselipkan di dalam sebuah buku kumpulan ceritera-ceritera pendek yang diterbitkan pada tahun 2003, setelah di-edit oleh mereka:
TIGA ORANG MISIONARIS
Tiga orang misionaris dari Eropa telah masuk ke pedalaman Kalimantan beberapa puluh tahun yang lalu. Mereka ditangkap oleh sebuah suku terasing di sana, yang menolak Injil Tuhan Yesus Kristus. Seketika mereka diadili dan akan dijatuhi hukuman mati.
Sang Raja pada hari itu telah mengalami hal-hal yang mujur dan menyenangkan hatinya. Karena itu sebab kegembiraannya tersebut, ia ingin memberi mereka bertiga kesempatan untuk hidup, tetapi hanya, jika mereka bisa memenangkan suatu pertandingan yang aneh, yang diberikan khusus untuk mereka. Raja itu memerintahkan mereka untuk masuk ke dalam hutan di pedalaman kerajaannya tersebut, untuk mencari sepuluh buah-buahan yang sejenis.
“Untuk apa buah-buahan tersebut?” tanya misionaris ketiga.
“Nanti akan saya terangkan, jika waktunya tiba. Ingatlah, jangan ada di antara kalian bertiga yang mencoba untuk melarikan diri, karena hutan itu ada di dalam kawasanku!” pesan raja kepada ketiga misionaris itu sebelum mereka pergi mencari buah-buahan tersebut.
Tidak lama kemudian dua dari misionaris itu kembali. Yang seorang membawa sepuluh buah mangga, dan yang lainnya membawa sepuluh buah jambu air. Tetapi anehnya, yang seorang lagi tidak tampak datang bersama-sama mereka, entah ia berada di mana. Sang raja memulai perlombaan antar kedua misionaris yang sudah hadir itu. Pertandingannya sangat sederhana. Misionaris yang pertama harus dilempari dengan kesepuluh buah yang ditemukan olehnya sendiri. Jika setiap saat ia dilempari dengan buah mangganya itu, dan ia bisa berdiam diri tanpa mengeluarkan suara apa-apa, ia akan selamat.
Lemparan demi lemparan dimulai. Sebenarnya ia ingin berteriak, “Aduh!” karena kesakitan, namun selalu ditahan. Tetapi pada lemparan yang terakhir, buah mangga yang besar dan sudah ranum itu tepat mengenai keningnya, sehingga getah tercampur air sari mangga tersebut mengalir turun merembes masuk ke dalam matanya. Tanpa dapat menahan refleksnya lagi, ia berteriak! Kalahlah misionaris yang pertama itu, dan ia dihukum mati oleh sang raja!!
Sekarang giliran misionaris yang kedua, yang membawa buah jambu air itu untuk di lempari dengan buah-buahan yang ditemukan olehnya sendiri itu. “Oh, yang ini enteng! Aku tidak akan perlu berteriak apa-apa, sebab aku tidak bakalan merasa sakit oleh lemparan jambu-jambu air yang ringan itu.” Pikirnya dengan tenang. Ia merasa yakin, bahwa ia akan memenangkan pertandingan itu.
Lemparan-lemparan yang keras dan sekuat tenaga dengan jambu-jambu air yang ringan itu tidak menimbulkan rasa sakit apa pun pada dirinya. Dengan tenang ia berdiam diri, bahkan menerima semua lemparan-lemparan tersebut dengan wajah senyum penuh keyakinan.
Tapi pada lemparan yang kedelapan …, mendadak dia tertawa terbahak-bahak tanpa terkendalikan lagi. Karena ‘suara’ yang dikeluarkan olehnya itu, dia pun dinyatakan gagal dalam pertandingan itu dan dihukum mati oleh sang raja. Dan tentu saja …, pada akhirnya keduanya masuk surga.
Ketika mereka bertemu muka, bertanyalah misionaris pertama kepada yang kedua, “Eh, kenapa kamu mengikuti aku mati? Bukankah buah-buah jambu air yang dilemparkan ke tubuhmu tidak membuat sakit ataupun geli? Kenapa kamu mendadak tertawa terbahak-bahak?”
Jawab misionaris kedua: “Memang bagaimana lagi. Aku melihat teman kita saat muncul dari hutan membawa durian yang besar-besar sepuluh biji. Tampaknya bangga lagi.”
(Bersambung)
HUMOR: COPY AND PASTE (2)
MENUDUH DENGAN KASIH