Submitted by mujizat on

Tidak terpungkiri, semua manusia diciptakan oleh Tuhan, entahkah mereka percaya pada-Nya entahkah tidak. Tak tersangkal, sebagian manusia terdampar di suatu agama ataupun aliran kepercayaan maupun keyakinan yang membuat mereka tidak secara benar mengenal penciptanya sendiri. Sebagian manusia beruntung mendarat di sebuah keyakinan, kepercayaan ataupun – sebut saja dengan: agama - yang menempatkan dia di atas sebuah kesempatan untuk dapat mengenal penciptanya dengan benar. Lalu mengapa “kondisi awal” manusia berbeda-beda, sehingga sebagian orang “hanya” cukup menekuni agamanya dengan benar yang dengan cara itu memperoleh kesempatan bahagia “dunia akhirat”, sementara banyak orang-orang lain diperhadapkan pada pilihan-pilihan “pahit” dan tidak ringan untuk dapat mengenal penciptanya dengan benar? Barangkali ini merupakan sebagian dari rahasia kebijakan Pencipta Langit dan Bumi.

Jika perkataan Yesus Kristus mutlak benar, yakni bahwa tidak seorangpun sampai kepada Bapa (Otoritas tertinggi alam semesta) jika tidak melalui Yesus Kristus, maka saya membayangkan alangkah banyaknya manusia yang hidup sia-sia oleh karena tidak percayanya kepada “Jalan Yang Benar”, yang sekaligus mencelikkan mata kita betapa banyaknya “jalan yang disangka lurus namun ujungnya menuju kebinasaan”. Kalau seseorang menempuh “jalan yang sesat” maka sebaik apapun dia melakukan “kewajiban agamanya” tidaklah mungkin dia dapat meraih tujuan imannya, yaitu: keselamatan jiwanya, itulah sebabnya kita dapat mambayangkan jutaan, bahkan mungkin milyard an orang yang terancam untuk terpisah selamanya dengan Sang Pencipta.

Memang Tuhan telah memperkenalkan Diri-Nya dengan berbagai cara; di zaman purba lewat para nabi, lalu Sang Pencipta sendiri (Sang Firman) turun menemui umat-Nya dan memperkenalkan Diri-Nya, tetapi banyak orang tidak mengenali penciptanya sendiri, dan malahan menolak-Nya. Sang Pencipta telah turun untuk menebus umat-Nya, dan setiap orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa menjadi anak-anak terang (anak-anak Allah: Yoh 1:12) atau kuasa untuk menjadi orang benar, dengan mengaruniakannya Roh Kudus yang akan memimpin hidupnya, karena anak-anak Allah adalah orang-orang yang hidupnya (mau) dipimpin oleh Roh Kudus (Roh Allah), tetapi sebagian orang lainnya memilih untuk tidak mempercayai-Nya. Mengapa demikian?

Seseorang yang telah memeluk agama tertentu, terkadang tidak mudah untuk menguji agamanya itu, walau sebenarnya itu sekedar agama warisan. Sebagian saya sebut masih belum menjadi keyakinan, ataupun kalau dia merasa sebagai suatu keyakinan, maka itu masih merupakan KEYAKINAN BUTA, jika belum melalui proses pengujian secara sungguh-sungguh. Dengan “bahasa rohani” saya katakan bahwa orang-orang dengan kasus seperti itu masih terikat dengan roh agamawi yang membuatnya merasa nyaman dengan agama bawaan tanpa mau menguji kebenarannya dengan kepala dingin dan tanpa berat sebelah. Ini merupakan masalah lain yang harus dihadapi oleh orang-orang yang “kurang beruntung”, yakni mereka yang lahir dengan warisan “jalan” yang bukan benar.

Saya lahir sebagai Kristen, namun kakek nenek saya sebagian beragama mayoritas. Walau orangtua saya begitu ketat dalam hal “aqidah”, bahkan sampai menjurus ke fanatisme sempit, karena menurut “gereja” saya dulu, semua agama lain itu sesat, bahkan termasuk Kristen yang tidak sama dengan denominasi kami. Butuh perjuangan tersendiri untuk saya mencoba mengenal “gereja lain”, karena hati saya berkata bahwa saya perlu melihat apa yang menurut gereja kami dikatakan sesat; saya belajar untuk – dalam hal ini – tidak percaya begitu saja sebelum membuktikan sendiri. Butuh perjuangan untuk menghilangkan kecanggungan ketika orang-orang lain mengangkat tangan di saat memuji Tuhan, dan saya mulai belajar mengangkat tangan dengan perasaan aneh saat itu. Lalu tidak mudah juga untuk membaca “kitab suci lain” dan mempelajari isinya, tetapi saya sangat bersyukur bahwa ternyata jalan yang selama ini saya percayai, yaitu Yesus Kristus, telah teruji dengan hati nurani serta juga beberapa pengalaman pribadi, bahwa Yesus lah “Jalan Yang Benar” itu.

Saya persingkat saja.

Yesus Kristus mengajarkan hukum yang terutama: mengasihi TUHAN, Allah kita dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap kekuatan dan dengan segenap akal budi, dimana keempat unsur itu yakni: hati, jiwa, kekuatan dan akal budi, keempatnya itu sudah dianugerahkan-Nya kepada kita; kita tinggal menerapkan keempatnya itu untuk mengasihi TUHAN. Memang kita dapat menggunakan keempatnya itu untuk melawan Sang Pencipta, tetapi perbuatan yang mirip dilakukan oleh Ken Arok terhadap empu Gandring dengan menusukkan keris buatan sang empu kepada sang penciptanya sendiri, itu merupakan perbuatan yang sangat kurang ajar.

Alkitab juga mengajarkan bahwa orang yang mengenal Allahnya, yang melakukan perintah Bapa, maka Bapa juga pasti akan mengasihinya, dan itu berarti adalah kebahagiaan buat manusia. Dan sebaliknya, manusia yang tidak mau mengasihi Allah, yakni mereka yang melawan perintah, ketetapan dan aturan-Nya, maka mereka pasti akan menerima kemurkaan Allah, yaitu disiksa abadi. Jika kita menolak untuk mengasihi Tuhan, maka Tuhan masih memiliki manusia-manusia lain yang mau mengasihi-Nya dengan tulus, dan untuk mereka telah disediakan Tuhan: kebahagiaan abadi, sedangkan bagi pembenci-Nya telah disediakan siksa.

Lebih singkat lagi: Allah mau cinta manusia, sedangkan manusia butuh bahagia. Tuhan TIDAK MUNGKIN menolak manusia yang mau mencintai-Nya, atau setidaknya: mau belajar mencinta-Nya dengan tulus, walau untuk itu harus dilakukan manusia dengan jungkir balik, karena terkadang di awalnya manusia tidak mengerti apa yang harus dilakukannya untuk mencintai Tuhan atau setidaknya untuk belajar tahu balas budi kepada Sang Pencipta.

Kehidupan dunia merupakan sebuah kesempatan – yang mungkin tidak datang dua kali – kesempatan untuk membuktikan cinta kita kepada Tuhan. Orang bijak memanfaatkan setiap kesempatan untuk meraih kehidupan, sedangkan orang bebal melewatkannya.