Submitted by
ebed_adonai
on
Beberapa minggu yang lalu, ibu saya menelepon karena ada urusan keluarga mendadak, dan meminta saya untuk segera datang ke Medan. Memang bukan urusan yang terkait dengan masalah hidup dan mati, tapi, ya lumayan pentinglah, dan tidak bisa digantikan dengan hari lainnya. Ijin sehari pun sudah cukup sebetulnya. Saya ingat, waktu itu, dengan seribu satu alasan, saya menolak permintaan ibu saya tersebut sehalus mungkin (ibu,…maafkanlah aku anakmu yang banyak dosa ini…), hanya karena satu hal konyol yang tidak bisa saya ungkapkan kepada beliau, kalau (sekarang) saya takut terbang.
Pembaca yang budiman, saya bukannya tidak pernah menggunakan jasa transportasi udara sebelumnya. Dan saya juga bukan termasuk orang yang suka mabuk udara, pengidap fobia ketinggian, atau memang dasar takut naik pesawat terbang. Jujur saja, sebenarnya malah banyak nilai plusnya menggunakan pesawat terbang untuk bepergian ke mana-mana, apalagi sekarang biayanya sudah semakin murah. Lebih cepat sampai, tidak perlu mikir untuk bawa bekal, layaknya kalau anda akan bon voyage dengan kapal selama 2-3 hari, belum lagi pelayanan pramugarinya yang ramah dan cantik-cantik, sampai-sampai dulu saya suka cari-cari perhatian dengan tidak menggunakan sabuk pengaman, supaya ada kesempatan ngobrol-ngobrol gitulah, he..he.. (tapi untuk yang terakhir ini saya koreksi sedikit, sekarang ini mereka kalau dimintai permen saja masamnya minta ampun, dan sepertinya tidak betul-betul ayu lagi seperti dulu-dulu).
Ketakutan saya itu bermula saat saya hendak bepergian dari Pontianak dengan rute Pontianak-Jakarta-Jogja tahun 2004 silam, dengan menggunakan maskapai A**M **R, disambung dengan M*R*A*I, karena penerbangan langsungnya (menggunakan B***VI*) saat itu sudah penuh. Saat itu juga merupakan pengalaman pertama saya menikmati murah-meriahnya tarif tiket pesawat, tidak seperti tahun 80-90’an dulu, saat dunia penerbangan masih didominasi GARUDA dan MERPATI. Dari Bandara Supadio Pontianak sebenarnya perasaan saya sudah agak kurang enak, melihat langit gelap diliputi awan tebal yang menggantung rendah. Apa tidak dicancel, ya, pikir saya waktu itu. Tapi karena tidak ada pengumuman lebih lanjut dari pihak maskapai, ya sudah, saya nunut saja, waktu penumpang dipersilakan naik ke pesawat.
Saya ingat persis, waktu boardingnya saja saat itu sudah mulai hujan. Tapi saya kira itu bukan masalah, karena nanti kan biasanya pesawat akan menanjak sampai ke atas awan, di atas hujan, jadi tidak-masalahlah, pikir saya. Baru saja masuk ke dalam, alamaaaak, panasnya minta ampun. Walau setelah mau take off hawanya mulai sejuk, tetap saja saya berpikir, kok agak beda sekarang, seperti numpak bis ekonomi Jogja-Smg saja. Namun karena pikiran saya sudah ingin cepat-cepat sampai saja, saya tidak begitu memasukkannya ke dalam hati dan langsung duduk di kursi untuk beristirahat sebisanya (memang malam sebelumnya saya kurang tidur). And so began the nightmare. Belum berapa lama take off, pesawat diguncang turbulensi yang kuat. Ah, sudahlah, saya percepat saja ceritanya, supaya nanti tidak terkesan menakut-nakuti orang. Yang jelas, akhirnya kami tiba juga di Soekarno-Hatta, dan saya masih harus menunggu beberapa jam lagi untuk melanjutkan penerbangan ke Jogja. Dan saat duduk-duduk itulah, sambil menahan rasa lapar (karena ternyata sekarang cuma dikasih aqu* gelas dan roti alakadarnya yang benar-benar alakadarnya), saya jadi merenung sejenak. Seingat saya, dulu, jaman-jaman saya SD hingga SMU, nyang namenye naik pesawat entu dari pertama naik sampai turun mah adem, tenang kagak pake dikocok-kocok (paling cuma geter-geter sedikit), mana pramugari-pramugarinye baek-baek, sampai-sampai saya pernah melihat (ini bener lho pembaca!) seorang penumpang iseng mencolek (maaf) pantat seorang pramugari, namun pramugari itu diam saja, malah sambil tersenyum ramah berbalik ke arah si pencoleknya, sambil bertanya,”Ada yang bisa kami bantu, Pak?”, sehingga si pencolek malah jadi tersipu-sipu malu. Saya juga ingat dulu, saking teguhnya maskapai penerbangan memegang faktor keselamatan (walau harga tiket sangat mahal), sering karena hal-hal sepele penerbangan jadi ditunda, atau bahkan kembali ke bandara, saat sudah mengudara. Padahal langit cerah, dan kelihatannya semua baik-baik saja. Namun karena sudah terlalu lelah, saya tidak sempat merenungkannya lebih lanjut, dan sibuk merogoh saku menghitung-hitung sisa uang plus koin recehan (yang sempat bikin malu saya di Supadio, karena terdeteksi detektor metal), untuk beli burger di, ah, apa namanya, saya lupa.
Akhirnya, pesawat yang ditunggu-tunggu siap juga untuk berangkat, dan saya pun boarding lagi untuk yang ke-dua kalinya. Hari sudah mulai malam. Cuaca pun semakin memburuk. Namun karena saya menganggap pengalaman sebelumnya hanyalah kebetulan semata, kali ini hati saya pun masih tetap teguh. Baiklah pembaca, (lagi-lagi) karena alasan yang sama, kisahnya pun saya percepat saja. Akhirnya pesawat mendarat dengan mulus di Adisucipto. Namun kali ini saya turun di Adisucipto dengan dengkul gemetar, begitu juga dengan seorang ibu yang kebetulan duduk satu deret dengan saya. Saya ingat, saat pesawat dimilkshake satu jam lebih di atas tadi, entah beberapa kali si ibu meremas tangan saya, saking takutnya (suaminya malah ngorok dengan pulasnya di bangku depan, dan membuat saya terkagum-kagum melihat ketenangannya itu). Sampai-sampai saya bilang ke si ibu: “Bu, jendelanya ditutup saja, nggak usah dilihat”, karena saya lihat matanya selalu melirik ke luar jendela, yang saat itu sedang hujan petir. Saya sendiri, asli, seumur-umur naik pesawat terbang, baru kali ini dari awal sampai akhir full doa “Bapa Kami” dalam hati, plus lagu “Anak Bungsu”nya Nikita, yang saya putar berulang-ulang non-stop lewat MP3 Player saya. Dan setelah mendarat, tak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Allah, sambil melangkah ke luar area bandara. Malam itu saya menginap dulu di kos saya di daerah Klitren, karena sudah terlalu malam untuk ke Jombor mencari bis ke Magelang.
Waduh, sungguh tak terkira betapa bahagianya saya, saat saya sampai di rumah keesokan harinya. Saya peluk kedua putri kami dan istri saya erat-erat (saat itu mereka belum tahu apa yang telah saya alami), seraya berjanji di dalam hati, untuk menjadi ayah dan suami yang lebih baik bagi mereka. Kalau janji mengajak jalan-jalan akan saya tepati, kalau janji mau membelikan coklat betul akan saya belikan (putri bungsu saya paling doyan jajanan yang satu ini), gak pake alasan ntar sakit gigi atau apa, tidak mau plirak-plirik sana-sini lagi, dan segudang ikrar-ikrar lainnya. Bahkan siang itu juga saya langsung ke MA**HA** untuk membelikan istri saya daster, yang entah sudah berapa lama saya janjikan untuknya, sampai dia lupa sendiri menagihnya. Pokoknya saat itu saya betul-betul sangat mensyukuri kesempatan yang Allah berikan bagi kami untuk berkumpul bersama, yang sebelumnya sering saya anggap sebagai hal yang biasa-biasa saja, setelah sekian tahun berkeluarga.
Pembaca yang budiman, saya tidak bermaksud menakut-nakuti anda dengan kisah saya di atas. Ya, saya akui, sesungguhnya sayalah yang penakut (dan ibu-ibu yang duduk di samping saya waktu itu, ha3x). Kalau anda takut naik pesawat terbang, lebih baik anda tidak usah saja sekalian naik motor/mobil. Kenapa? Karena dengan naik motor/mobil pun anda bisa juga mengalami kecelakaan. Bahkan pernah saya baca (maaf lupa dari mana), secara statistik kendaraan darat justru lebih sering mengalami kecelakaan, dibandingkan transportasi udara. Mungkin saya saja yang terlalu traumatik dengan peristiwa itu.
Namun satu hal yang menjadi catatan saya, walaupun saya bukan seorang pakar dalam dunia aviasi, dan juga tidak sering-sering menggunakan moda transportasi udara (malah sekarang untuk urusan lintas pulau saya lebih memilih naik kapal saja), jelas ada perbedaan dalam hal kenyamanan dan keamanan dalam menggunakan transportasi udara, antara dulu (tahun 80-90’an), di masa harga tiket masih mahal-mahalnya, dan sekarang, dimana harga tiket pesawat Jogja-Jkt beda-beda tipis dengan KA Eksekutif untuk jurusan yang sama. Dan memang saya juga banyak mendengar kisah-kisah yang mirip dari teman-teman saya yang lain pengguna jasa transportasi udara (namun mereka tetap berani, dan untuk itu saya acungkan dua jempol!). Saya sampai sekarang pun masih sering merasa heran kalau mengingat peristiwa itu. Lha cuaca seperti itu kok nekat terbang. Sudah terbang pun, bukannya naik ke atas awan. Kate orang nih, itu terjadi karena mereka tidak mau rugi, apalagi harga tiket sudah sangat murah. Jadi maunya dalam kondisi cuaca buruk pun dipaksakan terbang, dan selurus mungkin, tidak nanjak-nanjak, apalagi belak-belok, supaya hemat bahan-bakar. Tidak tahulah mana yang benar pembaca. Semoga sajalah, apalagi dengan kondisi dunia penerbangan kita yang kelihatannya sudah jauh membaik saat ini, keselamatan kita tidak dijadikan tumbal sebagai ganti harga tiket yang murah.
…Ladies and Gentlemen, this your captain ebed_adonai speaking…we’re at 10,000 ft now,… the weather is calm,…heading for Adisucipto Airport Jogjakarta…Please remain at seat, fasten your seatbelt, and thank you for flying with SabdaSpace Air…Enjoy your flight!...
Shalom!