Pengalaman pertama ke museum nasional. Terheran-heran dengan tempat yang begitu luas dan lebar, 3 lantai ditambah 1 lantai basement. Sebuah museum berdiri di jantung kota Jakarta...pengalaman pertama yang begitu menggoda.
Aku berkeliling mulai dari basement untuk memarkirkan motor, lantai 1 dengan koleksi arca. Para dewa-dewi yang terpahat, tua. Memasuki lantai 2 aku disuguhi dengan lagu-lagu jawa mengitari kekayaan budaya Indonesia dari setiap pulau. Sungguh mengesankan. Membuat aku bertanya-tanya "Jaman sekarang anak-anak tau nya cuma paha mulus, rambut lurus atau ikal palsu, hidung mancung tidak alami, jingkrang-jingkrang menari dengan bahasa yang aku pastikan pendengarnya tidak mengerti apa yang dikatakan. Terus mereka bangga lagi...Helllooooo...trus???
Lalu lantai ke 3..lantai harta karun yang berkilauan, dengan mahkota, cincin, penghias leher, bross waw...ruangannya begitu sepi, lampu di setting redum hui...udara mistis membungkus ruangan itu. Sejenak aku menikmati semua yang ada dengan rasa sedikit ngeri...bertanya kembali dalam hati "benda-benda ini semuanyanya hadir saat itu ya?Yang memakainya sudah tiada namun saksi bisu ini tetap ada...WOW."
setelah puas menikmati harta karub yang tak bisa disentuh itu, aku kembali ke lantai ke 2 untuk mengistirahatkan kaki ku. Melihat sebuah tayangan tari-tarian topeng. Aku bertanya kembali, "Raden Ajeng Kartini itu setelah meninggal kemana ya? masuk surga atau neraka. Mereka yang tidak percaya Yesus namun berjuang sampai mati itu masuk surga atau neraka?" 1 jawaban yang aku dapat "Itu otoritas Allah..."
Senyuman, itu yang menjadi akhir dari pembicaraan iseng-iseng itu. Namun pertanyaan itu tidak begitu saja hilang dari pikiranku.
"Kemana perginya para pahlawan yang tidak mengenal Yesus, surga atau neraka?"