Submitted by Mikhael Romario on

Moment of truth

Sebuah quiz yang sangat kontroversial di mana demi memenangkan hadiah utama sebesar USD 500.000, kontestan harus menjawab dengan benar 21 pertanyaan tentang pribadi atau bersifat sangat pribadi. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan turut disaksikan oleh penonton di studio, sanak saudara, teman atau sahabat, rekan kerja bahkan pasangan hidup yang  berada pada lokasi yang sama dengan sepengetahuan kontestan.

Sebelumnya, kontestan akan disuguhi sebanyak 50 sampai 75 pertanyaan seputar pribadi dengan menggunakan alat polygraph (pendeteksi kebohongan) yang hasilnya tidak diberitahu ke kontestan karena benar atau salahnya jawaban pada setiap pertanyaan yang diajukan, paduan kebenarannya adalah hasil dari test mesin polygraph itu sendiri. Kemudian dari 50-75 pertanyaan, hanya dipilih 21 pertanyaan yang akan diajukan selama permainan berlangsung. Kalau kontestan menjawab dengan jujur sesuai hasil polygraph, maka berhak untuk maju ke pertanyaan selanjutnya. Namun jika jawaban yang diberikan salah, atau menolak untuk menjawab pertanyaan, maka permainan akan berakhir. Kalau levelnya belum mencapai USD 10,000, maka kontestan tidak mendapatkan apa-apa, kecuali kalau sudah melewati level USD 25,000, meski salah atau menolak untuk menjawab, kontestan berhak mendapatkan hadiah uang tunai USD 25,000. Kalau berhasil menjawab dengan benar dari 21 pertanyaan yang diajukan, kontestan berhak mendapatkan hadiah utama sebesar USD 500,000!

Semakin lama, semakin dalam pertanyaan yang diajukan mengenai pribadi kontestan. Pernah dalam satu eposide, kontestan diajukan pertanyaan ”Apakah anda pernah menyesal menikah dengan istri anda?”. Si kontestan menjawab ’ya’ dan dia sangat senang karena jawabannya ternyata  benar.

Tidak juga kalah menarik, pada episode yang lain, kontestannya adalah seorang wanita yang ayahnya adalah seorang pendeta. Dia sendiri berprofesi sebagai model. Dengan disaksikan oleh ibunya dan juga pacarnya dia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ”Apakah anda suka menkonsumsi minuman keras?”, “Apakah anda lebih suka pergi ke bioskop daripada ikut kebaktian gereja?”. Terlihat sangat jelas kekecewaan sang ibu sewaktu anaknya mengiyakan dua pertanyaan itu yang ternyata hasilnya adalah benar. Semakin jauh, pertanyaan yang diajukan semakin ‘berbahaya’ bagi kontestan. Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat teramat-sangat pribadi karena bisa mengakibatkan ‘peperangan’ dengan teman, sanak saudara, bahkan pasangan hidup. Pertanyaan seperti ”Apakah anda pernah melakukan hubungan sex untuk karir anda?” dan tak kalah hebatnya ”Apakah anda pernah dibayar untuk sebuah permainan sex?”. Saya bingung melihat expresi wajah pasangan kontestan tatkala pertanyaan seperti itu diajukan. Kaget ketika kontestan juga mengiyakan pertanyaan itu dengan perasaan senang campur bangga karena ternyata jawabannya benar. Senang dan bangga karena jawabannya benar atau karena sudah jujur?

 

 

Damai Kristus