Apa Itu Trinitas
Manusia dalam pencariannya akan kebenaran pasti ingin mengetahui dan mengenal yang telah menciptakan dirinya dan alam semesta ini. Karena bermunculan berbagai macam aliran kepercayaan atau biasa di kenal dengan agama. Manusia sebagai makhluk yang paling mulia yang pernah di ciptakan terus berusaha dengan segala kemampuannya untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang timbul di dalam dirinya yaitu siapa yang menciptakan alam semerta beserta isinya ini? Dari pertanyaan itu saja telah menimbulkan pertentangan yang cukup sengit antara orang-orang yang menganut faham atheis dengan orang-orang yang menganut faham religius. Namun pertentangan tentang Tuhan tidak menjadi monopoli antara orang-orang golongan atheis yang tidak mempercayai adanya Tuhan dangan orang-orang golongan religius yang menyakini adanya Tuhan.
Pertentangan lain muncul justru di antara orang-orang golongan religius yang kini telah tersekat-sekat oleh sekat yang bernama agama, padahal Tuhan sesungguhnya tidak pernah menciptakan atau menyuruh manusia untuk membuat agama. Agama di buat oleh manusia dalam rangka manusia berusaha untuk menggapai Tuhan yang Mahasuci itu, namun apa benar manusia bisa menggapai atau menghampiri Tuhan? Jawabnya jelas adalah tidak, sebab Tuhan adalah Roh sementara manusia bersifat “materi” yakni daging. Dari perbedaan yang mendasar itu saja telah jelas bahwa manusia tidak mungkin bisa menggapai Tuhan. Karena Tuhan yang Roh itu tidak mungkin di lihat atau di jamah oleh manusia, kecuali jika Tuhan itu sendiri yang berkehendak. Belum lagi jika terus di bahas akan hal yang lain lagi, misalnya ; sifat dari kedua pihak, Tuhan bersifat suci dan sempurna, sementara manusia bersifat dosa dan tidak sempurna. Suatu sifat yang bertolak belakang atau bertentangan, merupakan suatu kemustahilan bila kedua pihak itu bisa bertemu dan bersatu.
Untuk itulah Tuhan berbaik hati datang dengan kerelaanNya sendiri untuk memperkenalkan diriNya kepada manusia dalam diri Yesus Kristus yang mengambil wujud sama dengan manusia. Akan tetapi meskipun Tuhan telah berkenan memberikan kasih karuniaNya dengan datang melawat manusia, tapi tetap saja ada manusia yang tidak bisa menerima akan keberadaan diriNya. Mereka yang menolak dan bersikeras meyakini bahwa Tuhan itu tidak berwujud dan tidak berwujud manusia. Di sinilah pertentangan yang paling ekstrim terjadi yakni tentang diri Tuhan, karena akhirnya timbul pertanyaan baru lagi yaitu apakah Tuhan itu Esa / satu ? atau Tuhan itu lebih dari satu pribadi ?
Sesungguhnya manusia hanya dapat mengenal Tuhan sepanjang Ia menyatakan diri, bukan menurut pikiran atau akal budi manusia. Semua agama pada dasarnya mengakui bahwa Tuhan pencipta itu hanya satu atau Esa, tetapi di ajaran beberapa agama juga mempercayai bahwa Tuhan ibarat seorang raja yang mempunyai anak buah, yang dapat di jadikan sebagai perantara manusia untuk bertemu dengan Tuhan, sehingga harus juga di sembah atau di hormati. Ada juga agama yang beranggapan bahwa tidak ada yang lain selain Tuhan yang dapat di sembah. Dan Tuhan yang layak di sembah itu bersifat Tunggal atau Esa. Sementara iman Kristen meyakini akan Bapa, Putera dan Roh Kudus yang di kenal dengan istilah Trinitas atau Tritunggal. Ajaran trinitas atau ketritunggalan Allah bukanlah suatu kebenaran ang di perolah melalui akal budi atau yang di kenal dengan istilah teologi natural, tetapi suatu kebnaran yang dapat di ketahui melalui penyataan atau wahyu. Akal manusi mungkin dapat menunjukkan kepada kita keesaan Tuhan, tetapi ajaran tentang trinitas langsung berasal dari penyataan yang khusus. Sekalipun istilah “trinitas” tidak ada dalam alkitab, tetapi istilah ini di pakai sejak awal di dalan gereja. Bentuk Yunaninya, trias, nampaknya pertama kali di pakai oleh Teofilus dari Antiokhia. Sedangkan bentuk latinnya, trinitas, pertama kali di pakai oleh Tertulianus. Dalam teologi Kristen, istilah “trinitas’ atau tritunggal berarti bahwa ada tiga oknum kekal dalam hakikat ilahi yang satu itu, yang masing-masing di kenal sebagai Tuhan Bapa, Tuhan Anak, Tuhan Roh Kudus. Tiga Oknum ini dapat di dapat di katakan sebagai tiga kepribadian Tuhan. Ajaran tritunggal ini ada bermacam-macam pandangan di antaranya adalah pandangan Triteisme dan Sabelianisme.
Triteisme tidak dapat menerima keesaan hakikat Tuhan, dan beranggapan bahwa ada tiga Tuhan yang berbeda. Satu-satunya kesatuan antara ketiga Tuhan ini. Satu-satunya keesaan yang di akui oleh golongan ini ialah keesaan maksud dan tujuan. Tuhan tritunggal merupakan suatu keesaan hakikat maupun keesaan maksud dan tujuan. Ketiga pribadi Tuhan tritunggal itu sehakikat. Sabelianisme mengajarkan bahwa Tuhan, sebagai Bapa yang adalah pencipta dan pemberi hukum; sebagai Anak, Tuhan ynag sama itu menjelma untuk menunaikan tugas penebus; dan sebagai Roh Kudus, tetap Tuhan yang sama, namun yang kini mengerjakan pembaharuan dan pengudusan. Dengan kata lain, Sabelianisme mengajarkan tritunggal modalitas yang berbeda dari tritunggal ontologis. Modalisme yang di anut oleh Sabelianisme ini mengajarkan adanya tiga aspek tabiat Tuhan, sebagaimana halnya seseorang laki-laki bisa menjadi seorang seniman, seorang guru, dan sekaligus seorang sahabat atau ia bisa menjadi ayah, seorang putra dan seorang saudara laki-laki. Ajaran semacam ini sebenarnya merupakan penolakan terhadap ajaran tritunggal. Karena pandangan ini tidak mengakui adanya tiga pribadi dalam satu hakikat, tetapi tiga pemeranan atau tiga hubungan dalam satu pribadi.
Harus di akui, ajaran tentang tritunggal Tuhan adalah suatu rahasia yang besar sekali. Seakan-akan ajaran ini merupakan suatu teka-teki intelektual yang sulit di pecahkan atau bahkan merupakan suatu kontradiksi. Ajaran Kristen tentang tritunggal, betapapun misteriusnya bukanlah hasil pemkiran berspekulasi. Tetapi hasil penyataan Tuhan sendiri.
bersambung ke Petunjuk PL