Aku telah membaca beberapa jilid buku Sejarah Gereja dan sempat juga membaca beberapa seri tulisan-tulisan bapak-bapak gereja, pinjam dari sebuah perpustakaan gereja. Dua hal yang aku dapat setelah membaca buku-buku itu, yaitu: "Keduniawian" dan "kebodohan".
Keduniawian yang saya maksud adalah, gereja berfoya-foya dengan anugerah Allah yang berlimpah. Misalnya, gereja terlibat dalam perbuatan yang hina, seperti peperangan dan penindasan serta menjual kebenaran demi ambisi murahan. Gereja seharusnya bisa menggunakan kemakmurannya untuk Injil, tetapi sebaliknya untuk berkubang dalam dosa. Gereja lebih buruk dari kekafiran. Sedangkan kebodohan yang saya maksud adalah, gereja berkutat di dalam lembah kekelaman sehingga terjatuh ke dalam lubang, perangkap yang dibuatnya sendiri. Misalnya perdebatan doktrin dan aturan atau tata gereja tanpa akhir. Akibatnya, gereja lupa dengan tugasnya yang utama.
Gereja Mau Kemana? Tidak jauh berbeda dengan kondisi gereja hari ini, khususnya di Indonesia. Jika pada masa-masa lalu Gereja tidak mampu memanfaatkan kekuatan yang dimilikinya dengan baik ke arah yang positif, sekarang juga demikian. Gereja memang menjadi garam, tetapi garam yang hambar; hanya sedikit 'terdengar' tetapi tidak mampu menyumbangkan solusi apapun. Jika adapun, tidak berbeda dengan tindakkan orang yang tidak mengenal Allah.
Gereja Mau Kemana? Gereja seperti seorang wartawan yang menciptakan suatu kehebohan agar ia bisa mendapat keuntungan dari kehebohan berita yang telah diciptakannya. Maksudnya, beberapa petinggi gereja, pendeta-pendeta, dan sarjana-sarjana teologi menyelenggarakan suatu kegiatan-kegiatan yang gaungnya yang besar untuk mencari keuntungan.
Gereja Mau Kemana? Di sana sini terdengar riuh gegap gempita kebaktian, peluncuran program 'berbau' rohani dan sebagainya. Para petinggi rohaniawan menyelenggarakan kebaktian kebangunan rohani yang disertai mujizat-mujizat, seperti mujizat penggandaan uang, penyembuhan kanker, penangkalan banjir, penawar narkoba dan sebagainya(?). Sehingga serigkali di jalan-jalan utama terpampang poster atau baliho tentang KKR. itu. Di salur TV. dipasanglah iklan: "KKR. Mujizat itu Nyata, Jika Anda bisa membayar karcis masuk! Doakan dan Hadirilah!"
Gereja Mau Kemana? Di gedung-gedung pencakar langit terdengar kumandang pujian dan teriakan sukacita yang disertai tepuk tangan. Tetapi semuanya hanya didengungkan oleh alat-alat musik di balik tembok bata, beton, pasir dan semen. Di tempat-tempat demikian, hadirlah orang-orang yang tidak punya semangat untuk Injil; hanya sebagai penonton dan penikmat Injil. Jika ada siapa saja yang berpartisipasi untuk suatu kegiatan, misalnya pengumpulan dana dan sebagainya; hal itu hanya untuk membayar tempat kegiatan kebaktian tersebut dan merperkaya pendetanya agar setiap kali berkhotbah ia naik sedan mahal yang bergantian setiap minggu, sepatu bermerk dari Italia, rumah 'real estate' bergaya Gothic serta istri yang modis dengan penampilan ratu sejagad sambil mengenakan pakaian kaum borjuis.
Gereja Mau Kemana? Tidak kalah menarik juga, gereja sangat kurang mengerjakan apa-apa yang perlu karena sibuk dengan urusan-urusan yang tidak perlu. Secara tidak sengaja saya mencatat ucapan temanku ini, katanya: "Gereja sekarang hanya mengurus pembesukan, ritual kematian, penghiburan, ucapan syukur dan pernikahan atau perceraian. Yang sedikit besar, biasanya mengurusi pertengkaran majelis, uang persembahan dan bentuk bangunan gereja.
Urusan yang agak besar adalah mengurus pendetanya, mulai dari pandangan teologinya sampai urusan popularitasnya di media massa. Dan urusan terbesar adalah rapat sinode untuk mendisiplinkan pendeta, memberi voucher untuk kunjungan pendeta ke Timur Tengah, menyekolahkan pendeta ke luar negeri dan mengumpulkan persembahan dari cabang-cabang jemaat guna membeli semen untuk membangun gedung pertemuan besar berkapasitas ratusan ribu orang di samping gedung-gedung dengan tower-tower pencakar langit, di mana hanya orang-orang berduit menjadi targetnya; sedangkan bagi mereka yang 'sulit' dan melarat, No Way!"
Begitulah gereja hari ini. Gereja mau kemana?
Demikian
Submitted by
Gedalia Lynch
on