Aku pergi memancing.
Gara-gara setiap sore kulihat tongkat pancing berseliweran sepanjang jalanan kota.
Aku pergi ke toko alat pancing. Kubeli yang sangat praktis. Tidak perlu kupamerkan tongkat sepanjang lima meter, aku hanya perlu membuat ujungnya menyembul dari dalam tas.
Pancingku seperti antena radio. Kupanjangkan, jadi tiga meter; kupendekkan, muat di dalam tas. Jumlah ruasnya lima, sesuai aturan tangkai pancing yang kupelajari waktu kecil. "Ukurlah bambu tangkai pancing dengan menghitung jumlah ruasnya, harus ganjil." Hanya satu aturan kampung yang kulanggar, "Pantang menawar harga kail dan tali nilon."
Awalnya aku tertarik dengan pancing dari fiberglass yang ringan namun begitu kuat. Aku segera menjauh begitu melihat label harganya, angka satu yang diikuti enam nol. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayannya. "Cari yang masuk akal saja," kataku. Ia tersenyum. Ia hargai keterusteranganku dengan menunjukkan deretan pancing yang jauh lebih murah.
Tetapi pemilik toko menipuku. Ia tidak memberitahu sebelumnya, kalau tongkat pancingku tidak berguna tanpa reel atau penggulung senar. Baru setelah tongkat itu berpindah tangan, ia berkata, "Nggak sekalian beli reel-nya?" Aku pun langsung ingat sama mata kail dan timah pemberat serta karet pelampung.
Umpan juga tidak mudah. Memang ada umpan tiruan seharga empat puluh ribu. Kutolak bukan hanya karena pemerasan tadi, tetapi lebih karena masalah prinsip. Aku tidak mau menipu ikan yang mau kutangkap. Bila harus mati, biarlah ikan-ikanku mati karena umpan benaran. Untuk itu aku terpaksa mengelilingi kota ini. Tidak ada cacing, yang ada hanya gumpalan putih busuk seharga sepuluh ribu.
Simpul?
Aku tahu cara mengikat kail. Namun aku juga tahu, di luar sana, pemancing sejati membuat simbul seperti pengusaha mengikat dasinya. Ada aturannya. Kucari di internet. Kuketik, "Cara membuat simpul pancing." Kupilih Uni-Knot. Petunjuknya: With the end pulled through the eye, form a loop beside the standing end. Working inside the loop, wrap the end around the standing end five times. Lubricate and pull the knot tight. Slide the knot down against the eye. Trim the end.
Aku tidak mengerti. Tetapi sebuah link membantuku: Animasi membuat Uni Knot.
Hari hampir gelap ketika aku duduk di pinggir drainase jalan Lingkar Luar. Jalan yang nantinya menjadi jalur khusus bagi kendaraan yang akan melintasi kota dari arah Banjarmasin maupun Sampit. Ada empat jalur yang direncanakan, dipisahkan oleh sebuah drainase dan dikelilingi jalur hijau.
Ikan-ikan sedang tidur. Mereka tidak menyentuh umpanku. Aku duduk sabar, berharap adanya sentakan-sentakan kecil. Nihil. Tidak apa-apa, ayah sudah mengajariku seni memancing dengan kail dari kawat bengkok dan umpan sebutir nasi: Melamun tanpa kelihatan seperti melamun.
Aku memancing.
Hari benar-benar gelap, dan nyamuk benar-benar sudah tidak bersahabat. Kupendekkan pancingku, kumasukan ke dalam tas. Ujungnya keluar sedikit. Kubuang gumpalan busuk itu ke tengah sungai. Terdengar suara keras ketika gumpalan itu menyentuh air. Tetapi lebih keras lagi suara yang terdengar saat seekor ikan menyambarnya satu detik kemudian.
***
"Mau mancing di mana?"
Aku mengerti mengapa ia bertanya. Baru kemarin aku membeli alat pancing, tetapi gayaku sudah seperti ketua umum Formasi--Federasi Olahraga Mancing Seluruh Indonesia--kemana-mana bawa pancing.
"Nggak, ini hanya mau mengantar adik."
"Saya pikir naik pesawat karena mau mancing di mana, gitu lho," katanya.
Tanpa logat khas itupun, aku tahu apa sukunya. Hanya orang Batak yang berani mengejek orang yang belum dikenalnya.
Adikku mencubit pinggangku. Aku mengerti, "Tahu rasa."
Waktu berangkat tadi ia memprotes ujung pancing yang keluar dari tasku. Kubilang, “Ada selokan sekeliling pagar bandara.” Tidak kukatakan kalau aku tidak butuh air untuk memancing. Kemarin, setelah berhasil membuat Uni-Knot, aku sempat memancing sambil duduk di sofa ruang tamu.
"Suka mancing, ya?" kata si Batak.
Aku bingung menjawabnya. Kalau kujawab “ya”, aku tidak tahu apa-apa tentang memancing. Kecuali itu bagian dari permainan masa kecil. Memancing, itu seperti menunggu durian, tidak usah melakukan apa-apa, hanya duduk menunggu durian jatuh.
Jadi tidak kujawab pertanyaannya. Aku hanya berkeluh-kesah tentang cacing yang tidak ada dan umpan busuk berwarna putih yang namanya palet.
"Salah mencarinya. Coba di seberang jembatan. Kalau tidak salah harganya dua ratus seekor.”
Kuampuni ia yang telah mengejekku.
***
“Dua puluh ekor, Pak," kataku.
Ia hitung dua puluh ekor cacing yang masih tertutup tanah sedikit. Benar-benar dihitung. Ia tidak mau rugi barang seekor.
Kutemukan sungai kecil yang melintasi Trans Kalimantan Poros Tengah, lima kilometer dari kota. Tempat yang bagus, dari pinggir jalan, kulihat pohon rebah yang menjorok ke tengah sungai.

Tempat sempurna untuk duduk memancing.
Kunikmati kesunyian.
Aku bersyukur tidak jadi membawa anti nyamuk oles. Bahkan nyamuk yang berdenging adalah bagian dari acara memancing dalam kesunyian. Benar-benar sunyi, kecuali suara mobil yang kadang lewat. Suara lain hanyalah bunyi sesuatu yang terjatuh ke air, sambaran ikan, siulan burung serta dengingan nyamuk. Kadang kurasakan sedikit sentakan di tangkai pancing. Tetapi aku yakin hanya ikan tolol serakah yang tertangkap pancingku. Cacing yang kutancapkan di kail begitu panjang menjulur.
Ketika senja tiba, aku pulang.