Mulut terbuka tapi tak berkata..
itukah kelu.... ??
Terakhir kali naik taxi di Jakarta kira-kira di tahun 2001, ketika itu saya ke Jakarta sendirian untuk pertama kalinya, untuk keperluan apa saya sudah lupa, yang pasti yang tidak akan pernah lupa adalah ketika naik taxi dari bandara menuju ke rumah kakak ipar saya di perumahan Poris. Alamat saya tulis di secarik kertas dan saya berikan ke sopir taxi yang mengantar saya, pertama kali yang ditanyakan sang sopir adalah lewat mana bu? aku jawab terserah.. nah setelah itu.. kok lama nggak sampai-sampai.. padahal biasanya tidak sejauh ini.. hingga sampailah di tangerang kota.. lalu aku telpon kakak saya kok pak sopir bingung jalan atau apa .. rasanya perjalanan amat jauh.. lalu kakak saya minta telpon langsung ke pak sopir untuk di beri arahan.. sampai beberapa saat... masih nggak tahu lagi.. kata pak sopir.. lalu aku telpon lagi.. dan akhirnya setelah hampir 2 jam di taxi.. kakak saya tanya sekarang posisi dimana? akhirnya saya jawab lewat rumah sakit.. akhirnya kakak menyuruh saya berhenti di rumah sakit tersebut dan disuruh menunggu.. untuk di jemputnya. Waduh.. ternyata di-apusi sopir taxi yang pura-pura bego.. Setelah itu kapok.. nggak akan naik taxi lagi di Jakarta..
Kemarin Sabtu tanggal 3 Januari 2009.. ke Jakarta sendirian juga.. biasa di jemput oleh kantor cabang Jakarta, namun karena kantor masuk tanggal 5 maka tidak ada yang jemput, wah akan mengulang sejarah naik taxi lagi nih.. sebenarnya masih jinjo (sedikit trauma) naik taxi.. sebel aja karena di puter-puter.. meski kejadian sudah delapan tahun.. masih males berhubungan dengan sopir taxi jakarta.. ketika saya kasih tahu kepada Liesiana dan Hai-Hai bahwa Joli akan ke Jakarta.. Lies menawarkan akan menjemput.. jadi terharu loh Lies.. begitu juga.. dengan Hai-hai.. sms.. mau dijemput? wah jadi semakin terharu biru.. asik nggak perlu berhubungan dengan taxi... malamnya lanjut kopdar (klik Jakarat waktu malam)
Minggu setelah seharian jalan-jalan di ITC mangga dua, sampai jam 3 sore, dan masih banyak waktu.. mau ngapa-in.. lalu saya teringat kepada wanita yang sangat saya hormati yang tinggal di pantai mutiara... lalu saya putuskan untuk mengunjungi Kakak papa-ku yang biasa saya panggil Kho De (Akho gedhe), yang membiayai sekolah adik-ku di Satya Wacana.. beliau, wanita tua yang amat tangguh dan sangat baik hati.. sehingga papa biasa mengumpamakan-nya sebagai orang yang berdarah putih karena saking baiknya... melaluinya keluarga bisa mentas satu persatu..
Di depan Hotel, ada banyak taxi blue bird mangkal.. sore itu setelah telpon menanyakan alamatnya, saya memberanikan diri untuk kembali naik taxi.. sebelumnya persiapan dulu, tanya hai2 , tanya arah ke pantai mutiara itu kemana, lewat apa aja, supaya nggak di bohongi sopir taxi lagi.. mosok diapusi lebih 2x ? nanti kayak keledai dong..
Ternyata bapak sopir taxi.. ini baik, ketika aku mulai ajak ngobrol dari mana asalnya, ternyata dari Tuban Jawa Timur.. merasa sama-sama dari Jawa Timur.. biasa joli sok akrab lah.. ngobrol dengannya ternyata asik juga.. bekerja 4 hari libur 2 hari.. itulah pola bekerja taxi, sehingga kadang dan sering nggak cukup untuk biaya hidup di jakarta.. perasaanku jadi gimana gitu.. aku mengatakan bahwa aku pernah coba hitung biaya hidup di kota.. bila yang bekerta hanya suami dengan upah UMR.. maka tidak akan cukup, kecuali bila anak-istri tinggal di desa.. cerita banyak hal juga sepanjang perjalanan.. jadi ingat Iik.. bila Joli adalah Iik.. pastilah sudah cerita tentang Tuhan Yesus.. namun mulut ini tetap belum bisa bercerita ttg Yesus, meski sangat fasih bercerita apa aja.. hingga tak terasa sudah sampai alamat yang di tuju meski sempat kesasar sekali sebelum diantar pak satpam perumahan.. karena kebaikan pak sopir, maka joli minta dia menunggu.. dalam hati mikir biar dia dapatnya setoran lumayan, karena kalau nunggu kan argo jalan tapi nggak pakai bensin, supaya bisa bantu buat beli susu anaknya..
Sungguh suatu kebetulan yang amat membahagiakan.. bukan hanya Kho Dhe namun juga ketemu Kho Ngah (Akho tengah), juga Cie-Cie.. sedang ngumpul.. hari yang indah, dimana saya diijinkan untuk pai-pai hatur hormat dari keponakan.. dibalas dengan pelukan sayang dari mereka.. katanya .. dengaren (tumben).. setelah itu asik bercerita tentang kesehatan para wanita2 tua yang mulia.. mereka berumur 75th dan 79 th.. serasa kembali ke habitatku kembali merasakan kehangatan keluarga yang kental..
Setelah satu jam lebih dua puluh menit saya kembali ke Hotel, ternyata pak sopir lebih baik daripadaku.. karena argo tidak dinyalakan selama menunggu, untuk seorang teman katanya.. wah bubar sudah trauma dan ke-kesal-an kepada sopir taxi.. sesampai di hotel uang yang sudah aku sediakan untuknya tetap aku berikan .. untuk susu anak begitu kataku.. sambil janjian besok untuk jemput lagi jam 8 pagi.. menuju bunderan HI..
Paginya.. mendapat sms dari Susan untuk segera ke kedutaan di Bunderan HI yang buka jam 7.30.. maka dengan speaker hotel aku pesan untuk memanggil taxi temanku dengan no pintu 5** namun ternyata taxi yang dimaksud belum datang.. lha emang janjiannya jam 8, maka ya wis sembarang taxi juga nggak apa.. setelah masuk taxi.. ternyata bapak taxi yang ini juga baik, karena pak gendut(taxi PT5**) semalam cerita ama temen2nya.. wah Joli jadi banyak teman sopir taxi nih.. yang ini malah sempat kasih no hapenya supaya sewaktu-waktu selesai dia bisa menjemput. dan benar.. setelah selesai keperluan, segera sms dia, nggak sampai setengah jam, taxi sudah menjemputku. lanjut jalan-jalan ke TA, sambil menitipkan koper kepada IIS istrinya Hai yang kerja di TA.. asik bisa keluyuran di mall.. meski nggak direncanakan.. bisa window shoping alias cuci mata, dan pas waktu makan siang, Hai-hai datang untuk nraktir ... asik.. kopdar lagi ama hai2 dan iis.. selain cerita, ngobrol ternyata Hai-hai memang bener-bener pinter sulap, ada beberapa trik sulap yang diajarkan.. wah bisa untuk atraksi di sekolah minggu nih, untuk curi perhatian anak-anak.. he.. he..
Hingga waktunya pulang, sudah nggak takut lagi naik taxi ke bandara.. bye2 Jakarta..
Sesampai airport masih ada sisa waktu.. aku pergunakan untuk refleksi pijet kaki.. yang puuueegell karena banyak jalan2.. sampai panggilan untuk boarding.. setelah naik pesawat.. wah karena ada kerusakan turun lagi.. tunggu pesawat balen dari Lampung.. selama menunggu di ruang tunggu, ngobrol dengan mas-mas.. bekerja di tangerang.. yang tergesa-gesa mau pulang solo.. malah ditunda.. kenapa tergesa2 tanyaku.. ternyata siang itu ibunya meninggal.. makanya harus segera pulang.. setelah mengucapkan salam duka cita kami ngobrol macam-macam untuk menunggu waktu.. hingga seperti teman lama.... teringat Iik kembali.. saat yang pas, tema pembicaraan yang pas.. namun kenapa mulut ini sulit bercerita tentang keslamatan yang dari Yesus ??
Kenapa ya?.. mengapa ya?? sudah berkali-kali kejadian seperti ini.. mengapa sulit bersaksi?? karena cintaku kepada Tuhan yang kurang? ataukah?????
Mulut terbuka tapi tak berkata..