Submitted by Tante Paku on

     KETIKA kita mempunyai tokoh yang menjadi idola bahkan sampai kategori fanatik, kita akan selalu berusaha mencari seluk beluk kehidupannya yang lain, bukan yang dianggap positip saja, yang negatip pun akan dipelajarinya. Ada yang tetap fanatis memujanya apa pun yang ada dalam kehidupannya, tapi ada yang meninggalkannya tatkala tahu ada sisi negatip yang membuatnya kecewa. Ada juga yang bijak untuk meneladani sisi positipnya saja.

     Yesus Kristus adalah tokoh besar sepanjang abad, yang mampu mengubah kehidupan bermilyar manusia penghuni bumi ini untuk mengikuti
ajaranNya. AjaranNya  tertulis dalam BIBLE yang kata ini berasal dari kata Yunani BIBLIA, kata Alkitab sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti BUKU TERAGUNG. Istilah PERJANJIAN LAMA dan PERJANJIAN BARU bersumber dari Nabi Yeremia, ketika ia berbicara tentang masa depan Israel yang gilang gemilang seperti yang sering dikatakan para nabi. Dan Yesus Kristus adalah Mesias yang dijanjikan dalam kitab-kitab Perjanjian Lama dan kitab-kitab Perjanjian Baru merupakan penggenapan janji-janji
tersebut.

     Yesus Kristus yang oleh umat Kristen disebut Tuhan, karena memang Yesus sama dan setara dengan Allah Bapa dan Allah Roh, ini jelas terungkap dalam tata baptisan di mana nama-nama tersebut selalu manunggal. Maka tidak salah kalau banyak umat mengidolakan Dia dalam hidupnya, menjadikan Dia teladan untuk hidupnya, menggantungkan Dia dalam menopang hidupnya, karena Yesus adalah Tuhan, walau telah menjadi manusia tapi Dia adalah kudus, mutlak kudus, TANPA tabiat dosa!

     Namun masih saja banyak dari kita yang ingin tahu kehidupan Yesus ketika usia l3 sampai 29 tahun, dimana Dia belum memulai pelayananNya.
Alkitab tidak mencatatnya secara lengkap, karena Alkitab bukan buku riwayat hidup yang terperinci, sekali lagi Alkitab adalah Firman Tuhan yang tertulis.

     Kenapa kita mesti penasaran dan berusaha keras menafsirkan ayat-ayat yang ada dengan kehidupan Yesus pada usia-usia yang tidak tercatat itu?
Bahkan kita berusaha keras bahwa penafsirannya tersebut pasti benar karena didukung ayat-ayat yang tertulis , apakah hal itu penting untuk diketahui dalam perjalanan kehidupan kita?

     Yang kita tahu Maria adalah ibu kandung Yesus dan Yusuf atau Yosef adalah bapak piaranya. Setelah lolos dari murka Herodes, Maria dan Yusuf mendidik bayi itu di rumah mereka di Nazaret (Luk 2:4). Bayi Yesus terus bertumbuh, meski berkodrat Allah, Ia menempuh suatu kehidupan yang normal. Bapaknya adalah tukang kayu dari Nazaret, dan seorang Yahudi. Saya yakin, bapak dan ibunya pasti mengajarkan Taurat sebelum masuk sekolah untuk belajar membaca dan menulis Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. (Luk 2:40).

     Sebagai tukang kayu, Yusuf  mungkin sering mengajak Yesus belanja perkakas tukangnya, walau Yesus  punya teman-teman sepermainan juga. Yesus dan keluarganya pastilah menetap di Nazaret, dianggap tempat yang tidak bernilai sama sekali, letaknya berada di daerah pegunungan sebelah utara Palestina. Kota ini memang tak terkenal dan disepelekan orang di antara daerah-daerah lain di Galilea. Nazaret berasal dari bahasa Hibrani/Ibrani, NAZAAR yang artinya JALAN.

     Baru dalam usia 12 tahun Yesus diajak bapaknya merayakan Paskah di Yerusalem, karena kebiasaan Yahudi, usia demikian dianggap pria dewasa yang sama besar tanggung jawabnya dalam kewajiban-kewajiban keagamaan. Yesus mungkin cukup tinggi di antara kawan-kawannya dan penampilannya serius. Di bait Allah terjadilah peristiwa kehilangan anak.

     Setelah lelah mencari selama 3 hari, akhirnya Yesus ditemukan di Bait Allah duduk di tengah-tengah ALIM ULAMA  (Para Rabbi/Farisi) dalam suatu diskusi yang hangat. Karena ada anak seusia muda itu dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat para alim ulama itu tercengang.

     "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."

     "Mengapa engkau mencari Aku?"

     Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. (Luk 2:48-50)

     Yesus adalah adalah seorang anak yang patuh dan penurut. Setelah mengucapkan rasa terima kasih-Nya kepada para alim ulama itu, lalu pergi
bersama orangtuanya kembali ke Nazaret. Mulai dari waktu itu sampai mencapai umur 32 tahun, jadi selama duapuluh tahun lamanya Yesus tinggal di Nazaret. Ia dikenal oleh kaum kerabatnya, orang-orang sekampungnya dan sahabat kenalannya.

     Yesus menjadi bagian dari dua keluarga besar dari pihak Yusuf dan pihak Maria. Dia mempunyai banyak saudara, dan menurut adat istiadat Timur Dia harus mencintai semuanya. Juga saudara sepupu dari cabang keluarga yang paling jauh sekalipun. Inilah sebabnya mengapa dalam Kitab Suci Yesus dikatakan mempunyai banyak saudara dan saudari, dan semua
mencintai Dia, sama seperti Dia mencintai mereka. Sifa tan watak-NYa menjadi kesukaan besar bagi sukunya.

    Boleh jadi bahwa Yesus itu seseorang yang luar biasa, sedikit lebih cerdas daripada anak-anak yang lain yang sebaya dengan Dia. Ia sepertinya segan bersenda-gurau, mengingat kesukaanNya adalah duduk bersama para orangtua dan mendengarkan pembicaraan mereka. Bahkan kerap kali Ia turut menambah pelbagai hal baru ke dalam percakapan mereka.

     Yesus dengan kodrat insaninya bisa juga tersinggung, jika tangan-Nya tergores benda tajam maka darah pun mengucur keluar, atau saat sang ibu
menegur-Nya, Ia bisa susah dan menyesal. Ketika membantu sang bapak dalam bengkel, pasti sang bapak akan memerintah Yesus untuk menyerut sebilah papan, bila pekerjaan-Nya bagus sang bapak pun tak segan untuk memujiNya, Ia pun pasti berusaha keras untuk menyenangkan bapak piaraNya itu. Ketika sang bapak meninggal, pastilah Yesus akan menangis dan terpukul sekali, mungkin untuk pertama kalinya Yesus mengucurkan airmata manusia dewasa. Semua kenangan yang ditinggalkan laki-laki
yang saleh dan setia, cintanya yang hangat dan murni, tak bisa lepas begitu saja dalam ingatanNya.

     Yesus pasti menangis, sedih, sangat sedih. Namun dalam dukaciata-Nya itu Yesus tetap tidak sendirian, Ia masih bersama Maria sang ibu. Yesus kemudian meneruskan pekerjaan bapaknya sebagai tukang kayu.

     Pada suatu hari, Yesus mendapat order untuk membuatkan meja berikut kursi yang tak lazim pada zaman itu. Meja yang dibuat adalah meja yang cukup tinggi, zaman sekarang disebut MEJA MAKAN. Kebiasaan zaman Alkitab adalah duduk berjuntai di ranjang ketika makan. Sementara orang-orang Roma ketika makan merebahkan diri di kursi panjang, tatanan meja makan yang dipakai secara umum disebut TRICLINIUM. Meliputi meja pendek berbentuk bujur sangkar dengan tiga kursi di antara tiga sisinya.
Barangkali, Yesus telah mempersiapkan meja perjamuan terakhir-Nya hasil karya originalNya yang tidak banyak diketahui orang pada waktu itu. Karena  memang karya Yesus bukan untuk duniawi, jadi karya furniture yang unik itu tidak menjadi kebanggan-Nya,  mungkin setelah jadi banyak tukang kayu yang menirunya,  sekarang meja makan sudah
menjadi kebutuhan penting untuk kehidupan berumahtangga.

     Kalau anda ingat film karya Mel Gibson THE PASSION OF THE CHRIST, ada sebuah adegan menceritakan Maria heran melihat Yesus membuat meja yang tinggi dan bangku yang tinggi. Untuk orang kaya, jawab Yesus ketika ditanya sang ibu. Dan adegan itu menginspirasi saya untuk menulis blog ini beberapa tahun yang lalu. Ah, benarkah Yesus yang pertama kali membuat MEJA MAKAN dan KURSINYA pada zaman itu? Kalau bukan yang pertama kali, kenapa Maria keheranan? Tanya saya muncul pada waktu melihat adegan itu.

     Demikianlah dalam usia yang dianggap hilang dalam kisah-kisah hidup-Nya, Yesus seorang pemuda dewasa yang bekerja sebagai tukang kayu dan teman-teman sebaya-Nya tidak mengetahui keadaan-keadaan luar biasa yang terjadi pada kelahiran-Nya, karenanya mereka juga pasti tidak
mengerti akan keilahian-Nya. Ketulusan yang terpancar dari mataNya selalu memperkuat kebenaran yang diucapkan oleh mulut-Nya. Dan itulah yang
penting dalam kehidupan-Nya, ajaran-Nya tentang KASIH buat kita, bukan tentang meja kursi-Nya.



Semoga Bermanfaat Walau Tak Sependapat