Submitted by tonypaulo on

Sebenarnya secara global saya sudah membahasnya di sini www.sabdaspace.org/genocide_god  namun karena menurut saya menarik untuk diperdalam lebih lanjut, saya mencoba dari berbagai perspektif untuk memberikan gambaran yang utuh mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan rekontruski makna dari apa yang sebenarnya terjadi.

Gen 6:7 Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka
(KJV+) And the LORDH3068 said,H559 I will destroyH4229 (H853) manH120 whomH834 I have createdH1254 fromH4480 H5921 the faceH6440 of the earth;H127 both man,H4480 H120 andH5704 beast,H929 andH5704 the creeping thing,H7431 andH5704 the fowlsH5775 of the air;H8064 forH3588 it repentethH5162 me thatH3588 I have madeH6213 them.
 
Bisakah Tuhan disebut kejam karena menghapuskan manusia yang telah IA ciptakan dari muka bumi?
 
Dari perspektif filosopi humanis, mungkin iya, namun dalam filosofi humanis yang mengedepankan azas kebermanfaatan dan keberlangsungan ternayta apa yang dilakukan Tuhan itu bukanlah sesuatu yang kejam.
 
Untuk mudahnya saya gunakan analogi saja, karena perspektif dari filosopi kan memang tidak bisa mengunakan Firman (nanti kecampur-campur).
 
Pertama ; Jika seseorang harus diamputasi kakinya agar bisa hidup, apakah bukan terlalu kejam buat kaki untuk dikorbankan agar bagian tubuh yang lain tetap bisa hidup?
 
Atau demi tidak terkesan kejam, demi kaki yang harus diamputasi semua organ lain, bahkan sesama kaki harus mati bersama dengan kaki yang harus diamputasi?
 
Kedua ; jika hardisk computer rusak total dan harus dibuang agar kebermanfaatan computer itu tetap berlanjut, apakah tidak terlalu kejam perlakuan terhadap hardisk “yang habis manis sepah dibuang”?
Mari individu yang menanggap Tuhan itu kejam, dengan mengunakan pendekatan filosopi humanis menjawab ini
 
Kemudian apakah sama antara kaki yang harus diamputasi atau hardisk yang harus dibuang dengan menghapuskan manusia? Bayangkan saya satu desa yang terkena suatu virus baru yang penduduknya harus dieliminasi semua demi kelangsungan hidup satu bangsa atau satu dunia…bayangkan saja, apakah kejam?
 
Lebih lanjut, dari perspektif Alkitab ;
 
Isa 55:7 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.
 
Isa 55:8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.
 
Isa 55:9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
 
Singkat saja, jika orang-orang yang hidup pada jaman Nuh tidak dihapuskan oleh Tuhan Allah, untuk “memformat” ulang generasi selanjutnya, apakah ada kepastian bahwa hidup di dunia yang seperti sekarang ini “sebaik” yang ada saat ini?
 
Bukankah justru karena kebaikan Tuhan dan keperdulian Tuhan terhadap saya dan saudara (bahkan yang menganggap Tuhan itu kejam), agar menikmati suatu tatanan dunia baru lepas dari kebiadaban dan kejahatan generasi Nuh?
 
Saya pribadi berpendapat lebih baik buat orang beranggapan Tuhan itu tidak ada, daripada menganggap Tuhan itu maha kejam, seperti tidak tahu berterima kasih saja, atau memang bukan orang percaya, karena tidak mungkin orang percaya bisa sampai hati berkata Tuhan Maha kejam, bagaimana bisa? Toh Tuhan Yesus sudah menebus hidup orang-orang yang percaya dan menawarkan keselamatan kepada setiap orang, termasuk orang-orang dijaman Nuh.
 
Kemudian apakah dalam kemarahan Tuhan dalam menghapuskan orang-orang digenerasi Nuh, tidak sedih hati Tuhan? bisa dimengerti anggapan Tuhan maha kejam, jika YESUS KRISTUS tidak turun ke bumi, atau ditaman Getsemani, YESUS KRISTUS memerintahkan para malaikat Nya untuk menghalau orang-orang yang ingin menangkapnya, dan mengambil alih pemerintahan dunia ini.
 
Kan yang terjadi Tuhan Yesus bersedia untuk disalibkan, mana ada Tuhan yang seperti itu selain Tuhan Yesus, Tuhan Yesus saja diperlakukan dengan sangat kejam tapi masih bisa mengatakan
 
Luk 23:34 Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.
 
Apa ada terlontar dari mulut Tuhan Yesus, “kejam sekali orang-orang ini”?
 
Kok orang yang belum pernah disalib dan mengaku diri Kristen, bisa tega-teganya menyebut Tuhan maha kejam? Sungguh tega… (dan benar Kristen bukan berarti orang percaya), mungkin Tuhan baginya adalah dirinya sendiri, karena bukan yang menyebut nama Tuhan yang bisa disebut orang percaya, tetapi yang percaya dan melakukan apa yang di firmankan-Nya
 
Kalau mau konsekuen dengan moral humanis, jangan makan yang bernyawa, jangan juga makan tumbuhan, kasihan tumbuhan itu dimusnahkan untuk sekedar dimakan, atau jika mau melebihi Tuhan, bersediakah disalib untuk binatang peliharaannya atau tanaman kesukaannya? Karena itu memahami sepotong-potong dan merangkai potongan tersebut menjadi suatu pehamahan yang utuh, keutuhan pemahaman itu adalah rangkaian-rangkaian yang tidak proposional, tendensius dan sembarangan saja.
 
Berprasangka baiklah jika memang senang untuk berprasangka daripada mendalami sesuatu, tidak saja berprasangka baik kepada Tuhan, tetapi berprasangka baik pada diri saudara sendiri dan orang lain, berprasangka buruk itu hanyalah pantulan dari nilai diri yang buruk pula, karena terus menyimpan hal-hal yang buruk saja
 
Jika menganggap karena Tuhan IA bisa berbuat sesuka hatinya? sama saja itu tidak percaya Tuhan itu Maha Benar dan Maha Adil, jika gambaran tentang Tuhan saja masih suka salah-salah, tapi berani menghakimi Tuhan dengan sebutan maha kejam? Apakah ia sendiri tidak pernah berbuat kesalahan dalam hidupnya?
 
Begitu kejam orang yang menganggap Tuhan itu maha kejam, merasa diri lebih tahu dan lebih baik dari Tuhan? seorang atheis dan agnostic saja mungkin tidak “seberani” itu, bolehkah saya menyebut orang yang “seberani” itu dengan sebutan orang yang “maha berani”? atau hanya karena “sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat/katakan”?
 
Saya berprasangka baik saja, mungkin pribadi-pribadi itu hanya tidak tahu apa yang mereka katakan (asal bunyi saja), daripada saya berprasangka buruk menganggap pribadi-pribadi itu kejam dan maha berani SEHINGGA sembarangan menghujat Tuhan.
 
Ya saya berprasangka baik saja….. dan semoga Tuhan memberikan hikmat-Nya melimpah-limpah kepadanya