Submitted by smile on

Jadi orang kristen itu tidak semudah masuk parpol.Terlalu banyak permasalahan yang terjadi dari semua sudut kehidupan internal maupun eksternal. Dari mulai dimusuhi, dipersulit,dicurigai, sampai menjadi batu sandungan banyak orang.Ketika menjadi kristen, banyak orang yang tidak mengenal dulu ajaran alkitabnya.

Mereka masuk dulu baru belajar, bukan belajar dulu lalu tertarik dan kemudian masuk. Karena kalau melihat pembahasannya yang sangat rumit, apalagi seperti Hai Hai mengurai semua yang ada di alkitab dengan gaya kisanaknya,mau sampai berapa lama seseorang mengerti ajaran alkitab yang sebenarnya?

Mungkin hal ini memang terjadi pada semua agama khususnya kristen yang sedang saya bicarakan. Sebegitu parahkah orang-orang kristen itu? Parah dalam berpikir, parah dalam beriman, parah dalam menerima kebenaran atau parah menjadi orang yang tidak mau tahu dengan kebenaran dari kebenaran yang sesungguhnya?

Bingung dengan kata-kata saya?
Mungkin dapat saya perjelas menjadi begini.

Ketika menjadi kristen, atau mengikuti Yesus Kristus,seseorang tentunya tidak belajar dalam jangka waktu yang lama dengan membaca isi alktabnya sendiri. Mereka semuanya berjiwa fastfood. Lebih mudah, dengan cara diinjili. Yang jadi masalah ketika yang menginjilinya juga tidak menguasai alkitab. Lalu bagaimana kelanjutannya?

Tentunya si peminta yang sudah terlanjur masuk mau tak mau mencari sendiri jawaban dari  beribu pertanyaan yang berkecamuk dalam dirinya dengan membuka alkitab.

Dan ketika membuka, terjawabkah semua pertanyaan yang berkecamuk itu?

Bagaimana akan dapat menemukan jawaban jika ketika dikenalkan untuk pertama kalinya, yang mengenalkan sudah memberikan suatu standar pemikiran yang ada pada dirinya sendiri, sehingga orang yang diinjili 90% akan mengikuti
gaya orang pertama yang mengajarinya. Apa jadinya?

Ya terus bingung.
Dan buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Berkali-kali orang-orang yang katanya sangat mengerti alkitab seperti contohnya Hai Hai berkata ALKITAB BUKAN UNTUK DITAFSIR TAPI UNTUK DIPAHAMI.
Bisakah memahami alkitab dengan IQ orang yang berbeda-beda?

Bisakah semua orang menjadi seperti Si Hai Hai?
Saya rasa tidak bisa.

Kekristenan tidak bisa menjamin seseorang pasti masuk surga. Kekristenan hanya salah satu jalan untuk bisa mengetahui apa sih yang namanya beragama, dan bagaimana mengenal Tuhan masing-masing.

Kekristenan banyak menjadikan batu sandungan untuk kehidupan banyak umat manusia. Untuk itu, jika kira-kira tak bertekad mempelajari kristen dengan iman percaya, dan tidak berjiwa kasih lebih baik mengundurkan diri saja.

Kenapa saya katakan demikian?

Apakah kalian tidak takut melihat seorang Hai Hai terus berbicara tentang segala sesuatu yang bertentangan dengan pikiran para pengerja kekristenan itu sendiri?
Yang mau tidak mau mengusik pendirian dan keyakinan kalian terhadap sesuatu yang sudah lama kalian yakini?

Apakah kalian bisa menjadikan kasih sebagai dasar pertama untuk menjalani kehidupan ini?
Contonya, dengan mengampuni?
Mengapa saya katakan mengampuni, bukan memaafkan?
Karena memaafkan belum tentu mengampuni dan membuang semua kesalahan orang sehingga tidak diingat lagi, akan tetapi jika mengampuni pasti memaafkan dan membuang semua kesalahan orang sehingga tidak mengingat bahkan mengungkitnya lagi.

Bisakah kita membagi waktu kehidupan kita untuk Tuhan dan untuk kehidupan pribadi kita dengan baik?

Banyak anak pendeta atau pengerja di gereja yang menjadi frustasi dan merasa tersisihkan serta tidak diperhatikan ketika orang tua mereka lebih mementingkan semua kesibukan gereja daripada meluangkan waktunya bersama mereka.

Dan ketika orang lain melihat hal tersebut terjadi, contohnya orangtua kita, yang dikatakan nenek atau kakek dari anak-anak kita, kemudian mencemooh, dan menganggap kita orangtua yang tidak mengenal kasih, dengan tidak peduli kepada anak, dan hanya peduli kepada Tuhan. Lalu ujung-ujungnya mereka akan mengatakan, begitu yah orang kristen?

Ketika ada pegawai kita yang menipu duit setoran bosnya, lalu bosnya yang kristen dengan serta merta tanpa kasih langsung melaporkannya kepada aparat kepolisian dan kemudian memecatnya tanpa ada ‘rasa kekeluargaan’ , lalu kemana standar kasih itu berarti untuk kita?

Sebenarnya apa yang perlu dilakukan ketika seseorang berada dalam naungan kekristenan?

Terus berjalan dengan cuek dan tak usah menghiraukan orang-orang seperti Hai Hai sekalipun sesungguhnya dia benar?

Terus diam karena sudah dalam posisi pewe?

Tak peduli karena sudahmengerti segala sesuatunya dengan pengertiannya sendiri, atau dengan pengertian dari pendahulu-pendahulunya?

Standar boleh saja kasih, tapi perbuatan nyata adalah dengan standar gigi ganti gigi dan mata ganti mata?

Masih tetap mau menjadi kristen?
PIKIRKAN LAGI MASAK-MASAK..

Orang mengajarakan orang untuk masuk memeluk agama tertentu, tapi saya terang-terangan mengajak anda untuk memikirkan lagi masih maukah menjadi kristen dengan segudang misteri yang tidak mudah untuk dipahami?

Saya tidak mau meniru umat lain yang memperguncingkan masalah GKI Yasmin, yang melarangnya beribadah sampai dengan sangat mengenaskannya beribadah dipinggir jalan.

Saya tidak mau meniru ucapan yang sangat baik dan menginspirasi menurut saya yang berkata : Bila mau orang-orang Kristen itu TIDAK Kristen, BERDAKWALAH!
sumber ; disini

Tapi saya lebih menegaskan lagi jika kira-kira tak sanggup dengan semua ketidak mungkinan yang ada dalam ajaran kekristenan, beralihlah ke agama lain yang lebih realitistis dan mudah untuk dipahami.

Tapi jika ingin terus,kuncinya cuma satu. Milikilah kasih, itu saja.


by smile

22 Maret 2012