Submitted by mujizat on

Alkitab Firman Allah memberi informasi bahwa ada dua pihak yang berkepentingan dengan manusia, yaitu Allah (Elohiim) dan Iblis. Allah sebagai pemilik manusia dengan hak penuh atas setiap pribadi manusia, sedangkan Iblis sebagai penggoda manusia dengan tujuan menjauhkan manusia dengan Allah, dan kehilangan persekutuan indah dengan Allah. Saya berpikir, jika hanya ada Allah, maka hanya ada satu tuntunan (baca = agama), tetapi dengan keberadaan pihak "kedua" yaitu si penyesat, maka karena itulah ada "tuntunan-tuntunan" lain yang saling berlomba dengan tuntunan Allah, yaitu petunjuk SEJATI yang benar-benar dapat menuntun manusia mengenal Allahnya dengan benar, agar terjadi persekutuan yang indah dengan Allah, dan keberadaan "agama2 palsu" itulah yang seringkali dapat membingungkan umat manusia. Karena "dagangan Iblis" mungkin saja berlabel "Asli dari Tuhan".



Tetapi apakah menyalahkan Iblis sebagai "penjaja barang palsu" cukup menyelesaikan masalah? Atau dengan mengkambing hitamkan Iblis akan membuat seseorang dibenarkan di hadapan Allah?


Kitab Ayub cukuplah mengajar manusia bahwa tanpa seijin Allah, maka Iblis pun tak dapat "menyentuh" manusia untuk menggodanya. Lalu apakah sekarang gantian Allah sebagai "kambing hitam" lantaran mengijinkan aktivitas Iblis dkk?


Menurut hemat saya, Tuhan ijinkan Iblis menggoda manusia untuk "melihat" atau "menguji" sampai dimana tingkat kesetiaan ciptaan-ciptaan-Nya itu, yaitu manusia kepada Tuannya sendiri, yaitu Allah. Di sinilah peran freewill yang diterapkan Allah, yang berdasarkan peran inilah dapat nyata keadilan Allah.


Namun Allah juga melengkapi manusia dengan "hati", yang sebenarnya adalah pikiran juga. Jadi, hati dalam hal ini - mengutip paparan seorang Injili - bukan liver yang ada di dekat jantung, namun adalah pikiran yang menempati ruang bernama "otak manusia". Dan di dalam otak itu juga terletak "hati nurani" yang diberi kemampuan untuk menguji sesuatu masukan.


"Hati nurani" yang masih sehat akan terusik jika ada tindak ketidak-adilan. Itulah hebatnya Allah yang memberikan semacam "indera ke sekian" berupa hati nurani.


Saya juga berpendapat bahwa sebenarnya hati nurani tak akan berbohong. Jika seseorang sanggup berbohong, maka menurut hemat saya, dia sedang "memperkosa" hati nuraninya sendiri. Sepertinya, keseringan "memperkosa" hati nurani lah yang membuat hati nurani seseorang menjadi "tumpul" sehingga sepertinya tidak lagi memiliki hati nurani.


Sebelum bertobat, Saulus sepertinya keracunan dengan dogma yang salah, sehingga kedatangan Mesias yang digenapi oleh Yesus malah ditolak, oleh racun dogma lama dia. Saulus boleh jadi menjadi contoh seseorang yang hati nuraninya sempat terbungkam, ketika ia dkk menganiaya jemaat Tuhan yang "tidak berdosa". Karena yang dilakukan oleh murid2 Yesus adalah perbuatan baik semata, namun dogma yang saat itu dia anut begitu membuatnya yakin bahwa "sekte" Yesus adalah pemerkosaan terhadap hukum2 taurat , tetapi ia dkk mengabaikan fakta bahwa kuasa Allah yang diperagakan oleh Yesus Kristus dan murid2-Nya cukup menjadi bukti bahwa Allah turut bekerja dalam pelayanan "sekte" Yesus itu.


Lalu ketika Yesus Kristus menemui Saulus di jalan menuju Emaus, dimana Yesus "menjumpai" Saulus, maka pertemuan itu telah "membunuh" Saulus; bukan mdalam arti terpisahnya roh dengan raga, melainkan terbunuhnya "manusia lama" Saulus yang telah diracuni oleh dogma-dogma. Peristiwa perjumpaan itu sekaligus telah membangkitkan Saulus menjadi manusia baru, dengan hati nurani yang baru, yang tidak terkontaminasi dengan dogma-dogma yang salah. Jadilah ia siap menjadi seseorang yang diutus Tuhan (rasul).


"Iman baru" yang dimiliki Saulus yang kemudian berganti nama menjadi Paulus, jelas merupakan anugerah Allah, dan sama sekali  bukan hasil usahanya.


Sepertinya, saat ini sudah terlalu banyak manusia2 yang "bernasib sama" seperti Saulus yang terkontaminasi atau ter racuni oleh "agama2" yang salah, yang saya yakini merupakan produk Iblis.


Siapa yang salah? Iblis yang "menjual barang palsu" ataukah Tuhan yang mengijinkan Iblis "berjualan" ataukah manusia yang TIDAK MAU MENDENGARKAN SUARA HATI NURANI ?


Yesus tidak mengajari BUNUH ORANG, melainkan MENGHIDUPKANNYA


Yesus tidak mengajari DENDAM , melainkan mengampuni


Yesus tidak mengajari MEMBENCI sesama, melainkan mengasihi


Yesus tidak mengajari soal masuk sorga dengan "bertumpu" pada bangkai orang2 "tak bersalah", misal bom bunuh diri dsb, melainkan untuk memberitakan KEBENARAN yang untuk itu siap terima aniaya, bukan menganiaya.


Semoga, jika ada pembaca yang sering "memperkosa" hati nurani dengan menolak ajaran untuk mengenal Yesus, setelah membaca tulisan ini, mau mencoba untuk berdamai dengan hati nurani yang tak pernah bohong.


Yang jelas, ajaran Yesus PAS DI HATI, lantaran tidak bertolak belakang dengan hati nurani.


Salam.