Submitted by Purnomo on

           Waktu saya masih SD, kakak sepupu yang sudah SMA dan pergi ke misa setiap Minggu mengajari saya tentang dosa. “Dosa itu ada dua,” begitu katanya, “yaitu dosa besar dan dosa kecil. Membunuh orang itu dosa besar, menempeleng teman itu dosa kecil. Merampok itu dosa besar, mencopet itu dosa kecil. Dosa besar membawa orang masuk neraka, sedangkan bila hanya punya dosa kecil kita akan dimasukkan ke api penyucian.”

          Konsep dosa besar vs dosa kecil yang diajarkannya ini menjadi core belief saya sehingga memunculkan core value bahwa dosa yang hanya sedikit merugikan orang lain tidak membuat Tuhan marah. Api penyucian menurut dia panasnya seperti terik matahari siang. Biar panas tetapi tidak menghanguskan. Pada akhirnya core value ini melahirkan action yang boleh dikategorikan sebagai kejahatan ringan sehingga tidak perlu hukuman. (Tentang core belief, core value dan action pernah saya tulis dalam “Aku anak Raja, kamu anak siapa?”)
 
        Ketika berumur 6 tahun saya sudah minum alkohol tanpa diketahui oleh orang tua saya. Rumah nenek saya hanya berjarak 5 rumah dari tempat tinggal saya. Suatu ketika Ayah membelikannya minuman yang dibuat dari anggur yang katanya untuk menjaga kesehatan Nenek. Saya ingin mencoba, tetapi Nenek menolak. Suatu malam saya bilang kepada Ayah mau tidur sama Nenek karena dia pandai mendongeng. Kakek saya sudah almarhum sebelum saya sempat mengenal wajahnya. Nenek pintar mendongeng. Setelah saya lulus SD dan membaca Alkitab, ternyata beberapa dongengnya mirip yang ada di Alkitab. Misalnya saja tentang seorang yang berilmu tinggi dan ingin bertanding melawan Allah. Pendekar ini kemudian membuat tangga yang setiap hari makin tinggi. Sayang sekali ketika melewati awan, tangga ini rubuh sehingga ia tewas sebelum bertemu Allah. Ada juga dongengnya yang mirip-mirip banjir Nuh.

 
        Nenek juga senang bila saya mau berbaring di sampingnya. Saya mendengar ceritanya dengan sabar dan tidak nakal walau satu cerita sering diulang beberapa kali seperti siaran warta berita di radio. Biasanya, sebelum cerita sampai the end, dia sudah tidur pulas. Pelan-pelan saya turun dari tempat tidur dan memanjat rak tempat dia menyimpan botol anggur. Saya mengambilnya dan minum satu sloki. Manis di lidah, hangat di perut. Setelah itu saya pulang ke rumah dan bilang kepada Ayah saya mau tidur di rumah karena Nenek sudah duluan tidur. Satu sloki untuk anak sekecil itu tentu membuat ia langsung tidur begitu kepalanya menyentuh bantal. Dan ini membuat senang hati Ayah yang mungkin berpikir dongeng Nenek memang manjur membuat mata cucunya mengantuk. Ia juga senang melihat Nenek rajin minum anggur itu sehingga sebotol pasti habis sebelum sebulan. Kalau Nenek ketika mau berbaring bertanya kepada saya apakah ia sudah minum anggur, segera saya jawab “sudah!”

 
        Sayang sebelum genap satu tahun minum anggur kesehatan Nenek merosot tajam. Dia sakit karena tua, bukan karena anggurnya jarang diminumnya. Ketika saya diberitahu dia akan meninggal, saya bersikeras menungguinya dengan duduk atas tempat tidurnya walau saat itu menjelang tengah malam sementara anak-anak dan cucu lainnya menunggu di luar kamar. Saya memegangi tangannya dan mengelus-elusnya. Setelah yakin dia tidak lagi menarik nafas, saya turun dari tempat tidur dan memberitahu Ayah bahwa Nenek sudah meninggal.

 
        Jenazah Nenek dimasukkan ke dalam peti jati yang besar. Meja sembahyang disiapkan. Banyak makanan yang diletakkan di atas meja itu. Makanan yang menerbitkan selera tetapi saya tidak boleh mencicipinya. Yang paling menarik adalah wajik merah yang berbentuk kerucut besar. Pada hari kedua saya minta ijin Ayah untuk tidur dekat peti mati. Ayah mengijinkan karena tahu saya sayang Nenek. Ketika semua penjaga peti telah tidur, saya mengangkat wajik merah itu dan mengorek bagian bawahnya. Ini dosa kecil karena siapakah yang dirugikan? Wajik ini untuk Nenek tetapi saya tahu Nenek tidak bisa lagi menyantapnya. Ini dosa karena saya sudah diwanti-wanti bahwa semua masakan, buah dan kue di atas meja sembahyang itu tidak boleh dimakan oleh mereka yang hidup. Semua barang itu akan dibakar di depan kuburan Nenek. Dan empat hari kemudian orang-orang gempar ketika akan membakar wajik ini karena bagian dalamnya telah berongga besar. “Walau sudah meninggal Nenek masih doyan banget makan wajik,” kata mereka. Saya diam mendengar komentar-komentar takjub mereka. Saya tidak takut karena ini dosa kecil yang hukumannya hanya dipanggang sinar matahari siang.

 
        Ah, itu bukan dosa, mungkin begitu komentar Anda. Itu hanya sekedar kenakalan anak-anak. Saya juga setuju bila kejahatan itu disebut kenakalan, seperti juga ketika konsep dosa kecil ini dibawa ke dalam kehidupan orang dewasa. Kalau seorang lelaki ketika berdesakan dalam bis kota punya hobi menempel rapat-rapat ke tubuh seorang perempuan yang berdiri di depannya, apakah ini sebuah dosa? Apakah perempuan itu dirugikan jika dia sudah menyadari bahwa setiap naik bis di kota ini selalu saja tubuhnya dihimpit dari segala arah? Kalau agama bilang itu dosa, dosa kecil sajalah.

 
        Jika kita sedang membetulkan genteng bocor dan kebetulan melihat tetangga perempuan sedang mandi karena kamar mandinya tidak beratap, apa yang harus kita perbuat? Bergegas turun dari genteng dengan resiko perempuan itu tahu ada orang di atas sehingga dia berteriak-teriak histeris? Yang terjadi kemudian akan membawa kita didakwa telah melakukan dosa besar. Bukankah lebih baik kita tiarap diam di atas genteng sehingga peristiwa itu berlalu dengan tenang? Jika tetap Anda mengatakan itu juga berdosa, itu hanya sekedar dosa kecil karena tidak menimbulkan dampak negatip yang besar.

 
        Kriteria yang menentukan sebuah dosa disebut besar atau kecil agaknya lebih bertumpu kepada seberapa besar dampak negatipnya terhadap diri pelakunya dan orang lain yang dirugikan oleh tindakannya. Tetapi kebiasaan melakukan dosa kecil akan menggoda kita memasukkan aspek lain dalam kriteria itu, yaitu perbandingan dengan yang dilakukan oleh orang lain. Jika atasan Anda mengkorup uang negara 1 milyar rupiah dan Anda ikutan mengemplang uang 10 juta rupiah, maka Anda akan mengatakan dosa Anda adalah dosa kecil. Tetapi bawahan Anda yang ikutan memalsukan nota bensin sebanyak 100 ribu rupiah akan mengatakan Anda melakukan dosa besar. Kriteria dengan parameter relatif inilah yang bisa membuat masyarakat protes bila ada seorang nenek yang mencuri biji coklat seberat 2 kilo diseret ke depan meja hijau karena yang mencuri uang negara triliunan rupiah belum juga dimasukkan ke sel tahanan.

 
        Bagi orang Kristen tidak ada dosa yang disebut besar atau kecil. Mengapa demikian? Karena dosa sekecil apapun itu diibaratkan seperti setetes baygon yang masuk kedalam sepanci susu sapi. Apakah karena racun itu hanya setetes Anda mau memberikan susu itu kepada bayi Anda? Tentu tidak, karena Anda tahu seluruh susu itu telah tercemar dan mengandung racun. Karena pada jamannya belum ada bayi yang minum susu sapi atau susu kambing, Paulus mengatakan “Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan? Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi” (1 Korintus 5:6,7).

 
        Dengan berlandaskan pengertian ini pula kita tidak bisa menuduh Allah kejam ketika mengusir Adam dan Hawa dari Taman Eden gara-gara mereka makan buah pengetahuan. Kita tidak bisa berargumen, “Buah itu ‘kan tidak mahal. Hanya satu saja sedangkan sisanya masih banyak.” Dosa yang mereka lakukan bukan makan sebiji buah itu, tetapi melanggar larangan Allah.

 
        Namun demikian masih ada orang yang tidak bisa mengerti mengapa Allah membunuh Uza akibat ia memegang tabut untuk mencegahnya terguling jatuh dari kereta yang mengangkutnya (2 Samuel 6:1-8). Uza bermaksud baik. Cintanya kepada Allah membuat secara reflek ia memegang tabut. Pasti saat itu otaknya tidak sempat berpikir bahwa tindakannya itu menodai kekudusan Allah. Tetapi mengapa Allah tega membunuhnya? Apakah dosanya jauh lebih besar dari dosa berdustanya Rahab ketika menyembunyikan 2 pengintai Israel? (Yosua 2:2-5).

 
        Cara Allah menghakimi sulit diterima oleh pengertian manusia tetapi tetap saja kita berusaha merasionalkannya. Uza berdosa karena yang dirugikan adalah Allah dan dilakukan di depan umum sedangkan dosa Rahab tidak berat karena yang dirugikan adalah manusia lain, kafir lagi. Kembali lagi kita memilah-milah bobot dosa karena diam-diam dalam kelemahan kita tetap berkeinginan memegahkan diri (kalimat pembuka 1 Korintus 5:6 – “Kemegahanmu tidak baik”). “Betul, saya masih berdosa. Tetapi nggak besar-besar amat kok. Yang penting, saya tidak berdosa merugikan Allah dan bila saya berdosa saya tidak merugikan orang lain.”

 
        Dosa apa yang tidak merugikan orang lain? Memaki orang dalam hati. Mengumpat pendeta kita yang matre ketika mau tidur. Berkayal menjadi reformator gereja dengan menembak mati para penatua dan pendeta yang tidak alkitabiah lagi. Bukankah kejahatan ini tidak merugikan orang yang kita benci selama tidak kita ungkapkan berterang-terang? Tetapi Paulus mengingatkan pikiran-pikiran manusia akan melahirkan tindakan (Roma 1:28-32) dan manusia baru ditandai dengan adanya pembaruan roh dan pikiran (Efesus 4:23).

 
        Sebagai mahluk yang berakal budi, kita bisa menyiasati dosa sehingga tidak memberi citra jelek kepada diri kita, bahkan tidak diketahui oleh orang lain. Kecerdasan yang Tuhan anugerahkan kita pergunakan memelintir ayat-ayat Alkitab untuk pembenarannya. Tetapi karena kita manusia Allah (1 Timotius 6:11), nama Allah ikut tercemar sehingga suatu saat Ia bertindak. Bukan untuk menghancurkan tetapi agar kita sadar bahwa Junjungan kita tidak tidur dan ingin kita makin hari makin kudus.

 
        Sebuah gereja di Bandung memanggil pendeta dari gereja lain untuk memimpin ibadah Minggu. Kotbah yang dibawakannya membuat warga jemaat makin mengenal Allah dan termotivasi untuk ikut bekerja di ladang Tuhan. Usai ibadah hampir setiap jemaat yang menyalami beliau di pintu keluar mengucapkan kata terima kasih. Ruang ibadah telah sepi kecuali tim multi media yang masih sibuk membereskan perlengkapannya. Ketika mereka menggulung kabel, barulah mereka tahu di atas mimbar ada laptop yang masih terbuka. Itu laptop milik pendeta tamu yang tadi dipergunakan sementara berkotbah. Mereka menutup aplikasi power point dan ketika akan menutup aplikasi explorer mata mereka melihat sebuah directory dengan nama yang memancing minat. Dua kali klik mata mereka terbelalak karena di layar monitor terpampang video porno.

 
        Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah nyata ini? Kalau mau mengunduh file-file porno, simpanlah dalam flashdisk yang tidak bertanda (supaya bisa mengatakan itu tertukar dengan milik jemaat bila ketahuan), jangan di laptop yang sering dibawa pelayanan. Dengan demikian dosa kecil Anda tidak berubah menjadi dosa besar yang merugikan banyak orang dan Allah. Begitukah?

 

(the end)