Submitted by Sri Libe Suryapusoro on

 Sangat mudah mengatakan uang bukan segalanya ketika kita memiliki uang. Mau apa saja bisa terwujud karena ada uang. Semua kebutuhan sudah terpenuhi. Rumah yang diidam-idamkan sudah dimiliki. Makanan sudah tersedia. Gaji tiap bulan sudah pasti dan memenuhi semua kebutuhan. Toh kalau masih belum cukup ada orang lain yang akan membantu perekonomian kita. Bukankah uang bukan segalanya? Itu yang saya rasakan ketika saya memiliki uang. Saya tidak pernah memikirkan secara mendalam tentang kebutuhan kehidupan kami. Walaupun gaji saya tidak terlalu banyak, tetapi bisa memenuhi semua kebutuhan kami.

Keadaan berubah ketika saya memikirkan untuk membeli rumah. Tiba-tiba kebutuhan kami melonjak karena saya membutuhkan dana segar buat uang muka. Investasi berupa sapi terpaksa saya jual. Emas yang kami miliki pun menjadi milik orang lain. Semua tabungan ditambah hasil jual sapi dan emas masih belum mencukupi. Kami masih harus berhemat setiap bulan supaya kami mendaptkan uang sesuai dengan jumlah yang ditentukan. Saat seperti inilah saya merasakan uang bukan segalanya tetapi uang sangat penting. Setiap pengeluaran harus kami hitung. Saya menjadi pelit bahkan untuk kebutuhan istri saya. Akhirnya istri saya menyadarkan saya. Saya menjadi berorientasi pada uang. Saya melakukan penghematan seakan-akan uang lebih penting dari semuanya bahkan dari dirinya sendiri. Saat itulah saya malu pada diri saya dan terinspirasi menulis bagian ini supaya orang lain tidak melakukan kesalahan seperti yang saya lakukan.
 
Jika memiliki uang sebesar tujuh puluh lima juta, apa yang akan anda lakukan? Terus terang, saya akan membeli rumah yang saya impikan. Tidak masalah jauh dari kantor saya yang penting saya memiliki rumah dan tidak lagi disuruh pindah dari rumah kontrakan. Mungkin sebagian orang akan digunakan membeli mobil, tanah, atau diinvestasikan ke suatu tempat. Teman saya memiliki pendapat yang berbeda. Penghasilannya tidaklah besar, sekitar lima kali UMR. Saat itu dia mendapatkan uang tujuh puluh lima juta. Dia memiliki anak dan istri yang membutuhkan dana tetapi belum memiliki rumah. Sudah sewajarnya uang tersebut digunakan untuk kebutuhannya. Tetapi dia justru membagibagikan uang tersebut ke orang-orang miskin. Dia memberikan semua uang yang dia terima ke orang lain. Dia tidak gunakan untuk dirinya sendiri.
 
Ternyata orang yang aneh seperti itu bukan hanya teman saya. Jika Anda memenangkan lotere sekitar seratus juta, apa yang akan Anda lakukan? Seandainya saya, saya akan membayar pajak hadiah lalu digunakan untuk mentraktir beberapa teman dan akhirnya untuk membeli rumah. Masalahnya saya tidak akan pernah menang lotere karena saya tidak pernah membeli lotere. Tetapi berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Jenny Ringstead. Saat itu dia tidak memiliki uang. Dia dan suaminya sudah menjual rumah mereka untuk pembangunan di Gambia, Afrika Barat. Mereka jatuh cinta dnegan Gambia sehingga mereka membuat proyek pusat belajar disana. Tetapi uang hasil penjualan rumah dan tabungannya tidak cukup. Ternyata disana tidak ada listrik dan air leding sehingga mereka harus membuat sendiri. Tempat yang sangat terpencilpun memaksa mereka membeli jip 4X4 karena tidak ada alat transportasi kesana. Ternyata mereka masih kekurangan sekitar 20.000 pounsterling.
 
Kemudian ketika proyek itu mencapai titik krisis dan hampir menghancurkan pernikahan Jenny dan Brendan, Jenny sedang melewati sebuah agen koran. Ia tertarik membeli lotere dengan beberapa uang receh terakhirnya. ”Apa saja patut dicoba,” pikirnya. Tetapi sesudah itu Lenny melupakan tiket loterenya. Di saat Lenny dan suaminya bertengkar karena suaminya membbeli sekaleng bir-mereka sedang berhemat- Lenny membersihkan tasnya. Dan dia menemukan tiket lotere yang sudah lusuh di dalam tas yang dibelinya tiga minggu sebelumnya. Ternyata nomor yang tertera di tiket lotere sesuai dengan nomor pemenang.
 
Segera Lenny menelpon suaminya. Brendan pun tidak kalah terkejut ketika mendengar berita itu.tanpa diskusi mereka sudah tahu kemana uang ini akan digunakan. Setiap sennya digunakan untuk proyek sukarela yang telah lama mereka ingin kerjakan di Gambia. Proyek yang terbengkalai dan mulai menjadi impian bodoh. Jenny dan Brendan menganggap uang bukanlah hal yang penting di dalam hidupnya. Lebih penting bagi mereka untuk menolong orang-orang yang ada di Gambia, daerah yang sebenarnya tidak ada ikatan dengan mereka.
 
Saat menunggu kematiannya karena kanker Randy Pausch membantu istrinya berbelanja beberapa bahan makanan. Supaya lebih cepat dia memanfaatkan jalur swapindai. Dia pindai sendiri belanjaannya lalu dia membayar dengan kartu kredit. Karena tidak ada tanda bukti yang keluar, dia menggesek ulang kartu kreditnya sesuai pentunjuk yang ada. Akhirnya dia menyadari bahwa dia membayar dua kali untuk barang yang sama. Bisa saja dia mencari manajer toko, menceritakan kejadiannya, mengisi formulir dan akhirnya mendapatkan ganti uang. Tetapi proses tersebut memerlukan waktu sepuluh bahkan lima belas menit. Randy Pausch tidak memiliki waktu sebanyak itu. Dia memilih membiarkan uangnya hilang dibandingkan kehilangan waktu sepuluh atau lima belas menit.