Submitted by mikael1067 on

Alat transportasi yang satu ini mungkin sangat berbeda dibandingkan dengan moda transportasi yang lain. Karena bentuknya yang panjang, berupa sebuah lokomotif (pada umumnya) dan 6-12 gerbong bersambung mengikuti, moda transportasi ini disebut dengan ular besi. Namun, ada juga yang menyebutnya kuda besi (entah apanya kok ya sampai disebut dengan “kuda”).

Di antara banyak moda transportasi darat, kereta api layak disebut sebagai moda transportasi yang paling menakjubkan. Bayangkan saja, apabila satu gerbong kelas ekonomi mampu menampung 106 penumpang (semuanya duduk), maka dalam satu rangkaian kereta kelas ekonomi akan dapat mengangkut 11 kereta (bukan gerbong, gerbong untuk barang!) x 106 penumpang, maka kita dapatkan angka 1166 penumpang. Itu dengan catatan semua penumpang mendapat tempat duduk dan penumpang yang naik di KMP (Kereta Makan dan Pembangkit) belum dihitung, kasarnya, satu rangkaian kereta kelas ekonomi dapat mengangkut sekitar 1200 penumpang. Dengan asumsi bahwa bahan bakar yang dibutuhkan oleh lokomotif berjalan dari Jakarta sampai Surabaya adalah 3000 liter HSD (High Speed Diesel), bayangkan saja efisiensinya! Itu belum lagi kalau pas musim liburan atau lebaran, satu rangkaian kereta ekonomi dapat mengangkut mungkin sampai dengan 1500 orang penumpang dalam satu rangkaian! Betapa sesungguhnya kereta api adalah moda transportasi darat yang paling efisien!

Di tengah maraknya seruan untuk berhemat, rasanya aneh sekali mengetahui bahwa angkutan ini masih saja menjadi anak tiri pemerintah. Ah, sudahlah, capek rasanya membahas pemerintah yang asyik membangun jalan tol dari pada membangun jalan rel dan membeli saran dan prasaran perkeretaapian. Lebih baik saya lanjutkan cerita saya tentang kereta api dan mengapa saya menjadi pecinta kereta api.

Efisiensi yang terkandung dalam kereta api hanyalah salah satu alasan yang mendasari saya untuk mengagumi kereta api. Selain itu, masih teramat banyak alasan lain. Nostalgia adalah salah satunya.
    Pengalaman saya pertama kali naik kereta api, seingat saya adalah sewaktu saya berumur 6 atau 7 tahun. Waktu itu, saya bersama dengan keluarga naik kereta (saya lupa namanya) ke Surabaya. Sebagai seorang anak kecil, kekaguman saya begitu memuncak melihat gagahnya lokomotif (waktu itu masih bercat merah-biru) melintas di depan saya. Apalagi sewaktu lokomotif tersebut membunyikan semboyan 35-nya (klakson lokomotif). Sebagai anak kecil, saya benar-benar tersihir oleh si ular besi.
Dan, kekaguman itu pun berlanjut. Setelah itu, setiap kali bepergian dengan Bapak saya, setiap melintas di palang pintu kereta, saya memaksa Bapak untuk berhenti dan tidak akan melanjutkan perjalanan selama saya belum melihat kereta melintas (nakal sekali ya? Hehehehe).

Walaupun sejak kecil sudah menyukai kereta api, namun wujud kesukaan itu baru sebatas meminta orang tua untuk membelikan mainan kereta api, belum se-ekstrim sekarang :p. Ketika saya kelas 5 dan 6 SD sampai berakhirnya masa SMA, kecintaan saya terhadap kereta api seakan meredup, namun tidak padam. Berbagai kesibukan yang silih berganti, seakan menutup mata saya dari kereta api yang sebenarnya memiliki jalur dekat rumah. Hingga, tiba akhirnya masa kuliah saya. Saat itu adalah masa-masa semester akhir perkuliahan aktif. Ketika saya sedang sibuk mengerjakan skripsi saya, tiba-tiba sebuah undangan pernikahan datang dari kota Jakarta; kakak sepupu saya akan menikah. Bersama dengan ibu, saya terlebih dahulu berangkat ke Jakarta, Ayah dan adik saya akan menyusul. Kami memutuskan untuk pergi ke Jakarta dengan Kereta Api, naik KA Fajar Utama dari Stasiun Tugu Yogyakarta.

Perjalanan yang kami kira akan mulus ternyata tidak berjalan semestinya. Ketika kereta melaju selepas stasiun Kretek (kalau tidak salah stasiun setelah Purwokerto), laju kereta tiba-tiba menjadianeh. Terdengar bunyi “gruk-gruk-gruk” dari bawah kereta dan kereta pun berhenti, cukup lama padahal bukan di stasiun. Kereta sedang akan melintas di sebuah jembatan yang sedang diperbaiki. Ketika saya melihat ke luar kereta, beberapa pekerja perbaikan jembatan melambai-lambaikan bendera merah. Hal itu tentu saja membuat beberapa penumpang mulai bertanya-tanya; apa yang sedang terjadi? Seorang pedagang asongan yang berjalan dari kereta (bukan gerbong) bagian depan memberitahu kami bahwa kereta nomor 1 (di belakang lokomotif) anjlok. Kepanikan melanda penumpang: bagaimana kalau kereta ini ditabrak dari arah depan atau di sundul kereta di belakangnya? Tak lama kemudian muncul pak Kondektur yang memberi tahu bahwa sebentar lagi lokomotif penolong akan dikirim dari Purwokerto untuk menarik rangkaian ke stasiun Kretek, stasiun yang baru kami lalui. Setelah rangkaian ditarik ke stasiun Kretek, mulailah masa “penantian” kami, para penumpang. 
    Sambil menunggu kereta untuk melanjutkan perjalanan, saya berjalan-jalan di sekitar stasiun sementara Ibu saya minta menunggu di dalam kereta. Saya mengamati bangunan stasiun Kretek, sebuah bangunan model lama, entah dibangun tahun berapa, namun saya merasakan nuansa tersendiri ketika memasukinya: ada petugas stasiun (kepala stasiun, PPKA, dan petugas keamanan), para penduduk sekitar yang menonton evakuasi, para pedagang asongan, hingga para penumpang kereta yang bosan dan memilih berteduh di stasiun. Inilah Kereta Api Indonesia, inilah manusia-manusianya…
    Bosan menjelajahi stasiun, saya duduk di bordes dan menatap sawah yang membentang di depan saya. Lamunan saya terpecah ketika terdengar suara klakson lokomotif (belakangan saya tahu namanya “Semboyan 35”) dengan sebuah lokomotif meluncur memasuki stasiun dengan menarik sebuah kereta (sekali lagi, bukan gerbong, gerbong itu untuk menarik barang, bukan orang) yang belum pernah saya lihat.

Tak menyia-nyiakan momen, saya mengambil gambar dengan kamera ponsel saya. Lokomotif beserta satu kereta itu berhenti tepat di dekat saya. Beberapa pekerja dan petugas kereta api turun dari kereta penolong itu. Sempat saya amati isi kereta penolong itu adalah peralatan untuk memasang rel, beberapa batang rel, bantalan rel, dan boogie kereta. Tak lama kemudian kereta itu melanjutkan perjalanan menuju tempat dimana kereta 1 anjlok.

Setelah menunggu selama kurang lebih 5 jam  kereta dapat melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Sesampainya di stasiun Pasar Senen, kereta kami masuk ketika rangkaian kereta api Senja Utama Solo sudah hampir berangkat. Betapa lamanya perjalanan kami! Kami berangkat pukul 08.00 pagi dan sampai di Jakarta pukul 20.30! Walau lelah dan sedikit kesal (Ibu saya sudah ngomel-ngomel) namun ada nuansa keasyikan tersendiri yang saya rasakan… Entah saya sadari atau tidak, “nuansa keasyikan menikmati kereta api” itulah yang akan memupuk kecintaan saya pada kereta api di kemudian hari…

(diambil dari sini)