
- Ibadah Bagimu Negeri. Foto:Purnawan
Calpurnia Pisonis memohon suaminya agar tidak memenuhi undangan para senator. Dia memiliki firasat buruk yang akan terjadi pada suaminya, yaitu Julius Caesar, penguasa tertinggi kerajaan Romawi. Meski demikian, Julius Caesar tetap membulatkan tekad untuk hadir karena sudah menjadi kewajibannya. Memasuki ruang senat, Julius melihat wajah politisi yang tegang. Julius Caesar berusaha memaklumi situasinya. Dia merasakan para politisi itu memang tidak menyukai kebijakan yang diambilnya. Dengan penuh percaya diri, Julius Caesar menyapukan pandangan ke seluruh hadirin. Dia melihat Marcus Junius Brutus, sahabat karibnya, juga hadir. Julius Caesar pun merasa tenang. Setidaknya ada satu orang yang mendukungnya.
Julius Caesar lalu menyiapkan diri untuk menerima cecaran para politisi. Tapi tiba-tiba, senator Publius Servilius Casca Longus menggebrak bahunya dari belakang. Julius Caesaer limbung kehilangan keseimbangan. Seperti dikomando, senator yang lain mengeluarkan senjata dari balik toganya dan menikam sang kaisar. Julius Caesar terkejut. Tiba-tiba ada kilatan sebilah senjata mengarah tubuhnya. Pangkal senjata itu dipegang oleh Marcus Junius Brutus. Julius Caesar tidak menyangka bahwa orang kepercayaannya justru mengkhianati dirinya.
Dengan menyeringai menahan sakit, Julus Caesar berseru "Et tu Brute?"
Itulah kata-kata terakhir Julius Caesar sebelum akhirnya tewas pada tanggal 15 Maret tahun 44 SM.
****
Entah mengapa kisah pengkhianatan Brutus itu tiba-tiba muncul kembali dalam ingatan ketika saya mengikuti ibadah "Bagimu Negeri" yang diselenggarakan oleh jemaat GKI Bapos Taman Yasmin, Bogor dan HKBP Filadelfia, Bekasi yang mengambil tempat di seberang istana negara, 13 Januari 2013.
Ibadah yang dihadiri oleh ratusan jemaat itu dimulai pada tengah hari. Cuaca yang tidak menentu tak menyurutkan jemaat untuk bertemu dengan Tuhannya. Mereka duduk di atas kursi plastik yang dibawanya sendiri. Sebagian duduk lesehan begitu saja di atas hamparan aspal. Untuk mengurangi sengatan sinar matahari, mereka membawa payung dan topi.
Firman Tuhan disampaikan oleh pdt. Luspida dari HKBP Ciketing yang mengupas tentang Yohanes Pembaptis. Bangsa Israel saat itu sedang dijajah oleh bangsa Romawi. Mereka mengalami ketidakadilan dan penindasan. Karena itulah, mereka menantikan kedatangan sang pembebas yang akan memimpin mereka untuk berperang melawan tentara Romawi. Ketika Yohanes Pembaptis hadir di ruang publik untuk menyerukan pertobatan, bangsa Israel mengharapkan bahwa Yohanes inilah yang akan menjadi sang pembebas itu. Akan tetapi Yohanes Pembaptis menolak harapan mereka karena sesungguhnya dia hanya pembuka jalan saja. Sang Pembebas yang sesungguhnya akan datang setelah dia.
- "]

- Pdt. Luspida [foto: Purnawan
Dalam khotbahnya, pdt. Luspida mengajak jemaat agar tidak meletakkan pengharapan kepada manusia, termasuk pula kepada penguasa karena kekuasaan mereka terbatas. Tidak ada manusia yang abadi. Karena itulah, jemaat perlu menyandarkan diri hanya pada Allah. Pendeta perempuan ini menceritakan bahwa dia juga pernah mengalami ketidakadilan ketika HKBP Ciketing diintimidasi oleh kelompok intoleran. Meski demikian, mereka tidak menjadi putus asa karena memiliki pengharapan di dalam Allah.
Usai ibadah, jemaat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, Andi dari Komnas Perempuan memberikan orasi untuk mendukung perjuangan mereka. Sebelum berorasi Andi mengajak hadirin untuk menyanyikan lagu "Maju Tak Gentar." Komnas Perempuan memberikan perhatian dan dukungan karena sebagian besar jemaat yang beribadah di seberang istana negara ini adalah kaum perempuan. Andi mengajak mereka agar tak mudah menyerah karena perjuangan mereka bukan sekadar untuk mendapatkan kembali tempat ibadah, tetapi juga untuk kepentingan bangsa dan negara.
- "]

- Khusyuk beribadah [foto: Purnawan

- Jerry Sumampouw dari PGI foto:Purnawan
Setelah itu Jerry Sumanpouw dari PGI (Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia) juga memberikan sambutan singkat. Isi sambutannya tak jauh berbeda dengan yang diucapkan oleh Andi dari Komnas Perempuan. Akan tetapi kehadiran utusan dari PGI ini menyampaikan pesan yang istimewa, yaitu memberikan dukungan kepada perjuangan GKI Yasmin. Mengapa demikian? Karena ketika PGI mendukung perjuangan GKI Yasmin, ada petinggi di GKI sendiri yang malah menentang perjuangan GKI Yasmin.
Bermula dari pencabutan IMB oleh walikota Bogor, kisah ini dimulai. Jemaat Taman Yasmin adalah Bakal Pos dari GKI Pengadilan, Bogor. Pada periode masa jabatan pertama, walikota Bogor memberikan izin untuk pendirian gedung gereja di perumahan Taman Yasmin. Namun pada periode kedua, walikota Bogor mencabut IMB dan menyegel gedung gereja itu. Saat itu walikota Bogor mempersilahkan jemaat GKI Yasmin untuk menggunakan jalur hukum jika tidak puas dengan keputusan itu. Sesuai dengan saran walikota, maka jemaat Taman Yasmin menggugat pencabutan itu dan mereka memenangkan perkaranya sampai tingkat Mahkamah Agung, bahkan sampai dengan Peninjauan Kembali. Dalam amar putusannya, MA memerintahkan agar walikota Bogor membuka segel gereja agar bisa digunakan untuk beribadah. Keputusan itu diperkuat dengan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Lembaga Ombudsman RI.
Alih-alih menaati putusan hukum, walikota Bogor belum juga membuka segel tersebut. Selama berminggu-minggu Jemaat GKI Yasmin hanya bisa beribadah di trotoar depan gereja. Situasinya semakin runyam ketika kelompok intoleran masuk dalam konflik ini. Untuk menghindari kekerasan fisik, maka merekaberibadah di seberang istana negara sembari mengetuk kepedulian presiden RI bahwa ada walikota di Indonesia yang tidak taat hukum.
- "]

- Ibadah lesehan [foto:Purnawan
Solusinya sebenarnya sudah jelas: Buka segel di gereja Taman Yasmin. Itu adalah perintah dari Mahkamah Agung. Meski demikian, walikota Bogor masih melakukan manuver yakni menawarkan relokasi. Akan tetapi GKI Yasmin menolak tawaran ini sebab mereka ingin taat hukum.
Lalu terjadilah situasi seperti yang dialami oleh Julius Caesar. Petinggi GKI yang seharusnya menjadi pendukung utama GKI Yasmin, justru berbuat sebaliknya. Mereka membubarkan pengurus GKI Bapos Taman Yasmin dan melarang jemaat beribadah di seberang istana negara. Lalu dengan dalih sedemikian rupa, petinggi GKI ini menerima tawaran relokasi itu.
Selama sebelas tahun GKI Yasmin berjuang agar bisa beribadah di gerejanya sendiri. Selama rentang waktu itu, petinggi GKI ini tidak begitu peduli. Namun entah mengapa setelah ada tawaran relokasi, mereka tiba-tiba muncul. "Mereka seperti penumpang yang menunggu di tikungan terakhir," kata salah satu jemaat dengan getir.
Perjuangan GKI Yasmin bukan sekadar upaya untuk mendapatkan kembali tempat ibadah. Upaya mereka adalah simbol gerakan masyarakat untuk menegakkan keadilan di bumi Pancasila. Ini adalah kesempatan bagi GKI menorehkan sejarah emas sebagai pihak yang turut memajukan hak asasi manusia di Indonesia. Pada zaman dulu, GKI telah turut mempersembahkan seorang Yap Thiam Hien yang ikut memajukan penegakan hukum di Indonesia. Kiranya semangat Yap Thiam Hien itu juga menginspirasi GKI untuk selalu patuh pada hukum; bukan malah mengakalinya dengan berbagai dalih.
***

"Et tu, Brute" itu artinya "Engkau juga Brutus?"
Dengan hati perih Julius Caesar hendak menyampaikan pesan, "Kamu adalah sahabat yang kupercayai, tapi mengapa kamu ikut mengkhianati aku?" Suasana batin serupa dialami oleh jemaat GKI Yasmin. Selama bertahun-tahun mereka mampu menhadapi cercaan dan intimidasi dari luar dengan tabah. Namun ketika pihak yang diharapkan membela justru melawan, maka perjuangan GKI Yasmin semakin berat.
Penafsir lain memberikan perspektif baru soal ucapan ini. Penafsir itu mengatakan bahwa Julius Caesar hendak menyampaikan pesan kepada Brutus, "Suatu saat kamu juga akan dikhianati." Jangan pernah bekerja sama dengan komplotan orang yang mengajakmu berkhianat karena suatu saat mereka tak segan-segan akan mengkhianatimu jika mereka tidak butuh kamu lagi.

/

Tulisan ini adalah pendapat saya pribadi. Tidak mewakili pandangan gereja saya atau isteri saya.