SORE yang cerah tiada mendung menggantung dan di sudut langit, bulan bintang mulai menampakkan diri. Mbak Jili tengah menyapu halaman rumah, mukanya cemberut, karena ia lagi jengkel terhadap suaminya, yang dirasakan semakin hari semakin asing, sepertinya sudah tidak menyayanginya lagi. Dia lebih suka main internetan ketimbang bermesraan, tawanya begitu bahagia tanpa menghiraukan kesepian hatinya.
"Hayo lagi ngelamun ya?" tepuk Debi, tetangga sebelah rumah.
"Anjisss, bikin kaget aja! Lain kali jangan sambil nepuk ah, bikin jantungku mau copot!!"
"Sorry deh mbak.....maaf, maaf, habisnya kok ngelamunnya kayak serius banget. Emangnya lagi mikirin apa sih?"
"Itu tuh bapaknya Clarin, kelihatannya kok sudah berubah sekarang. Cintanya kepadaku sepertinya sudah tidak menggebu-gebu kayak dulu lagi, ketika masih pacaran dulu," mbak Jili mulai buka rahasia ngelamunnya.
"Hihihihi biasalah, laki-laki memang begicuuu. Dulu sebelum kawin tidak ketemu sehari aja, kelabakan, mbingungi. Sekarang, enggak liat aku sehari saja, cuek! Tidak ambil pusing!! Contohnya bapaknya si Yoan itu."
"Lho, lho, rupanya kaupun sedang uring-uringan sama suamimu ya?"
"Lhah bagaimana tidak jengkel, dulu waktu pacaran, kemana aja dia pergi selalu ngajak aku. Sekarang, aku mau ikut aja ditolak, alasannya macam-macam."
"Hehehe....problem kita sama ya? Sama-sama menghadapi suami yang kelihatannya sudah luntur cintanya. Eh Deb, tapi kita jangan sampai emosi lho, biasanya kalau emosi menguasai bisa kehilangan akal sehat, nalar jadi hilang."
Begitulah rumitnya cinta. Sewaktu masih pacaran semuanya nampak indah dan manis. Bulan bintang seperti sahabat yang setia bila bergandengan di malam yang sepi. Matahari tampak ceria menemani bila siang menjelang tatkala pergi berdua kemana saja.
Alam pacaran memang begitu adanya, masing-masing melihat pasangannya begitu sempurna, sehingga tidak sempat melihat kekurangan pada pasangannya. Kekurangannya tersebut justru muncul dan menjadi jelas sesudah keduanya terikat resmi sebagai suami istri. Kalau masing-masing tidak dapat menahan diri dalam perbedaan itu akan menimbulkan percekcokan.
Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu? (1 Kor 7:16).
Memang demikianlah kenyataannya, percintaan selagi berpacaran dan sesudah berumah tangga memang berbeda. Cinta sudah berbeda sifatnya, cinta itu sudah tidak terasa semarak bahkan bisa jadi kian memudar, menjadi seperti saudara. Untuk mengatasi kejenuhan itu, mengenang kembali masa-masa dulu, seperti pada waktu pacaran atau istilahnya bernostalgia, reuni cinta begitu kata mesranya, perlu dilakukan.
*****
Suami mbak Jili, mas Tulus panggilannya, ketika bertemu sobat lamanya ditanya.
Sobat lama : "Aku salut padamu, usia rumah tanggamu bisa bertahan sampai 30 tahun, apa sih rahasianya?"
Mas Tulus : "Aku selalu berkata "YA" kepada ucapan istriku."
Sobat lama : "Oh begitu? Lalu kapan kau berkata TIDAK?"
Mas Tulus : "Kalau istriku bertanya padaku, apakah aku sudah TIDAK mencintainya lagi?!"
Suatu ketika mas Tulus diajak bosnya ke Jepang, melihat pameran robot yang lagi digelar. Suatu ketika ia berhenti pada sebuah robot yang mirip manusia tapi mempunyai keistimewaan yang luar biasa.
Pemandu pameran : "Ini adalah robot yang hampir sempurna menyerupai manusia. Dan, robot ini dapat menyelesaikan pekerjaan 5 orang sekaligus!"
Mas Tulus : "Wah, baiknya istriku kawin dengan robot ini!!"
Pemandu pameran : "???????"
Dan keesokan paginya mbak Jili berjumpa lagi dengan tetangganya mbak Debi, terlibatlah dengan sebuah percakapan baru.
Mbak Jili : "Deb, bagaimana sampai kaca jendelamu itu pecah?"
Mbak Debi : "Itu kesalahan suami saya!"
Mbak Jili : "Bagaimana ceritanya?"
Mbak Debi : "Dia menghindar waktu kulempar sepatu ke arahnya!"
Semoga Bermanfaat Walau Tak Sependapat


