KITA pasti sering mendengar seseorang mengucapkan kata INSYA ALLAH, ketika berjanji atau berharap pada lawan bicaranya. Ternyata kata Insya Allah ini sudah ada dalam Alkitab, tetapi kata ini tidak populer diucapkan umat Kristen, walau sebenarnya boleh-boleh saja mengucapkannya, karena Yakobus pernah menyarankan demikian.
Sebenarnya kamu harus berkata : "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." (Yak. 4:15)
Sementara dalam versi terjemahan yang lain dituliskan seperti di bawah ini.
Melainkan patutlah kamu berkata, "Insya Allah, kita akan hidup membuat ini atau itu."
KSI (2000) © SABDAweb Yak 4:15
Kalau begitu, hendaklah kamu berkata, "Insya Allah, kami akan hidup dan akan berbuat begini atau begitu."
Klinkert 1870 (1870) © SABDAweb Yak 4:15
Melainkan patoetlah kamoe berkata demikian: Insja' Allah dan kalau ada djandji kami, maka kami hendak memboewat ini ataw itoe.
Akhirnya umat mayoritas di Indonesia lebih sering menggunakannya jika terkejut akan berseru, "Masya Allah," hal ini sebenarnya ungkapan yang pernah dikatakan Bileam berabad-abad yang lalu. Sementara INSYA ALLAH sendiri sama dengan JIKA ALLAH MENGHENDAKI.
Saran Yakobus ini memang berkaitan dengan ketidak mengertian kita tentang hari esok yang akan terjadi pada hidup kita. Karena di mata Tuhan, hidup kita ini diibaratkan seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah (Yak. 4:16)
Memegahkan diri dalam kecongkakan diakibatkan kita tidak mampu menguasai reaksi negatif terhadap situasi saat kita dalam kemegahan atau berlimpah harta benda. Agar dapat menguasai situasi, paling tidak kita harus dapat menguasai diri sendiri, untuk menguasai diri sendiri tentu diperlukan ketrampilan yang tidak semua bisa melakukannya. Karena sering orang tidak sadar ketika berbuat jahat?
Berbuat jahat bisa dikatakan penyakit karena seperti orang yang kurang kesadaran serta kepekaan. Berbuat baik adalah kesadaran yang sering dilupakan orang. Padahal berbuat baik itu melapangkan hati dengan belas kasih, dan orang yang telah membuat kita penuh kasih adalah anugerah yang sering tidak kita sadari.
Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa (Yak.3:17)
Berbuat baik itu mampu menyelamatkan dunia, karena berbuat baik itu seperti cinta pada kehidupan, pada sesama manusia. BERBUAT BAIK adalah KESADARAN karena kita tahu untuk berbuat baik. Berbuat baik memang harus melepaskan segala keinginan, prasangka, ingatan, proyeksi dan cara pandang yang serba pilih-pilih. Ternyata berbuat baik ada disiplinnya juga dan begitu keras tuntutannya. Berbuat baik memang mau tidak mau harus sungguh-sungguh MELIHAT ORANG LAIN selain diri sendiri.
Apakah kita sudah tahu berbuat baik? Insya Allah!
Hah?
Semoga Bermanfaat Walau Tak Sependapat


