Seiring dengan perkembangan kekristenan di negeri ini, bermunculan pula gereja-gereja baru dengan tata ibadah yang bervariasi. Mungkin karena beda denominasi, sehingga mereka mengadopsi liturgi dalam ibadah sesuai dengan paham dan dasar-dasar denominasi dari masing-masing gereja. Namun yang menjadi sedikit rancuh, bahwa ada beberapa gereja yang menganut satu denominasi namun mereka memiliki sedikit perbedaan dalam tata ibadahnya, meskipun tidak terlalu sentral memang letak perbedaannya, namun jika dipikir lebih dalam itu bisa terindikasi bahwa kurang adanya perhatian dan kesatuan dalam tubuh denominasi gereja tersebut. Pengalaman saya selama menjadi orang Kristen, saya pernah masuk beberapa gereja dengan latar belakang denominasi yang berbeda-beda, namun hanya datang ibadah saja dan tidak menjadi jemaat tetap. Banyak yang unik dan menarik.
Saya pernah masuk di salah satu gereja di ibukota, awalnya saya sangat aneh karena tata ibadahnya tidak biasa saya ikuti, dan yang membuat saya lebih merasa aneh bahwa dalam satu ibadah itu ada tiga kali kotbah dan dibawakan oleh orang yang berbeda pula. Kemudian pengalaman saya juga waktu saya mengikuti sebuah acara Reat-reat dan KKR di sebuah kota di Jawa Tengah, saya juga merasa bingung dan merasa aneh sendiri awalnya, karena dalam setiap ibadah yang saya ikuti dalam acara tersebut, semuanya tanpa ada persiapan sebelumnya, semuanya berjalan secara spontan, baik pemimpin pujian yang tiba-tiba maju kedepan dan memimpin sebuah lagu, begitu juga dengan yang kesaksian yang spontan maju kedepan dan bersaksi tentang penglihatan yang ia baru peroleh dari Roh Kudus, dan tidak luput juga yang berkotbah, semuanya serba spontan, dan menurut pimpinan Roh Kudus menurut mereka. Jadi jika ada diantara jemaat juga yang merasa tergerak dan digerakkan oleh Roh Kudus, maka seketika itu juga dia akan maju baik memimpin satu atau dua lagu pujian, bersaksi dan ada juga yang tiba-tiba maju kedepan untuk menyampaikan Firman Tuhan jika dia merasa mendapat rema dari Roh Kudus.
Aneh memang pada awalnya pengalaman saya masuk beberapa gereja dengan tata ibadah yang berbeda-beda, namun saya bisa memaklumi semuanya itu sebagai satu keragaman bentuk tata ibadah atau liturgi yang diadopsi oleh sebagian gereja-gereja yang ada di negeri ini. Buat saya selama liturgi itu tidak menyimpang dari Firman Tuhan dan Yesus sebagai satu-satunya fokus dalam ibadah, semuanya dapat dimaklumi. Kiranya dengan banyaknya keragaman liturgi gereja yang ada di negeri ini, kita wajib bersyukur bahwa Tuhan senantiasa dapat menerima pujian dan penyembahan kita dalam bentuk yang beragam.
Submitted by
josimut
on