Submitted by mujizat on

Pada akhirnya manusia akan menyadari bahwa akhir hidup lebih penting dari pada kelahiran. Kesaksian berikut disusun berdasarkan kisah nyata yang diceriterakan seorang Hamba Tuhan berinisial DD.

"Semula saya dan keluarga kami beragama Islam, namun ketika Tuhan Yesus memanggil saya lewat sebuah perjumpaan secara supranatural, maka satu persatu anggota keluarga saya diselamatkan dengan percaya kepada Tuhan Yesus dan karya penebusan-Nya.

Saya lah yang terlebih dahulu Kristen. Dan saya berfikir untuk lebih dahulu menarik papah saya, dengan sebuah keyakinan bahwa

jika papah sudah Kristen, maka akan lebih mudah untuk menarik saudara-saudara saya lainnya untuk percaya kepada Tuhan Yesus.

Lalu oleh kebaikan Tuhan, papah saya mulai percaya kepada Tuhan Yesus. Saya sendiri yang telah membaptis papah saya di kolam baptisan.

Ketika hampir meninggal dunia, saat itu usia papah saya 80 tahun lebih. Beliau tidak sakit, tetapi beliau mengumpulkan semua anak-anaknya, dan terakhir menunggu saudara saya yang berada di luar pulau Jawa.

Sambil menunggu itu, saya sempat bertanya kepada papa: Pah, menurut papah, siapa Yesus itu?  Beliau jawab: Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat papa.

Saya tanya lagi: pah, saat ini Yesus ada dimana? Beliau menjawab: Yesus ada di hati papah.

Puji Tuhan, saya merasa lega, karena di saat menjelang wafatnya, Papah tetap mempertahankan imannya kepada Tuhan Yesus.

Akhirnya kakak saya datang juga, dan kami semua berkerumun di sekitar papah terbaring. Papah memberikan beberapa wejangan, agar kami hidup rukun,... dan sebagainya. Lalu papah meletakkan tangan di dada beliau sendiri, memejamkan mata, dan menarik nafas dua tiga tarikan nafas, setelah itu nafas beliau terhenti. Wajah beliau kelihatan begitu damai.

Saya sendiri sempat melihat sebuah vision, dari tubuh papah keluar sosok berpakaian putih bersih dan naik ke atas. Puji Tuhan."

Pastor DD melanjutkan ceriteranya sebagai berikut.

"Itulah contoh proses meninggalnya seseorang yang beriman kepada Tuhan Yesus.

Saya jadi teringat kepada seorang ibu di sebelah rumah kami. Beliau juga meninggal dunia di waktu yang berbeda. Tetapi tampak sekali bahwa menjelang meninggalnya, si ibu itu kesakitan sekali. Di rumah sakit, ada dipasang selang dimana-mana, ada infus dan sebaginya. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, tubuhnya meronta-ronta, sampai aliran darahnya naik memasuki botol infus.

Ibu ini, saya pernah memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kepadanya. Tetapi tanggapannya sinis. Dengan mencibir dia berkata: Mbak, kita kan punya agama kita masing-masing,...

Tetapi akhirnya ibu itu meninggal dunia dengan penderitaan luar biasa."

Ya. Waktu terus berjalan. Setiap orang diberi kebebasan untuk percaya atau ngak percaya bahwa Yesus telah mati untuk menebus dosanya. Tetapi setiap orang yang menerima-Nya akan diberikan kuasa untuk menjadi anak Allah, sekaligus menerima pengampunan dosa oleh sebab telah lunas dibayar dengan darah Yesus, namun setiap orang yang menolak-Nya sebagai Penebus Dosa, maka orang tersebut hendaklah bersiap-siap untuk membayar sendiri akibat semua dosa yang pernah dilakukannya dalam hidupnya di bumi.

Dosa yang telah lunas terbayar, akan memastikannya masuk Sorga, namun hutang dosa yang tidak terbayar akan memastikan seseorang terjungkal di neraka kelak.

Shalom.