2 Tim 1:5-6
Melalui ayat ini kita dapat melihat bagaimana Timotius belajar dan bertumbuh dalam imannya. Warisan yang ditaruhkan didalam kehidupan Timotius begitu berharga sehingga Paulus berkesan baik oleh kehidupan Timotius maupun nenek dan ibunya.
Perkara ini menjadi satu hal yang menarik ketika kita berhadapan dengan generasi saat ini. Kemajuan dan kemerosotan genereasi kita terwarisi oleh generasi terdahulu kita. Tongkat estafetnya terus berlanjut. Jika generasi terdahulu kita peka akan hal ini dan kita tanggap, maka dapat dibayangkan bahwa di setiap generasi ada gelombang rohani yang semakin kuat tentunya.
Sayang sekali perkara ini kurang di tangkap dari generasi ke generasi. Lihat saja bagaimana kita hari ini melihat puing-puing di Efesus (Turki) atau jejak gereja mula-mula yang sedemikian dahsyat kita baca di Alkitab sudah tidak tampak lagi. Warisan iman yang seharusnya melanda seluruh dunia dan memunculkan generasi Timotius.
Jika kita menganggap bahwa generasi kita adalah generasi akhir, yang artinya kita tidak meninggalkan warisan atau jejak bagi generesi selanjutnya, maka gelombang rohani pada generasi kita adalah gelombang puncak yang maha dahsyat. Namun jika ada generasi setelah kita maka kita harus meletakkan dasar, jejak dan warisan iman yang jelas dan berdampak pada generasi mendatang. Hal ini tergantung bagaimana kita menyikapi dan memandang posisi kita di generasi ini.
It is great to learn, it is not how to know the forms or steps of faith; but really live by faith with the relationship with the One who gave that faith.