1Tes 5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Ef 5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita
Sebentuk tanya menyeruak, mungkinkah…?
Ketika jalinan hari adalah alun manis kidung impian dibalut semerbak bunga mewangi, tidak sulit melantun jawab. Namun manakala kesulitan, persoalan, himpitan, aniaya, penderitaan, serta kegagalan berseliweran ramah sepanjang hari, kian memuncak hingga tiba di titik keputusasaan (meski dimaknai secara subjektif) mungkinkah berani lantang mengumandang jawab?
Sejenak mari luangkan waktu melahap sajian kisah beberapa di antara mereka…
Delapan tahun menjadi alumni, sodorkan lamaran kian kemari. Lelah menerima omelan kapan mandiri. Konsisten menaruh harap pada Sang Pemberi, sisipkan amplop atau gunakan surat sakti, tak pernah dilakoni. Namun mimpi tiap bulan teratur terima gaji, tak jua datang mengunjungi.
Usia memasuki empat puluhan. Kerinduan membuncah habiskan waktu dengan seseorang yang sedia menyatu dalam suka dan duka, kala untung dan malang. Ditingkah kasak kusuk kanan kiri, ‘kapan nih undangannya?’. Namun sang pujaan seolah tengah tersesat di belahan bumi yang lain. Hati miris menghitung hari.
Satu keluarga muda bersiap meledak dalam bahagia menanti kelahiran buah hati pertama. Mendadak terdiam dalam gamang menerima berita kecacatan tubuh mungilnya.
Seorang ibu yang terdesak oleh kepapaan dengan berat hati memberi ijin putrinya menjadi pembantu rumah tangga. Belum genap dua bulan kemudian, oleh karya alat setrika digerakkan sang nyonya, mata tuanya tak lagi mampu mengenali menggemaskan berubah mengenaskan wajah cah ayu yang dilahirkannya.
Gadis belia menjadi buah bibir bisak-bisik tetangga, meski terselip sepotong kalimat ‘kasian ya dia’. Lima pemuda tega menggilir paksa tubuhnya seolah piala. Lalu sang kekasih pergi jauhkan diri tanpa permisi, dengan alasan dirinya tak lagi suci. Membiarkan hatinya teriris perih dalam sunyi.
Seorang yang lima belas tahun bergumul dengan penyakit kanker. Harta tergadai sana sini hingga neraca minus demi kesembuhan. Doa dengan tumpang tangan hamba Tuhan sudah dilakukan. Namun matahari harapan seolah enggan silaturahmi. Sembunyi di balik awan kesakitan yang kian hari memekat. Senada dengan tatap lekat orang-orang terdekat lukiskan batin tersayat.
Bencana alam pongah merenggut orang-orang terkasih dari rangkaian manis hari-harinya. Bahkan jenasah beberapa di antaranya tak terdeteksi di mana rimbanya. Menyisakan seorang dirinya di sudut hampa sepi kesendirian.
Mengucap syukur dalam segala hal dan segala sesuatu.
Mungkinkah?