Submitted by pinokio on

Dahulu ketika aku masih SMA, di kotaku Magelang tercinta baru trennya KKR n bahasa roh. Dan aku sangat merindukan masa2 itu, di mana gereja2 gak saling berebut untuk memenuhkan gerejanya dengan jemaat gereja lain ( transmigrasi Jemaat dan Salesman Gereja ). Tetapi untuk membangun jemaat di Kota Magelang. Kisah ini aku tuliskan sebagai sebuah kesaksian.

Suatu hari temanku mengajak untuk berangkat menghadiri KKR di sebuah gereja. Waktu itu banyak teman2ku SMA yg sok suci setelah mendapatkan karunia berbahasa roh. Perkataan mereka mulai selalu rohani buanget. Aku sich juga kepingin dapat karunia itu. He.he.he.

intermezzo :
Di gereja GKI, kami terkenal dengan julukan GPK ( Gerakan Pengacau Kebaktian ). Di GKI, bagian ibadah yang paling kami senangi yaitu waktu berdoa. Karena kan pada nutup mata, jadi dengan bebasnya kami bisa melihat cewek2 sexy disekitar kami. Sejauh mata memandang. He.he.he.

Sebelum kebaktian KKR dimulai, kami sepakat untuk waktu Altar Call nanti kami bergandengan tangan. Jadi waktu mulai nangis2 n rebah, kami rebah bareng. Nah kebaktian pun dimulai. Beneran, walau aku pingin banget karunia bahasa roh, tetapi waktu itu aku juga datang hanya untuk rame2 aja. Tiba waktunya Altar Call. Karena mayoritas adalah anak muda, langsung aja berebut pada lari ke depan mimbar. Dan pak Pendeta mulai mendoakan jemaat. Para pelayan mimbar bersiap untuk menangkap orang2 yang jatuh saat didoakan.

Di sampingku, ada teman kelasku yang sudah menerima karunia berbahasa roh. Badannnya gedu n gendhut. Waktu didoakan dia jatuh. Wah untung aja gak ngejatuhin aku. (dari SD sampai kuliah, di kelas badanku paling kurus n kecil). Temenku yg gendhut itu mulai berbahasa roh (atau bahasa lidah ya?). Dengan tampang bloonku, aku cuma bisa melihat temenku gendhut ini. Aku lepasin dech gandenganku. sama teman2ku. Aku cuma berkata dalam hati (berdoa?), Tuhan aku mau kaya gitu, kaya temenku. Tidak lama kemudian, lidahku mulai gerak2 sendiri. Gak bisa dikontrol. He..he.he.. Akhirnya aku terima karunia itu.

1.Sampai hari ini aku percaya bahwa bahas roh berguna untuk membangun diri sendiri. Bukan untuk unjuk kehebatan (apanya yg hebat?).
2.Bahasa roh bagiku adalah karunia, sehingga bagiku impartasi bahasa roh adalah ajaran manusia.

Ada satu kesaksian mengenai point ke2.
Ada satu orang temenku sebut aja Totok, waktu dia kuliah di Satya Wacana Salatiga, dia paling suka berangkat di sebuah gereja karismatik karena acaranya yg muda buanget. Suatu kali dia bercerita, bahwa ketika ia ikut komsel yg dibahas adalah mengenai Impartasi Bahasa Roh. Dan setiap anggota didoakan + tumpang tangan agar menerima karunia tersebut. Sampai hampir 30 menit temenku ini didoakan+tumpang tangan. Hasilnya....dia tetap tidak terima karunia berbahasa lidah. Impartasinya mejen kali. Sampai hari ini dia tidak berbahasa roh.
Bahasa Roh adalah KARUNIA.

Salam buat sahabatku TOTOK yang kini di Jakarta. U are my BIG friendz.
With love, pinokio n febe.

Setiap manusia dihakimi oleh perkataannya sendiri