Suka bohong ya????
Kamu jangan suka bohong, itu nasehat dari orang tua yang selalu diingat oleh anak ketika ia beranjak dewasa. Mengapa nasehat itu begitu melekat pada diri seorang anak yang pernah hidup di bumi? Apakah karena kebohongan selalu akan anak beranak dan bercucu kebohongan selanjutnya sebagaimana pepatah Sekali berbohong maka akan ditutupi dengan kebohongan selanjutnya. Ataukah karena di Alkitab disebut bahwa Iblis si Diabolos itu Bapanya pembohong, supaya kita tidak menjadi anak-anak Iblis? Ataukah karena usaha berbohong itu mula-mula terasa nikmat bagi yang berhasil melakukannya sehingga ia semacam candu yang kemudian menjadi tindakan yang addict, yang kalau tidak dilakukan rasanya tidak ada kepuasan? Kamu tukang Bohong..kamu tukang tipu..sebenarnya merupakan suatu cap yang sangat tajam dan berkualitas parah. Sekali berbohong orang akan tidak dipercaya oleh sesamanya, seperti pepatah: sekali lancing ke ujian seumur hidup orang tak kan percaya.
Ataukah karena ia dilarang begitu keras sehingga orang ergoda untuk melakukannya. Malah dianggap sebagai suatu prestasi atau keberhasilan ketika berhasil ngibul atau ngibulin orang lain. Kenikmatan bertambah ketika otoritas yang lebih tinggi berhasil dikibulin. Mungkin sama seperti perasaan Hawa ketika ia melihat buah yang ada di Eden. Menarik untuk dilihat, menarik untuk dimakan.
Siapa yang boleh berbohong? Kalau anak-anak jelas dengan amat keras dilarang berbohong. Apakah orang dewasa boleh berbohong? Di budaya jawa ada istilah dora sembada, yaitu suatu tindakan yang dilakukan untuk suatu kebajikan yang utama. Oleh karena itu lalu dipilah dora putih dan dora hitam. Berbohong demi berbohong dan berbohong demi kemaslahatan orang banyak. Seorang filsuf juga pernah mempersoalkan hal “berkata benar” dan “tidak berkata benar”. Namun apakah itu berarti cara disahkan oleh tujuan? Ataukah tidak lebih baik tujuan menentukan cara? Kalau tujuan menentukan cara itu akan mengurangi kualitas tujuan. Sebaliknya jika tujuan menentukan cara itu memurnikan tujuan. Atau dora putih hanya dilakukan atau ada sikap permisif sedikit, dalam keadaan terpaksa orang boleh berbohong demi kebaikan.
Hal suka berbohong ternyata bukan masalah anak-anak. Dalam skala yang lebih luas para tokoh agama pernah juga menyuarakan suara profetisnya bagi SBY agar tidak Suka Bohong. Sebab selama ini sudah terdaftar 18 kebohongan yang dilakukan. Terakhir kebohongan soal rencana reshufel cabinet atau soal komposisi koalisi. Lebih mutakhir lagi soal apa yang di muat oleh Wikileaks, di mana para mentri berusaha mati-matian untuk mengatakan bahwa SBY tidak abuse of power. Sekali lancung ke ujian…..mana orang lmau percaya lagi. Seandainya benar-benar SBY tidak menyalahgunakan kekuasaannya dengan memakai BIN untuk kepentingan politik partainya, orang sudah tidak akan percaya lagi. Begitu fatal akibat berbohong. Siapa suka bohong? Siapa mau belajar berbohong? Belajarlah pada Bapa Pembohong alias Diabolos