Malam membutakan mata
Sang Terang sedang berbincang
dengan BapaNya,
"Kalau boleh biarlah cawan ini lalu
daripadaKu!"
Sepi,
tak ada jawaban
selain dingin yang menggigil
karena ngeri
: kepastian tak bisa lagi ditawar!
Kun fayakun!
Bumi bisa Kutelan, dan Kumuntahkan
dalam MurkaKu!
(Ia menggigil! Bukan karena dingin
malam.
Ia menggigil!
PeluhNya menderas bercampur Darah!)
Malam itu
Dalam doa dua wajah ketemu
: Tuhan dan manusia
bersatu dalam eksistensi Tunggal
: Sang Khalik yang mengasihi
Malam itu
Cinta memenangkan perang
Ketaatan memuliakan Tuhan,
Bapa yang kekal!
Anak Domba meminum cawan
Murka Allah,
Dosa dihapuskan!
Aku bercermin di Taman Getsemani
Aku sudah menusukNya dari belakang
dan membawaNya ke Salibku
Dalam masa kritisku Ia justru
mencariku
Kini dalam darahku telah mengalir darahNya
Ia hidup di dalam hidupku
Di dalam doa
Aku melihat Tuhan!