Submitted by
king heart
on
Tulisan ini merupakan perenungan dari perbincangan saya dengan Kiem maupun Iik J mengenai penginjilan atau tepatnya teknik penginjilan dan teknik penggembalaan menurut istilah Kiem di sini. Dari tulisan Kiem, saya menangkap bahwa agar penginjilan efektif maka diperlukan teknik teknik penginjilan yang antara lain mujizat, kesembuhan dan berkat berkat yang pada intinya bertujuan memukau yang diinjili. Ketika mereka telah menerima Injil, agar tidak membosankan yang akan membuatnya meninggalkan gereja maka diperlukan teknik berikutnya yaitu teknik penggembalaan yang dikatakannya dengan memberikan “makanan keras”.
Dari tulisan itu saya menyimpulkan bahwa penginjilan menjadi semacam umpan yang ditaruh untuk “menggoda” mangsa untuk memakannya yang kemudian jika tertangkap si mangsa yang malang ini dimasukkan ke dalam kerangkeng / kurungan atau dirantai yang imajiner yang kapanpun bisa ditinggalkan. Agar korban tidak lari maka perlu diberi “makanan keras” ( atau makanan enak ? ) sehingga korban menjadi betah dan tak akan berniat pindah / lari. Kiem jelas tidak mengakui hal ini, alih alih menjelaskan dengan gamblang, dia “menebarkan” ayat ayat Alkitab untuk menyokong pendapatnya yang bukannya menjelaskan malah membuat kabur. Jika percakapan diteruskan maka ini akan menguras banyak energi dan tetap tanpa solusi. Dia tetap pada pendiriannya dan saya bengong tetap tak mengerti ha ha ha.
Dalam teori pembukaan permainan catur dikenal pembukaan tertentu memakai nama Gambit yang bisa dilakukan baik ketika memegang buah putih maupun hitam. Nama pembukaan itu seperti Gambit Raja, Gambit Menteri, Gambit Benko, Pembukaan Spanyol varian Gambit Marshal dan lain lainnya. Konon kata gambit diambil dari bahasa Itali yang secara literal berarti mengait kaki ( lawan) dengan tujuan supaya tersandung atau nyungsep tentu saja.
Gambit dilakukan dengan memberi pion / bidak secara cuma cuma kepada lawan dengan tujuan mendapatkan keuntungan lain dari “korban” tersebut. Bagi lawan yang tidak menguasai teori catur maka dengan menerima umpan itu jelas akan fatal akibatnya. Mulai dari kalah posisi, kalah kualitas dan berujung pada kekalahan kilat yang kadang memalukan.
Hal yang lain, beberapa waktu lalu sering ada perusahaan yang membagikan / mengiming imingi entah hadiah gratis, souvenir atau banyak macam variasinya yang bertujuan menggoda calon konsumen untuk “mampir” ke counter perusahaan tersebut entah di kompleks perkantoran atau pusat perbelanjaan. Berbagai macam hadiah ditawarkan tapi ujung ujungnya dengan syarat membeli produk mereka seharga yang telah ditentukan. Tanpa membeli maka mustahil hadiah diberikan. Banyak keluhan masyarakat terhadap tingkah laku tipu daya semacam ini. Tak dipungkiri, sampai saat ini masih banyak yang menjadi korban. Praktek semacam ini sekalipun tidak melanggar hukum ( sifatnya yang tanpa paksaan ) namun jelas tidak patut dilakukan.
Kembali ke soal penginjilan, apakah cara cara semacam ini yang hendak diadopsi ? Atas nama soli Deo Gloria, Kemuliaan bagi Nama Allah cara yang tak patut ini mau dilakukan ? Tidakkah ini justru memalukan dan bahkan tidak membawa hormat bagi Allah ? Lebih jauh lagi tidakkah cara cara ini lebih menonjolkan pada kemampuan manusia semata ? Tebaran tebaran firman Tuhan di sana sini yang otak atik gatuk malah menjadikan firman Tuhan menjadi murahan dan tak berarti.
Saya percaya ketika Injil diberitakan maka si penerima Injil akan dicelikkan mata rohani begitu juga akal budinya yang menjadikannya lebih cerdas/pandai. Jika menerima Injil tapi membuat yang menerima Injil menjadi bodoh dan semakin bodoh lagi ( terpukau oleh hal hal lahiriah semata ), Injil apa yang sedang dikabarkan ?