Submitted by
Purnomo
on
Titik-titik air mulai membenturi kaca depan mobil yang kami kendarai. Waktu menunjukkan pukul 7 malam dan kota yang kami tuju masih 2 jam di depan. Saya menyuruh sopir menepikan mobil, “Sebentar lagi hujan deras dan lama. Kita meringankan beban dulu.” Ia menepikan mobil dan mematikan mesin. Suasana gelap dan sepi. Karena itu tanpa risih kami berdua berdiri membelakangi sisi kiri mobil, membuka celana dan membuat air terjun kembar.
Selesai menunaikan hajat, kami bergegas masuk ke mobil. Lampu terang dari depan yang menyilaukan membuat sopir menunda menjalankan mobil. Sebuah truk dengan 8 lampu depan melintasi membuat sekitar kami sekejap terang benderang. “Kuburan!” seru sopir saya sambil menunjuk ke arah kiri saya. Saya menoleh ke kiri dan melihat banyak kayu-kayu nisan. “Gakpapa,” kata saya. “Lokasinya jauh dari pinggir jalan. Kita tidak mengencingi kuburan. Yok, jalan.”
Baru sekitar 10 menit mobil berjalan, mendadak lampu depan mati. Untung sopir tidak gugup menghadapi kegelapan yang mendadak dan berhasil menepikan kendaraan. Ia mengotak-atik tuas pengendali lampu depan dekat setir, tetapi lampu depan tetap saja mati. Saya meraih tuas lampu kabin, juga mati. Saya mengambil senter dari laci dan memintanya memeriksa sekering lampu. Saya turun dan berjalan memutari mobil. Ternyata lampu belakang juga mati. Sopir melaporkan semua sekering lampu tidak ada yang putus.
Mesin kami matikan. Selang 1 menit kemudian tuas starter diputar. Mesin menyala kembali tetapi semua lampu tetap mati. Kap mesin kami buka dan dengan senter kami menyelidiki apakah ada kabel untuk lampu yang putus. Ternyata semua oke. Gerimis berubah menjadi hujan dan kami bergegas masuk ke mobil.
Karena kuatir dirampok di tempat sepi, kami memutuskan untuk menjalankan mobil dengan kecepatan sedang sampai tiba di desa terdekat. Kaca samping kiri saya buka sedikit agar bisa mengeluarkan tangan kiri yang memegang senter. Saya mengarahkan cahaya senter ke depan agar kendaraan yang melaju dari depan mengetahui keberadaan kami. Bila mobil dari depan makin mendekat saya mengarahkan cahaya senter ke kap mesin sebelah kanan agar mereka tidak berjalan mengambil jalur kami. Hujan makin deras dan air yang masuk dari jendela kiri membuat baju saya basah.
“Seandainya saja kita tahu waktu mau kencing tadi ada kuburan, pasti tidak seperti ini kejadiannya,” kata sopir saya.
“Kalau betul ada yang mau mengganggu, pasti mobil ini bukan saja lampunya yang mati tapi mesinnya sekalian,” jawab saya menentramkannya.
Tetapi hati saya sendiri tidak tentram. Diam-diam saya mewaspadai setiap tarikan nafas saya kalau-kalau udara yang saya hirup berubah bau. Mobil yang saya kendarai jenis sedan. Saya berharap tidak ada penumpang gelap yang duduk di jok belakang dan menyebarkan bau kembang. Apakah saya berdoa? Itu tidak saya lupakan. Tetapi mata saya tidak berani melirik ke jok belakang.
Sopir saya seorang pemberani. Ia tidak pernah membunyikan klakson atau memukul dashboard tiga kali atau melempar keluar uang logam atau berkata “Permisi eyang, cucumu numpang lewat” bila melintasi jembatan yang konon kabarnya angker. Tetapi saya selalu mengingatkannya untuk membunyikan klakson bila mendekati tikungan tajam agar kendaraan dari arah depan tahu keberadaan kami.
Sekitar 20 menit kemudian mendadak lampu depan menyala. Saya menutup jendela kiri. Saya meraba langit-langit mobil dan lampu kabin menyala. Sebentar kemudian kami masuk ke sebuah desa. Kami menghentikan mobil di depan sebuah warung makan. Cahaya lampu warung menerangi ruang dalam mobil kami. Mesin mobil dimatikan dan pelan-pelan saya menengok ke belakang. Terima kasih Tuhan, tidak ada penumpang gelap di jok belakang. Saya menyodorkan payung kepada sopir dan menyuruhnya ke warung memesan 2 gelas kopi sementara saya membuka tas pakaian untuk berganti baju dulu.
Setelah beristirahat sejenak kami meneruskan perjalanan tanpa menunggu hujan berhenti. Semua lampu mobil berfungsi normal. Sebelum masuk hotel saya berpesan kepada sopir agar besok pagi ke bengkel terdekat untuk memeriksa seluruh kabel mobil dan sekering. Laporan yang kemudian saya terima adalah tidak ada masalah yang ditemukan. Semua sekering dan sambungan kabel dalam keadaan baik. Juga akinya. Mobil perusahaan ini kemudian masih saya pakai selama hampir 1 tahun dan tidak pernah masalah lampu seperti itu terulang kembali.
Setelah peristiwa itu, setiap kami ingin meringankan beban, kami lebih teliti menyelidiki alam sekitar. Kami tidak ingin berada di dekat kuburan. Tetapi dalam keadaan darurat saya terpaksa melanggar “tata tertib” ini. Seperti ketika saya berada di sebuah krematorium. Toiletnya yang hanya 2 kamar dipakai orang dan yang antri masih beberapa orang sementara saya sudah kebelet banget. Saya berjalan ke belakang bangunan krematorium dan setelah menoleh ke kanan-kiri, saya meringankan beban. Saya tahu saya pipis bukan lagi di dekat kuburan, tetapi di atas kuburan ratusan orang karena abu seluruh daging, tulang rawan dan tulang-tulang kecil jenazah terbang keluar dari cerobong asap untuk kemudian turun tersebar ke tanah sekitar krematorium.
Peristiwa-peristiwa yang sulit diterima logika yang saya alami, tidak saya ceritakan kepada sembarang orang. Juga kepada saudara-saudara seiman satu gereja. Merepotkan. Karena setelah selesai menceritakan pengalaman gaib ini, saya akan diinterogasi ramai-ramai untuk menyelidiki tingkat kejujuran saya. Sudah susah payah menangkis serangan mereka, di akhir pengadilan ada yang berkomentar, “Jika tempat itu angker, mengapa orang lain tidak mengalaminya?”
Tingkat kepekaan orang akan sesuatu yang bersifat gaib atau mistis tidak sama satu dengan yang lain. Contoh dalam kadar ringan adalah kepekaan telepati. Ada orang yang ketika berada di tempat ramai, mendadak merasa ingin menoleh ke belakang. Ketika ia menoleh, ternyata ada seorang yang sedang menatapnya lekat-lekat. Tetapi perasaan seperti itu tidak dimiliki oleh setiap orang.
Karena itu saya bisa memaklumi jika tulisan saya ini dan yang (mungkin) mengikutinya membuat beberapa pembaca menuduh saya mengada-ada. Komentar tajam silakan ditulis tanpa risih karena saya tidak akan sakit hati karenanya. Bahkan bila dinilai apa yang saya tulis menjurus kepada penyesatan atau membelakangi Firman Tuhan kita, Admin boleh menghapusnya tanpa memberitahu saya terlebih dahulu. Melalui tulisan ini saya tidak bertujuan mengumpulkan poin atau masuk ke kelompok blogger 10 besar. Itu jauh dari motivasi saya memosting blog di sini. Tujuan saya hanya mengangkat sesuatu ke permukaan yang selama ini terpaksa disembunyikan oleh sementara orang Kristen karena tidak ingin mendapat tuduhan “tidak sepenuhnya beriman” atau “Kristen yang masih memercayai takhayul.”
Artikel Clara Anita “Hua . . . hantu!!” (posted on Mei 27th, 2008.) yang menceritakan apa yang dialaminya sehari sebelumnya pada pk.17.50 membuat saya tertawa. Bukan menertawakannya. Tetapi karena teringat saya pernah mengalami hal yang sama dan lebih parah di sebuah hotel kuno di Purwokerto. Saya tidak ikut berkomentar karena sibuk menyimak komentar-komentar yang muncul.
Komentar jujur Mbakayu Esti, “He . . he . . he . . sama hantu saja takut, padahal saya mbak esti (sekali2 panggil mbak nape?) nggak pernah berani lama2 didepan komputer sendirian, si opa tak minta nemenin, atau tidur di dekat2, ntar kalau saya dah kecapean, baru tak ajak pindah tidur.....” dan keinginan Mercy, “Mengingat dan melihat masih banyaknya diantara kita yg masih bingung tentang hantu, gimana kalau diadakan seminar tentang hantu?” membuat saya berpikir “mengapa tidak?”
Saya tidak bergegas menghasut terselenggaranya “seminar” ini karena tidak melihat urgensinya. Baru setelah pulang dari kebaktian tutup tahun 2008 ketika di rumah saya merenungkan apa-apa saja yang telah saya lakukan sepanjang tahun 2008, saya teringat sebuah peristiwa yang menyeramkan.
Suatu pagi hape saya bergetar. Seorang teman mengontak. “Kepsek SMP AAA tadi pagi mengabari seorang muridnya masuk rumah sakit Kristen (RSK). Ia terbakar karena kompor meledak. Dari perut ke bawah termasuk burungnya luka parah. Orang tuanya miskin. Mereka mau membawa pulang anaknya untuk diobati sendiri tetapi dokter melarang karena lukanya sangat serius. Tolong kamu tengok karena aku tidak bisa. Aku ada di Palangkaraya dan mau berangkat ke Tumbang Marikoi.”
Sekolah AAA adalah sekolah nasional di kota kami yang memiliki SD, SMP dan SMA. Teman saya setelah mengetahui tidak ada gereja yang melakukan pelayanan di sekolah yang miskin ini, menawarkan diri untuk menyelenggarakan pertemuan-pertemuan rohani bagi murid-muridnya yang Kristen.
Siang hari baru saya bisa bergerak menuju RSK. Karena melintasi gereja saya, saya mampir ke kantornya. Seorang pengerja full timer bercerita tadi pagi bersama seorang penatua pergi ke RSK untuk tugas rutin mengunjungi orang sakit yang perlu didoakan. Di sana mereka diminta ke ruang UGD untuk mendoakan seorang anak yang terbakar. Anak itu berada dalam sebuah kurungan kasa seperti tudung saji dan antara sebentar menggigil karena ia harus dibaringkan telanjang. Bau daging terbakar masih tercium. Ada lobang terbuka di perutnya. Dokter menjelaskan setelah ia berhasil melewati masa kritis, lobang itu akan ditutup dengan kulit yang diambil dari pantat.
Berbincang-bincang dengan ibunya, dia mendapat keterangan bahwa anak itu terbakar bukan karena kompor meledak, tetapi karena sengaja membakar diri. Anak itu mendengar ada suara seperti suara seorang nenek yang menyuruhnya membawa keluar rumah jirigen minyak tanah dan korek api. Di suatu tempat yang lapang, suara itu menyuruhnya menyiramkan minyak itu ke seluruh tubuhnya dan menyulutnya. Karena jirigen itu berat, ia tidak bisa mengangkatnya lebih tinggi dari pinggangnya. Separuh tubuhnya dari pinggang ke bawah basah kuyup. Ia menyalakan korek api dengan keyakinan tidak akan celaka. Karena, begitu anak itu menuturkan kepada ibunya, beberapa hari sebelumnya suara itu memerintahnya untuk menusuk-nusukkan pisau dapur ke perutnya. Ia melakukannya dan perutnya tidak terluka. Sayang sekali, kali ini suara itu ingkar janji.
Puji Tuhan! Anak itu bisa melewati masa kritisnya. Operasi penambalan lobang di perutnya juga berjalan lancar. Penatua kami yang ikut menemuinya, menggalang dana dan berhasil menyerahkan uang hampir 2 juta rupiah. Sementara gereja di mana orang tua anak itu berjemaat menyumbang sekitar 6 juta rupiah.
Kepada teman yang melayani sekolah AAA saya mengusulkan agar selain mengadakan ceramah tentang AIDS dan narkoba, sebaiknya ia juga menyelenggarakan ceramah tentang ilmu gaib dan bahayanya. Sebab, dua bulan sebelum peristiwa itu seorang jemaat kami yang miskin kehilangan puteranya yang berusia sekitar 25 tahun. Anaknya tewas setelah 3 hari 3 malam bersemedi dengan cara berendam dalam drum berisi air. Pada hari ke-4 ia keluar dari kamar pertapaannya yang terkunci rapat dan langsung kena muntaber berat. Nyawanya tak tertolong karena orang tuanya tidak berani membawanya ke rumah sakit.
Dalam himpitan kemiskinan, sering orang tergoda mempelajari ilmu gaib yang diharapkan bisa memberinya jalan keluar dari penderitaan. Tayangan sinetron mistis yang gencar sekaligus “tersipu-sipu”nya Gereja dalam menjelaskan sikapnya terhadap peristiwa mistis yang dialami jemaatnya, mendorong mereka untuk melangkah sendiri. Sayang sekali, tidak sedikit dari antara mereka tersesat jalan.
( 07.01.2009)
Kisah-kisah mistis:
bag 1: Jangan pipis dekat kuburan.
bag 2: Mama, hantu itu apa ada?