Submitted by Evylia Hardy on

Kalau ibu digambarkan sebagai sosok yang lemah lembut, apa boleh buat, ibuku tidak begitu. Panjang sabar? Tidak juga. Tanpa pamrih? Standar saja, untuk bersandar di hari tua.

Kalau dengar lagu "Bunda"-nya Melly, aku rasa orang yang punya ibu seperti itu amat, sangat beruntung. Tetapi berapa banyak di antara kita yang beruntung dikaruniai ibu seperti itu?

Suatu malam ketika aku kelas empat SD ... "Mi, di sekolah temen Epi cuma satu ...." "Kamu pasti sombong! Makanya orang males jadi temenmu!" Sejak saat itu tak pernah lagi aku curhat ke ibuku.

Ibu tak pernah menemaniku bermain, juga melarangku keluar rumah mencari teman. Ibu bisa marah besar gara-gara aku tak mau menemaninya pergi. Ibu tak pernah mengambilkan raporku (kalau tidak kakekku ya pembantuku, atau tak diambil sekalian). Ibu tak tahu aku juara satu pas kelas satu SD. Ibu tak tahu aku juara dua pas kelas dua. Tapi Ibu marah waktu raporku mulai ada merahnya pas kelas tiga. Ibu tak pernah hadir menyaksikanku menyanyi di panggung dalam acara apa pun sejak SD sampai SMA. Ibu juga tak berkata apa-apa waktu kutunjukkan cerpenku yang dimuat di majalah.

Apakah Ibu tak mencintaiku? Lalu buat siapa Ibu buang keringat dari pagi sampai sore di toko? Apa Ibu tak memperhatikanku? Lalu mengapa Ibu memastikan aku punya cukup baju dan sepatu yang layak untuk ke sekolah dan ke gereja? Mengapa Ibu memastikan aku tidak kekurangan uang untuk memenuhi semua keperluanku? Mengapa Ibu melarangku pacaran melebihi jam 9 malam? Mengapa Ibu repot-repot berusaha memantau dengan siapa aku bergaul? Mengapa??

Karena Ibu mencintaiku, dengan caranya sendiri. Mungkin tidak seperti yang kumau. Tetapi dia mencintaiku. Dan aku tak perlu iri dengan ibu di lagunya Melly, karena ibuku sendiri - dengan segala kekurangan dan kelebihannya - adalah ibu yang amat berarti bagiku.