"Inilah gambaran bangsaku, bangsa yang aku akui, aku cintai ini. Bangsa Indonesia, yang aku tahu dari dulu hingga saat ini terus mengidap penyakit yang sama, penyakit yang belum sembuh dan kian menjadi parah."
Keringat sudah sedari pagi membasahi tubuhku, dan sore ini tubuhku kembali mengeluarkan keringat, sesaat saja kering ketika siang tadi berada di ruang ber-AC yang sejuk. Setelah menyelesaikan semua urusan di kantor aku dan teman-temanku kembali meninggalkan ruangan sejuk itu untuk pulang, dengan memaksa masuk ke sebuah bus yang penuh sesak, namun sekarang sudah bisa kembali sedikit lega, karena sudah berganti kendaraan. Bisa duduk dengan nyaman, menjulurkan kaki, di sebuah angkot, kendaraan terakhir yang akan mengantarku pulang hingga ke tempat tujuan, di iringi beberapa kali alunan gitar dan gemericik suara akibat goncangan botol dari musisi-musisi jalanan.
Temanku, yang duduk di sampingku, menyenggolku dengan bahunya, berbisik “kok banyak pengemis ya di angkot”, aku langsung menyahutnya “sssstttttt, ini bukan pengemis, ini pengamen, mereka berbeda, nanti ku jelaskan” kataku berbisik kembali pada temanku, berharap seorang anak yang saat itu sedang duduk di ambang pintu angkot sambil menyanyi dan menggoyangkan botol berisi butiran beras, tidak mendengar bisikan kami. Demikian, ketika kami makan malam di sebuah warung, aku menjelaskan kepada temanku tentang perbedaan seorang pengamen dan pengemis, sekalipun mereka memiliki kesamaan “sedang berharap ada tangan yang terulur untuk memberi”.
Tontonan seperti ini akhirnya sangat biasa menjadi tontonanku. Aku tidak merasa heran lagi, seperti temanku yang saat itu berada di sampingku. Sangat mudah bagiku tergerak mengulurkan tangan kepada anak-anak dari pada mereka yang sudah dewasa, karena suara kanak-kanak mereka selalu mengingatkan pada adik bungsuku yang masih duduk di bangku SD.
Tidak hanya musisi jalanan, di sini aku juga sudah terbiasa untuk tidak asing dengan anak-anak jalanan lainnya. Seorang ibu yang duduk/berbaring di pinggir jalan bersama anaknya yang masih kecil, meletakkan sebuah kaleng di depan mereka sambil menengadah menatap orang-orang yang lewat. Memperhatikan segerombolan anak-anak yang berjalan bersama-sama dengan baju compang camping dengan tatapan mata yang tidak terlihat lagi lugu, tetapi liar memperhatikan setiap kesempatan, mereka berlari ke sana kemari, berpeluh tidak peduli panas dan hujan. Anak-anak yang berebut membawa payung menunggu orang-orang yang keluar dari angkot, dengan harapan ada orang-orang yang tidak ingin berbasah-basah seperti mereka menumpang dipayung mereka. Seorang anak kecil menggendong bayi kecil di simpang-simpang jalan kota tanpa memberi topi atau penutup kepala kepada sang bayi yang berpanas-panas.
Secara pribadi hatiku merasa teriris dengan tontonan ini, aku sangat ingin melakukan sesuatu, namun itu hanya sebuah keinginan tanpa tindakan. Aku membayangkan jika adik bungsuku ada di antara mereka. Saat-saat seperti itu aku sangat menyadari bahwa diriku, termasuk dari antara mereka yang tidak peduli, seorang munafik, hanya kasihan tapi belum juga melakukan sesuatu dan terbiasa untuk tidak peduli.
Suatu waktu sempat terpikir tentang orang tua anak-anak jalanan ini. Bagaimana kehidupan mereka, bagaimana mereka mendidik dan memperhatikan anak-anak mereka, bagaimana dan bagaimana ??? pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bisa aku jawab sendiri, tetapi tetap kembali ku jadikan pertanyaan lagi.
***
Sejauh ini, memang tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk mereka, sekalipun mereka sudah termasuk dari beban-beban yang ada di beberapa bagian otakku.
Kadang-kadang jika sudah tidak berpikir panjang, pemerintahlah yang akan menjadi sasaran empukku untuk dihakimi sebagai biang keladi dari semua ini. Kesalahan ini sangat masuk akal untuk dilimpahkan kepada para pemimpin bangsa dan sistemnya, sangat-sangat mungkin untuk pikiranku yang dangkal.
Namun, sesaat ketika teringat akan ketidakpedulianku pada mereka, aku tersentak dan kembali menghakimi diriku sendiri, aku termasuk di dalamnya, seorang yang tidak peduli sepertiku pun adalah sebagian dari menyebab.
Sangat-sangat bangga kepada mereka, yang peduli kepada anak-anak ini. Aku sangat senang ketika aku mendengar cerita tentang seorang sahabat SS bahwa di sini (SS) ada orang yang seperti itu, bahkan ada beberapa orang yang dari tulisannya adalah mereka yang peduli. Aku bangga pada kalian. Aku masih belajar merangkak untuk menjadi orang yang peduli, lewat apa yang saat ini sedang aku kerjakan.
***
Inilah gambaran bangsaku, bangsa yang aku akui, aku cintai ini. Bangsa Indonesia, yang aku tahu dari dulu hingga saat ini terus mengidap penyakit yang sama, penyakit yang belum sembuh dan kian menjadi parah.
Bahkan aku sebagian dari luka-luka yang ada yang berusaha untuk sembuh.
Ketika membaca sebuah buku, yang membahas penyakit bangsa ini, aku disadarkan pada sebuah kebudayaan yang sudah tidak tabu. Aku berkesimpulan itulah penyakit utama di bangsa ini, yang menyebabkan luka-luka semakin besar seperti kanker ganas yang menyebar sangat cepat.
Bahkan akhir-akhir ini, hal tersebut menjadi sangat trend di masyarakat khususnya di kalangan mereka yang setiap hari menjadi model dari masyarakat bangsa ini, khususnya kaum muda.
Aku pun sadar bukan “pelaku” yang menjadi penyebab utama dan tidak ada yang bisa di salahkan dalam hal ini. Merekapun dapat dipastikan adalah korban dari korban-korban sebelumnya.
Beberapa saat, sempat aku membahas hal ini dengan seorang temanku yang alumni psikolog, dia mengatakan “bukan itu penyebab utamanya, penyebab utama bahkan telah terjadi jauh sebelum seorang anak lahir, dan itu adalah sikap yang salah ketika kedua orang tua melakukan hubungan seks, sehingga lahirlah seorang anak yang sifatnya terbentuk dari sikap kedua orang tuanya” begitu kurang lebih yang aku bisa tangkap dari penjelasan temanku. Pengetahuan yang baru bagiku, aku bahkan sama sekali tidak pernah terpikir ke arah itu. Aku masih berada pada akibat dari sikap yang salah terhadap hubungan yang salah dari kedua orang tua, yang istilah kerennya sering disebut “kawin cerai”, yang akhirnya merembet kepada akibat-akibat lain yang bermunculan, pola asuh yang salah, kurang perhatian/kasih sayang kepada anak, dan akibat-akibat lainnya yang terus merembet kepada generasi-generasi berikutnya.
Kebanyakan anak-anak Indonesia dibesarkan dengan kurang kasih sayang, entah itu dari ayah atau dari ibu, sehingga mereka bertumbuh dewasa menjadi seorang yang tidak dapat atau mampu mengasihi karena kasih sayang itu sendiri tidak pernah mereka dapatkan dari siapapun, terlebih dari orang tua mereka.
Penyakit ini tentu sudah sangat parah, bahkan sepertinya mustahil untuk disembuhkan. Tapi tentu setiap kita yang percaya masih memiliki keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil untuk Sang Pencipta untuk disembuhkan.
Mari kita bergandengan tangan untuk berdoa bagi bangsa tercinta dan setiap orang yang berusaha untuk menyembuhkan diri, supaya dapat menyembuhkan yang lain juga.
Selamat menyongsong tahun baru 2012.