
[SIMBOL]
"Sungguhlah ini negeri yang terberkati." Dari jendela kaca mobil aku dapat memandang bebas ke hamparan air hijau kebiruan yang luas membentang menantang langit. Indah adalah kata yang tak memadai untuk menggambarkan kemolekan alam. Di kiri jalan berjajar pohon-pohon jangkung di antara tanaman yang lebih rendah yang berdesakan berjajar bak sekerumunan domba dengan bulu hijau yang menjuntai. Spektakular mungkin kata yang lebih tepat untuk melukiskan pemandangan di kanan jalan : puluhan meter di bawah tebing yang liar, merentang nun hingga ke bukit dan pegunungan yang tampak samar di kejauhan, adalah gigir air yang tampak beralun lembut seperti sedang bersenandung menyambut matahari yang datang dikawal awan-awan. Segaris cahaya yang menyelinap dari balik awan menggurat air bak usapan kuas seorang maestro di atas kanvas raksasa.
"Sungguhlah ini negeri orang-orang yang diberkati, karena mereka menghormati orang tua dan para leluhur." Beberapa lama setelah pemandangan danau berlalu, di kanan kiri jalan bertaburan makam-makam indah dari batu, semen, granit dan keramik dengan berragam bentuk dan ukuran. Bukan pemakaman umum, tetapi pemakaman keluarga yang tampaknya bebas saja dibangun di tepi jalan lintas provinsi. Sebagian dihiasi dengan patung besar berwujud manusia atau bangunan berbentuk rumah adat. Dan, yang paling menonjol adalah lambang salib, entah di puncak bangunan makam, entah di bagian depan makam, ada yang hanya satu salib, ada yang dua, ada tiga...praktis semua yang kulihat memiliki tanda salib.
"Sungguhlah ini negeri orang-orang yang dekat dengan Tuhan, karena mereka gemar membangun rumah Tuhan." Salib adalah simbol yang yang sama yang terdapat di bangunan utama di sepanjang jalan. Di antara hamparan sawah yang sebagian sedang menguning dan sebagian sudah dituai, mencuat menara-menara gereja. Tak jarang dua atau tiga gereja berdiri berdekatan. Tampaknya segala denominasi hadir di sini, mulai dari katolik, protestan (gereja-gereja berbagai suku dan nasional), methodist, adventist, pantekosta, bethel, tiberias, hingga saksi yehuwa (yang terakhir ini tak pakai lambang salib).
"Sungguhlah ini negeri orang-orang selalu ingat akan Tuhan." Sekitar hampir tiga jam perjalanan setelah danau atau sekitar tujuh jam dari ibukota provinsi, akhirnya mengantarkanku ke bukit yang di puncaknya menjulang salib putih setinggi 30 meteran yang disangga tiga tiang. Mendaki anak-anak tangga jalan setapak di antara pohon-pohon pinus yang digantungi papan-papan kecil yang ditaburi kutipan ayat Alkitab, aku menemukan diriku di bawah kaki salib raksasa di antara bangku ampitheater menatap panggung alam yang menggelar kepermaian Lembah Silindung. Sawah dan ladang yang terpapar di dataran yang luas menggelilingi rumah yang terlihat mungil dan jalan yang tampak bagai garis meliuk, dan pegunungan abu-abu di batas pandangan,bagaikan backdrop yang terlalu indah untuk dipercaya nyata.
Di sekeling salib ada beberapa rumah kecil yang diperlengkapi dengan meja batu. Tak hentinya orang bergantian keluar masuk rumah-rumah itu untuk memanjatkan doa. "Sungguh, orang-orang ini adalah pengikut Tuhan yang setia."
[TANDA]
"Maafkan, saya tidak sependapat.
"Beberapa waktu yang lalu sebuah keluarga Kristen yang berasal dari negeri yang diberkati itu geger karena seorang anak mereka pamit untuk meninggalkan agamanya agar dapat menikahi kekasihnya yang menganut kepercayaan berbeda. Ini tak dapat diterima, karena seluruh isi kampung mereka dan seluruh keturunan leluhur mereka tiga generasi kebelakang adalah Kristen, dan beberapa di antara mereka adalah penatua dan aktivis gereja. Maka, orang-tuanya, abang dan kakaknya, pamannya, pendeta, dan teman dekat berupaya untuk membujuknya membatalkan niat tersebut. Tetapi, dia bergeming.
"Ayahnya meminta saya untuk mencoba juga mempengaruhi sang anak, karena saya juga masih terhitung sebagai paman dari garis ibunya dan saya cukup dekat dengan keluarga mereka.
"Sebelum saya berbicara dengan keponakan saya tersebut, saya bertanya kepada keluarga besar yang berkumpul di rumahnya,'Apakah ada di antara kita yang bisa menjelaskan mengapa dia perlu mempertahankan kekristenannya?'
"Mereka terlihat gusar. Gumanan hingga pernyataan keras mengalir dari banyak orang yang hadir. Mulai dari ejekan tentang agama lain hingga kehilangan hidup yang kekal karena murtad meluncur dari sana-sini.
"Lantas saya bertanya,'Adakah yang bisa menjelaskan kepada saya siapa yang disebut sebagai pengikut Kristus? Apa tanda seorang pengikut Kristus?'
"Karena tak ada yang mau menjawab, saya minta salah seorang mengambil Alkitab dan membacakan Yohannes 13 ayat 34 dan 35. Saya bertanya,'Mengikuti tanda murid Yesus yang dinyatakan dalam nats tadi, siapakah di antara kita yang ada di sini adalah pengikut Kristus?'
"Tak ada yang menjawab. Sang ayah diam, saya tahu dia sudah lama tidak bicara dengan salah seorang adiknya karena persoalan warisan sawah di kampung mereka. Sang ibu, yang adalah adik sepupu saya, diam. Saya tahu dia sedang berkonflik dengan putri tertuanya. Kedua abangnya diam; mereka berdua tidak begitu akur sehari-hari. Salah seorang anggota keluarga yang jadi penatua di gereja yang sedang ribut memperebutkan yayasan sekolah milik gereja juga diam. Beberapa orang lain di ruangan itu juga diam, tanpa saya tahu persis apa yang menghalangi mereka untuk buka suara.
" 'Karena saya tidak akan bisa menunjukkan kepada dia apa manfaat mengikut Kristus di dalam kehidupan keluarga kita, saya tidak punya alasan yang cukup untuk membujuk dia mempertahankan imannya - kalaulah dia memang pernah memiliki iman kepada Kristus. Jika kita bukan murid Kristus, atas dasar apa kita mengajak orang untuk menjadi murid Kristus atau tetap mengikut Kristus? ' "
# by : guestx
# Salib Kasih, Tarutung, 06 Juli 2011