Submitted by
Purnomo
on
Waktu saya tinggal di Medan, gereja tetangga mengadakan serial malam pembinaan iman bagi jemaat yang dipimpin oleh pendeta barunya. Pendeta ini pindahan dari Padang, di mana saya pernah menjadi jemaatnya sewaktu saya tinggal setahun di Padang. Karena itu saya menghadiri acara ini, sekalian temu kangen. Tidak disangka di sini saya kena semprot seorang ibu penatua.
Selesai acara ketika kami asyik berbincang-bincang, seorang ibu mendekat. Pak Pendeta memperkenalkan saya dan memberitahu bahwa saya berjemaat di gereja lain. “Oi, makan di sini, bayar di sana,” komentarnya dengan mulut cemberut. Saya tidak menjawab karena sudah terbiasa dengan kelugasan cakap orang Medan. Saya mengerti yang dimaksud. Rohani saya dikenyangkan di sini, tetapi uang kolekte saya tidak disetor di sini. Hehehe, memangnya persembahan itu uang kursus?
Dia asli Tapanuli, lahir di Medan. Dua tahun yang lalu ia dipindahtugaskan ke Jambi. Sekarang ia duduk dalam ruang kerja saya. Saya mengembalikannya ke Medan karena saya membutuhkan orang dengan karakter khusus untuk menangani pemasaran di daerah rawan dekat perbatasan Aceh. Selesai memberi briefing saya bertanya kepadanya,
“Anakmu sudah dibaptis?” Di Jambi ia menikah dan telah dikaruniai seorang putera.
“Minggu depan. Karena itu sekalian saya minta ijin untuk bertugas dalam kota dulu, karena malam lusa saya sekeluarga harus menghadiri penjelasan baptis anak di sebuah restoran.”
“Gereja kau kaya sekali. Briefing saja di resto.”
“Sebaliknya. Biaya makan ditanggung orang tua anak. Untuk baptis kabarnya saya akan dikenai persembahan khusus 200 ribu rupiah. Susah. Minggu lalu saya baru saja melunasi hutang persembahan selama 2 tahun. Ditambah persembahan pernikahan karena waktu menikah saya tidak memberitahu gereja di sini.”
“Kok begitu? Di Jambi kamu ‘kan ke gereja dalam denominasi yang sama dan pasti kamu sudah memberikan persembahan kamu di sana?”
“Tetapi saya belum mencabut keanggotaan saya dari gereja Medan.”
Bah! Persembahan macam pajak saja. Berlaku surut dan pakai denda segala.
Ketika pendeta menjelaskan persembahan persepuluhan (selanjutnya disingkat ppsp) di antara guru-guru Sekolah Minggu, seorang guru wanita bertanya,
“Apakah salah bila saya mengirimkan ppsp ke gereja asal saya di desa? Gereja ini lebih kaya daripada gereja tempat saya dibaptis itu.”
Bapak Pendeta menjawab, “Anda akan tergoda untuk memuliakan nama sendiri.”
“Tetapi saya mengirimkannya melalui sampul NN yang dimasukkan ke kantong kolekte oleh ayah saya yang masih berbakti di gereja itu.”
“Tuhan sendiri yang akan mencukupi gereja Anda itu.”
Mendung menyaput wajah gadis ini. Ia bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di SMA milik sebuah denominasi gereja. Ia menerima gaji setelah dipotong 10% untuk ppsp yang tentunya disetorkan ke gereja pemilik SMA itu. Itu diceritakan secara pribadi kepada saya. Tetapi ia tidak menganggap potongan itu adalah sebuah ppsp. Itu penjarahan. Karena itu, walaupun gaji yang diterimanya telah berkurang, darinya ia menyisihkan 10% untuk dikirimkan ke gereja asalnya.
Ketika ia menikah, saya diundangnya ke gerejanya di Kisaran yang jauhnya hampir 3 jam berkendaraan dari Medan. Gedung setengah bata, bangku-bangku kayu panjang, mimbar dengan pelitur kusam, tak ada alat musik kecuali sebuah gitar tua. Walau demikian ia memilih melakukan upacara pernikahan di gereja ini di mana ia telah dibaptis dan imannya bertumbuh. Ia sangat mencintai gereja tua dan miskin ini. Ia bangga akan gerejanya. Wajahnya berseri ketika melihat teman-temannya guru SM hadir dalam pemberkatan pernikahannya.
Di Semarang ada sebuah gereja yang sedang pesat bertumbuh-kembang sehingga banyak gereja yang mencemburuinya. Baru-baru ini seorang pengkotbah luar negeri diundang gereja ini berbicara beberapa malam dengan topik yang paling digemari orang Kristen masa kini, “hukum tabur tuai”.
“Sebagai orang Kristen Anda harus menabur, memberikan uang Anda. Banyak gereja kecil yang membutuhkan uang Anda!” teriak Sang Pengkhotbah di atas mimbar.
Wow, ini kotbah bermutu prima! Gereja besar ini ingat gereja kecil yang berkekurangan.
“Tetapi Anda tidak boleh sembarang menabur. Apa gunanya menabur di tanah yang tandus? Anda harus menabur di tanah yang subur untuk mendapatkan tuaian yang maksimal. Dan, gereja inilah tanah yang tersubur di mana sepatutnya Anda menaburkan harta Anda.”
Lho, buntutnya kok lain? Dan ia memberikan kepastian akan “tuaian dalam 24 jam”. Lalu dilakukanlah acara tabur-tuai yang mencengangkan orang yang “beriman cekak” produk gereja kuno yang kurang berani mengklem janji Tuhan (Saya tidak suka mendengar kata “mengklem” karena membuat Kerajaan Allah bagai sebuah perusahaan asuransi saja). Seorang penatua membagi “harta gereja” kepada beberapa jemaat yang dipanggil ke depan. Seorang jemaat mendapat alat pengering rambut. Tetapi ia memberikan barang itu kepada jemaat lain, karena di rumah ia sudah mempunyai barang itu. Itu artinya ia telah menabur. Apa tuaiannya? Pengkotbah segera memberinya barang lain yang lebih mahal.
Ketika Sang Pengkotbah melihat seorang jemaat mempersembahkan uang, ia memanggilnya dan memberinya 100 dolar Amrik. Itulah yang disebut “tuaian dalam 24 jam”.
Bukan main! Malam itu “mukjizat” atas penyerahan persembahan telah terjadi. Beberapa jemaat pulang membawa televisi. Karena itu bila Anda sudah bosan berjemaat di gereja Anda yang pelit, pindahlah ke gereja ini. Tidak perlu surat atestasi. Katekisasinya hanya 2 jam saja sebelum Anda dibaptis ulang, karena baptisan yang Anda terima dulu dinilai cacat.
Dan saya yakin, ppsp Anda tidak akan kemana-mana. Semuanya akan Anda masukkan ke kantong kolekte di gereja ini. Juga surat kepemilikan rumah Anda.
Demi memenangkan perebutan kantong kolekte, ada pengurus gereja yang tidak takut menciptakan ajaran baru. “Marilah kita memberkati Tuhan dengan persembahan kita,” ajak petinggi sebuah gereja menjelang kantong kolekte diedarkan, yang menafsirbebas Matius 21:8,9. Orang-orang dari gereja “primitif” yang sedang “dolan” ke gereja ini ada yang tidak berani mengisi kantong kolekte. Takut kuwalat, jeng. Jika pada Natal pertama, Allah menjadi manusia, maka pada Natal saat ini, manusia (berusaha) menjadi allah.
Apakah seluruh ppsp seseorang harus diserahkan kepada gerejanya?
Dalam setiap pembahasan tentang ppsp, pertanyaan ini selalu menyulut adu argumen tanpa akhir. Peserta diskusi terpecah menjadi 2 kubu. Dan selalu saja saya melihat, kubu yang bilang “ya” berisi para pendeta dan pengurus gereja, sedangkan kubu yang bilang “apa iya” berisi jemaat awam. Masing-masing punya ayat pamungkas.
Firstly, gereja kita sendiri.
Saya setuju banget dengan ibu sintua Batak yang menegur saya. “Kalo kau makan di sini, ya bayarlah di sini.“ Kalau kita makan minum di “kedai” ini tapi bayarnya di “kedai” itu, bangkrutlah “kedai” ini.
Bawalah seluruh ppsp Anda ke gereja Anda sendiri, supaya ada cukup uang untuk membiayai hidup pendetanya, perawatan gedung dan peralatannya, kegiatan kesaksian dan pelayanannya.
Cukup uang? Sampai di mana batas kecukupan ini? Bagi gereja yang berusaha menjadi the mega church, the sky is the limit. Batas cukupnya adalah langit, tidak ada berhentinya.
Tuhan mengaruniakan kita akal budi. Tak usah berdebat dengan orang lain. Anda sendiri bisa menentukan batas cukup bagi gereja Anda. Boleh Anda putuskan sudah cukup bila ruang kebaktian sudah full AC. Atau bila penatua sudah sanggup membelikan pendetanya honda tiger bekas agar bisa mengunjungi jemaat di pucuk gunung.
Atau, bila penatua tidak lagi menerbitkan catatan keuangan gereja. Pengalaman saya berjemaat di beberapa gereja membuktikan gereja yang rajin menerbitkan laporan keuangannya adalah gereja yang sedang berkekurangan. Kalau sudah cukup uangnya, gereja malas mengumumkannya karena kuatir jemaat tidak lagi menyetor ppsp-nya. Iya, kan?
Secondly, gereja lain.
Sebagai seorang salesman ketika bepergian mengunjungi banyak kota kecil dan desa, saya sering mampir ke gereja-gereja yang saya temui untuk melepas lelah dan menambah teman. Berbicara dengan pendeta dan pengurusnya, selalu saja hati saya galau. Di samping mereka harus berjuang mempertahankan eksistensi tempat ibadahnya, kesulitan keuangan merupakan ancaman yang sama seriusnya.
Beruntung bila gereja ini punya organisasi semacam klasis atau sinode yang memberikan bantuan bulanan. Tetapi tidak sedikit dari mereka yang harus hidup mandiri sambil menyetor 10% dari dana yang masuk kepada organisasi induknya. Kata seorang teman, itu biaya “sewa bendera”. Sementara itu di kota-kota besar, tidak sedikit gereja yang punya anggaran tahunan di atas 3 milyar rupiah tidak pernah ingat gereja lain yang kolektenya paling banyak 100 ribu setiap minggu dan sedang teraniaya.
Kebutuhan gereja-gereja kecil tidak terlalu muluk. Ada yang butuh 2 juta untuk melengkapi dana yang sudah dimilikinya untuk membelikan pendetanya sepeda motor bekas. Ada yang butuh 1 juta untuk memperbaiki atap gerejanya yang bocor. Bahkan untuk mempertahankan hidupnya tidak sedikit para hamba Tuhan di sana menjadi guru bantu SD Negeri atau berladang.
Apakah tidak ada gereja besar yang membantu mereka? Biasanya, mereka menjawab pertanyaan saya ini dengan sebuah senyum saja.
Tetapi tidak semua gereja egois kok. Di Surabaya ada gereja yang mengedarkan 2 kantong kolekte. Kantong kedua diperuntukkan untuk kebutuhan nonrutin. Sering diumumkan kantong kedua diperuntukkan untuk gereja kecil anu yang perlu dana untuk ini atau itu. Dan, puji Tuhan, respon dari jemaatnya sangat positip.
Lalu bagaimana bila gereja Anda belum berani melakukan kegiatan itu. Ya, do it by yourself-lah daripada bentrok dengan penatua dan pendeta Anda. Baru-baru ini seorang teman mengumpulkan dana guna membeli keyboard bekas untuk sebuah gereja desa di lereng Gunung Telomoyo. Mengapa tidak melalui organisasi gereja? Sulit prosedurnya karena gereja desa ini tidak satu denominasi dengan gereja kami. Tetapi aktivis ini yakin betul gereja ini layak dibantu karena pendetanya pernah lama jadi guru Sekolah Minggu di gereja kami dan dedikasi pelayanannya tidak bercacat. Tidak ada sebulan dana terkumpul dan beberapa aktivis pergi ke gereja itu membawakan sukacita besar kepada jemaat pedesaan ini.
Saya pernah membaca sebuah buletin yang diterbitkan sebuah yayasan Kristen. Setengah dari jumlah halaman buletin itu adalah laporan keuangan yang menjelaskan jumlah uang yang diterima yayasan ini dari para donatur dan ke gereja mana saja uang ini dibagikan. Seorang penerima uang ini menuliskan ucapan terima kasihnya. Ia perlu waktu 2 jam bersepeda motor dari tempat tinggalnya menuju kantor pos di kota kecamatan untuk mengambil uang itu. Dengan uang itu ia membeli susu bayi 2 kaleng dan sisanya ia belikan beras. Barang belanjaannya itu hanya mencukupi kebutuhannya selama 10 hari. Tetapi ia sangat mensyukurinya. Karena, begitu yang ia tulis, ia tidak merasa seorang diri dalam perjuangannya memenangkan jiwa buat Tuhan Yesus. Uang yang ia terima merupakan tanda bahwa banyak orang yang mendukung pekerjaannya.
Saya yakin tidak ada seorang Kristen pun yang tidak berduka bila mendengar berita ada gereja yang dihancurkan. Apakah rasa dukacita ini terbit dari hati yang mengasihi? Menurut saya, tidak sepenuhnya begitu. Dukacita itu sama dengan dukacita yang muncul bila kita membaca di koran ada bencana alam di luar negeri. Hanya sebatas kasihan saja. Sebentar, jangan marah dulu. Jikalau benar dukacita itu terbit dari hati yang mengasihi, yang care terhadap saudara seiman, pernahkah tangan kita terulur kepada gereja yang sedang teraniaya, yang sedang berkekurangan, yang pendetanya tidak tahu besok apa lauk makannya karena untuk makan sehari-hari jemaatnya bergiliran mengiriminya makanan, bahkan ada gereja tidak punya pendeta karena jemaatnya tidak mampu membiayai hidup seorang pendeta?
Mengasihi jangan berhenti pada karsa dan kata, tapi tuntaskanlah dalam karya.
Thirdly, de-el-el
“Kamu lihat gadis remaja itu? Sekarang ia duduk di kelas 3 SMP. Ibunya janda tak punya kerja tetap, adiknya dua. Sering ia diambil-paksa dari sekolah oleh ibunya untuk diajak mengemis di pecinan. Aku diam-diam membayari uang sekolahnya sejak ia kelas 3 SD sampai sekarang. Aku ingin ia meneruskan sekolahnya ke sekolah kejuruan agar setelah itu ia bisa langsung bekerja. Tapi sekolah kejuruan farmasi mahal sekali. Aku tidak kuat membayarinya lagi. Tolong kamu ke majelis minta beasiswa buat dia.”
Begitulah cerita seorang guru Sekolah Minggu kepada saya. Saya menjelaskan kepadanya bahwa gereja kami memberikan beasiswa kepada anggotanya saja. Sedangkan gadis itu belum ikut katekisasi. Jikalau diberi, itu pun paling banyak 75 ribu rupiah setiap bulan, jauh di bawah SPP yang harus dibayarnya nanti. Tetapi ia terus mendesak saya. Siapa tahu ketrampilan salesmanship saya bisa merubah peraturan gereja.
Dan benar, majelis menolak, walaupun sudah saya jelaskan gadis ini sejak kecil rajin ke Sekolah Minggu dan Kebaktian Remaja. Teman saya marah. Saya coba menenangkannya.
“Kata kamu gadis itu berkelakuan baik. Aku lihat wajahnya lumayan juga. Apalagi kalau sedang sendu dan melankolis begitu. Kan gampang solusinya.”
“Usulmu apa?” tanyanya dengan gairah tinggi.
“Begitu dia lulus SMP, kamu nikahi dia.”
Dia mengumpat berkepanjangan. Habis, mau gimana lagi? Gereja yang duitnya banyak saja tidak bisa membantu, lalu kita yang gajinya pas-pasan ini bisa apa? Tetapi ia tidak berhenti berusaha. Ia menggalang dana dari beberapa teman. “Daripada kamu memberi ppsp ke gereja pelit ini, berikan saja kepadaku,” begitulah dia membujuk sambil menodongkan Yakobus 1: 27 “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”
Dari “pembajakan” ppsp beberapa orang jemaat, gadis ini, dan kemudian juga beberapa anak Sekolah Minggu lainnya, dapat dibiayai sekolahnya. Gadis ini kemudian bekerja di laboratorium sebuah rumah sakit swasta dan berhasil mengentaskan keluarganya dari kemiskinan. Pernah dalam suatu kebaktian saya melihatnya hadir bersama suaminya. Saya berbisik kepada teman wanita di sebelah saya,
“Masih ingat siapa perempuan itu?”
“Ya. Saya senang apa yang kita lakukan dulu berhasil menolongnya. Seandainya teman kita yang edan itu tidak merampok ppsp kita, ngeri rasanya membayangkan di mana dia sekarang berada. Omong-omong, dia tahu tidak siapa-siapa yang membayari uang sekolahnya dulu?”
“Sampai kapanpun dia tidak akan saya beritahu. Dia hanya kenal saya sebagai penghubung para penyantun gelapnya.”
Gereja tidak bisa bebas merdeka dalam melakukan pelayanan dan kesaksian kepada “orang-orang luar”. Tidak jarang terjadi bantuan kemanusiaan ditolak karena membawa nama gereja. Lebih baik mati daripada jadi obyek kristenisasi, begitulah yang pernah saya dengar. Tetapi hambatan ini tidak boleh membuat kita berhenti menyatakan kasih Allah kepada dunia (Yakobus 1:27, Lukas 10:30-35). Di sinilah kita sebagai pribadi mengambil-alih peran Gereja yang terpagari tembok batas agama, denominasi, politik, dan lain sebagainya.
Tetapi berhati-hatilah. Memberi itu tidak gampang. Terlebih lagi bila tidak melalui gereja, organisasi atau yayasan. Buntut Yakobus 1:27 menyiratkan bahaya dalam memberi person-to-person, “… dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” Janganlah ketika Anda menyantuni seorang janda muncul solusi gila saya dalam pikiran Anda, “daripada ribet-ribet dan tidak optimal, bagusan gue nikahin aja dia.” Ini mah bukan memberi, tapi tabur-tuai, akang.
Godaan tabur-tuai dalam memberi ppsp inilah yang telah menjadi virus ganas dalam kantong kolekte. Well, saya rehat dulu sebelum ngegosipin virus ini di bagian berikutnya.
(selesai bagian ke-5 ”Memberi itu tidak gampang”)
Memberi itu tidak gampang,
bag.1 – Derma untuk Gereja
bag.2 – Titah Kadaluwarsa
bag.3 – Kau lah segalanya bagiku
bag.4 – Mengebiri Kitab Maleakhi
bag.5 – Berebut kantong kolekte
bag.6 – Tangan kiri tak tahu