Submitted by mujizat on

BAHKAN JIKA SAYA MEMILIH MURTAD, TUHAN TIDAK RUGI


Seorang hamba Yesus yang sudah melayani “tak kenal lelah”, yang sudah melayani dengan Kuasa Allah: memberitakan Injil, membangkitkan (tiga) orang mati, mentahirkan (seorang) sakit kusta, menyembuhkan (banyak) orang dengan berbagai sakit penyakit dan mengusir (banyak kasus) orang kerasukan setan-setan, dan memilih untuk “tidak memakan” uang perpuluhan Gereja, melainkan hidup dengan iman, suatu ketika berkotbah mengucapkan kalimat-kalimat bermakna seperti ini: “Saudara-saudara, bahkan kalau sekarang saya memilih untuk MURTAD dan meninggalkan Tuhan Yesus, maka Sorga tidak rugi, dan TUHAN tidak akan rugi. TUHAN dapat memilih siapa saja yang mau bekerja untuk Kerajaan-Nya, untuk Injil-Nya,…”



Benar. Setiap orang diberi keluasan kehendak, pilihan bebas, entahkah mau pilih untuk percaya Tuhan ataukah untuk berdiri berseberangan menjadi musuh Tuhan Yesus, terserah keputusan masing-masing pribadi.


Lha wong, kepada Adam dan Hawa saja, yang keduanya dibentuk oleh Tangan TUHAN sendiri, lalu diberi nafas kehidupan, TUHAN juga membiarkan Kakek  Nenek kita itu untuk bebas memilih: untuk mengasihi dengan mentaati perintah TUHAN ataukah untuk tidak mengasihi TUHAN dengan lebih mendengarkan musuh,…


Apalagi saat ini, ketika Injil sudah dimungkinkan untuk diperdengarkan kepada setiap orang di setiap permukaan bumi, maka TUHAN tetap memberikan pilihan bebas kepada manusia, untuk memilih kehidupan, ataukah kematian.


Hmm,…


Minggu kemarin saya kebetulan nonton acara Mario Teguh di teve, acara the Golden Ways nya, dan satu hal yang sempat “nyanthel” di telinga Muji, adalah penjelasan pak Mario Teguh soal “Berdamai dengan masa lalu”. Singkatnya, seseorang tidak dapat mengubah masa lalu, tapi seseorang hendaklah saat ini menentukan sikap hidup yang BELAJAR dari masa lalu, baik kegagalan maupun suksesnya, sehingga SAAT INI adalah kesempatan untuk menciptakan KENANGAN TERINDAH yang akan menjadi masa lalu yang baik, ketika kelak kita berada di MASA DEPAN.


Saya setuju.


Saat ini, hari-hari ini, adalah KESEMPATAN TERBAIK untuk membuat MOMEN-MOMEN TERINDAH dalam hidup kita yang (dinilai oleh Tuhan sebagai Sang Assessor), sehingga ketika kita berada di MASA DEPAN (di kuburan?), maka kita dapat mengenang MASA LALU kita sebagai masa lalu yang terindah.


Entahkah kita SAAT INI memilih untuk belajar mencintai Tuhan, untuk belajar SETIA kepada Tuhan, untuk belajar MENYENANGKAN HATI Tuhan, ataukah sebaliknya, itu terserah kita, Tuhan tidak maksa.


Tetapi kepada setiap orang yang mau “menerima” Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat Pribadi, sebagai Sang Penebus dosa, maka TUHAN akan memberinya KUASA untuk menjadi anak Allah.


Belajar menjadi anak berbakti, menjadi anak yang “mikul dhuwur mendhem jero” akan lebih baik, daripada hidup ceroboh menjadi anak-anak durhaka.


“Mikul dhuwur” = membawa nama baik “Orang Tua”.


“Mendhem jero” = menyembunyikan rapat-rapat kejelekan “Orang Tua”.


Waktu terus berjalan, Tuhan tidak akan rugi seandainya saya dan saudara memilih murtad dari Penebus kita sendiri, tetapi siapapun yang percaya dan melakukan kehendak-Nya, maka Tuhan akan mengangkat orang percaya itu ke atas “telapak tangan-Nya”, untuk membersihkannya, dan memperlakukan dia sebagai “Biji Mata” Tuhan, sebagai sesuatu yang “so precious”, yang begitu berharga.


Salam.