Akhirnya aku menemukan referensi tentang istilah haram dan najis. Akhir pekan ini aku mencari-cari di perpustakaan kantor, buku yang kutemukan adalah sebuah buku berjudul "Pengenalan Pentateukh" karya Herbert Wolf. Aku juga mendapat sebuah ensiklopedia berjudul "The Encyclopedia of the Jewish Religion."
Secara umum, topik kenajisan dan kecemaran dalam hubungan dengan makanan, penyakit kulit, dan lelehan dalam tubuh dibahas dalam Imamat pasal 11-15. Walaupun kecemaran tersebut tidak sama dengan keadaan berdosa, kecemaran itu melambangkan dosa dan kenajisan. Seorang yang kena penyakit kulit atau lelehan dari tubuhnya harus dibersihkan atau ditahirkan melalui upacara-upacara khusus.
Menurut Herbet Wolf, tahir dan najis berhubungan dengan konsep kudus dan duniawi (Imamat 10:10), semua kata ini digunakan dalam pengertian keagamaan maupun moral. Dalam Yosua 22:19; Amos 7:17, dimana dikatakan tanah yang najis adalah suatu negeri penuh dosa atau negeri penyembah berhala. Tetapi dalam Bilangan 6:7 kita melihat orang juga bisa menjadi najis hanya karena menghadiri upacara penguburan.
Dalam buku yang diterjemahkan dari buku berjudul "An Introduction of the Old Testament Pentateuch" ini, dikatakan, pentahiran mempunyai kata dasar "kemurnian", digambarkan oleh lapisan emas murni yang melapisi tabut perjanjian dan meja roti sajian (Kel 25:11, 24), pengertian kedua adalah "sehat", "utuh", "lengkap", digunakan melalui contoh peraturan-peraturan bagi penderita penyakit kulit yang dianggap najis.
Ingat cerita Naaman? Ia sembuh setelah membenamkan diri di sungai Yordan. Tubuhnya menjadi tahir (2 Raj 5:14). Dalam hubungan dengan najis dan tahir ini, seorang imam memeriksa seorang yang baru sembuh dari penyakit kulit supaya bisa menyatakan orang itu tahir atau najis.
Najis juga menimpa kaum perempuan dari segi upacara keagamaan selama masa haid atau beberapa bulan setelah melahirkan. Bahkan hubungan seksual membuat suami istri najis hingga sore hari (Imamat 15). Walaupun demikian, buku ini tetap mengingatkan hubungan seksual setelah menikah atau melahirkan bukan merupakan dosa walaupun mengakibatkan kenajisan.
Najis dan berdosa memang tidak sinonim, tetapi keduanya dapat disamakan secara metafora. Pada waktu Yesaya mendapat penglihatan dari Allah, ia menggambarkan dirinya sebagai "seorang yang najis bibir" (Yes 6:3)
Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam."
Sumber utama kenajisan di Israel adalah pemujaan berhala. Penyembahan berhala dan patung merupakan dosa yang paling buruk. Dan berulang-ulang negeri itu harus ditahirkan dari kejahatan tersebut. (2 Taw 34:3-4; Yes 2:23)
***
Lalu bagaimana dengan haram dan halal? Dalam Imamat 11 dan Ulangan 14, Musa membedakan antara makanan yang halal dan yang haram. Makanan yang bisa dimakan disebut halal, dan makanan yang tidak boleh dimakan disebut haram. Para sarjana berusaha mencari alasan untuk hal ini, dan sampai sekarang paling tidak mereka memberi empat alasan, yaitu:
Alasan pertama, perbedaan antara binantang haram dan halal bersifat sewenang-wenang, diberikan hanya untuk menguji ketaatan bangsa Israel terhadap Allah mereka. Alasan ini tidak terlalu banyak diterima walaupun beberapa rabi menyetujuinya.
Alasan kedua, perbedaan antara binatang haram dan halal dirancang untuk menjaga agar Israel terpisah dari praktek-praktek penyembahan berhala. Sebagai contoh, babi digunakan untuk penyembahan kepada dewa-dewa dunia orang mati, dan dipakai dalam upacara keagamaan orang Kanaan. Alasan ini sebenarnya bisa diterima jika lembu jantan dianggap haram. Masalahnya binatang ini bahkan dapat dipersembahkan di atas mezbah, padahal lembu jantan biasa digunakan juga dalam penyembahan orang Mesir dan Kanaan.
Alasan ketiga, perbedaan haram dan halal dibuat karena alasan higienis. Binatang-binatang dan burung-burung yang haram lebih sering membawa penyakit. Sebagai contoh, babi membawa beberapa organisme parasit yang dapat menyebabkan infeksi serius pada manusia (seperti cacing pita). Sebagian burung yang disebut haram memakan bangkai dan dapat menyebabkan infeksi. Ikan tidak bersisik sering memakan kotoran dan mengandung banyak bakteri berbahaya.
Walaupun faktor kesehatan dapat menjelaskan mengapa beberapa jenis makanan dicap haram, alasan ini tidak berlaku untuk semua jenis. Dan jika kesehatan menjadi alasan, mengapa Tuhan Yesus menyatakan semua makanan halal dalam Perjanjian Baru? (Mrk 7:19). Apakah hukum kesehatan tak perlu pada abad pertama masehi?
Alasan keempat, alasan kenormalan. Menurut Antropolog Mary Douglas, binatang, burung, dan ikan halal ialah binatang yang menyesuaikan diri sepenuhnya dengan golongannya, sebagai contoh, serangga-serangga yang terbang, yang berjalan dengan keempat kakinya memperlihatkan kebingungan di antara dunia burung dan dunia serangga, sehingga bukan merupakan anggota murni dari golongannya. Pendekatan ini berlawanan dengan kisah penciptaan, dimana semua ciptaan Allah itu baik.
Dalam buku yang diterbitkan oleh penerbit Gandum Mas ini, dikatakan ada kebenaran dalam penjelasan-penjelasan di atas. Kita tidak perlu memilih hanya satu alternatif sebagai yang paling tepat. Yang pasti, dengan menaati peraturan-peraturan ini dan semua hukum lainnya yang terdapat dalam Pentateukh, orang Israelpun dapat menjadi suatu bangsa yang kudus, yang menikmati kehadiran Allah yang kudus.
Ketika membaca beberapa bagian dalam buku "The Encyclopedia of the Jewish Religion" aku hanya dapat mengatakan masalah haram dan halal dalam tradisi Yahudi sumbernya memang diambil dari aturan yang ditetapkan dalam kitab Taurat atau kitab Musa atau Pentateukh.
***
Masalah najis dan haram sesuatu yang sepertinya sangat berat, dan aku merasa tidak mampu menulisnya dengan baik. Aku harap ada blogger lain yang menambahkan, termasuk membahas haram dan najis itu dalam konsep yang lebih luas.
Termasuk menjawab komentar seorang yang telah membaca blog ini. Apakah setelah kedatangan Yesus hukum najis haram masih berlaku? Dalam hal makanan hal ini pernah dibahas dalam Perjanjian Baru, namun kadang ada orang kristen yang mengabaikan beberapa hal, mereka lupa bahwa najis dan haram bukan hanya soal makanan.
Ada yang berkata, untuk kesekian kalinya blogku terlalu dangkal.