Submitted by josia_sembiring on

Memahami  proses penciptaan segala yang ada melalui kitab kejadian sungguh sangat menyenangkan. Proses penciptaan diuraikan secara sistematis dan mudah dipahami. Rangkaian kata demi kata, kalimat demi kalimat saling menerangkan satu sama lain. Awal membaca kisah penciptaan di kejadian 1, sepertinya banyak hal2 yang kita temukan tidak logis dan konsisten. Namun apabila kita baca dengan teliti dan tenang, pasti kita akan melihat jelas bahwa semua kisah penciptaan itu benar2 sangat konsisten dan logis.

Di blog ini, saya akan mengungkapkan alur penciptaan yang sering kita baca di kitab kejadian. Sebelum saya masuk ke pembahasan, ada baiknya saya ungkapkan dahulu bagaimana pengajaran yang diajarkan oleh guru2 agama saya dan pendeta2 yang saya pernah dengar khotbahnya mengenai PENCIPTAAN.

Menurut guru2 sekolah minggu, guru agama dan pendeta yang pernah saya dengar, bahwa proses penciptaan terdiri atas 6 hari, terlepas dari apakah ini hari TUHAN atau hari manusia. Yang pasti pemahaman saya, hari disini adalah hari kalender yang berlaku di BUMI yang tentunya berlaku bagi manusia. Beginilah urutan penciptaan menurut versi mereka :

Hari pertama TUHAN menciptakan TERANG

Hari kedua TUHAN menciptakan CAKRAWALA

Hari ketiga TUHAN menciptakan TUMBUH-TUMBUHAN

Hari keempat TUHAN menciptakan BENDA PENERANG

Hari kelima TUHANmenciptakan HEWAN

Hari keenam TUHAN menciptakan MANUSIA

Hari ketujuh TUHAN berhenti dari pekerjaan penciptaan

Urutan diatas langsung diambil dari kitab kejadian, dan memang tidak ada yang salah. Namun orang akan bertanya, “BUMI kapan diciptakan?” ,  “Mengapa Tumbuhan lebih dulu diciptakan baru matahari?” , “Bagaimana mereka bisa bertahan?” , “ Bagaimana mereka bisa berfotosintesis tanpa matahari?” ,  “TERANG di hari pertama itu kongkretnya seperti apa?” , “Jikalau BUMI tidak jelas kapan diciptakan, dimana TUHAN meletakkan hewan, manusia dan tumbuhan?”, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain. Banyak orang berpikir bahwa BUMI diciptakan pada saat TUHAN menciptakan CAKRAWALA, karena disitu ada proses pemisahan air dan daratan.  Pemikiran seperti itu sah saja, namun Alkitab ternyata tidak berkata seperti itu.

Baiklah kita mulai menginvestigasi kita kejadian 1 ini secara berurutan dimulai dari ayat 1.

1.       Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

2.       Bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita menutupi samudera raya dan Roh Allah melayang-layang diatas permukaan air.

Ayat 1 ini sangat jelas sekali berbicara mengenai penciptaan langit dan BUMI. TUHAN menciptakan langit lebih dahulu baru menciptakan BUMI. Langit di ayat ini adalah angkasa raya (ruang angkasa). Seperti kata ayat Alkitab, TUHAN menggantungkan BUMI di kehampaan. Jadi ruang angkasa diciptakan lebih dahulu baru bumi diciptakan. Jelas ketika awal penciptaan, bumi  belum memiliki bentuk  dan kosong. Bendanya ada, namun bentuknya belum ada atau belum memiliki bentuk dengan kata lain, Bumi itu belum memiliki bentuk seperti Bumi pada saat Kitab Kejadian tersebut ditulis.  Gelap gulita sudah jelas artinya gelap tanpa ada cahaya sama sekali. Gelap gulita artinya total gelap tanpa ada cahaya, berbeda dengan kondisi malam hari yang gelap namun masih ada cahaya bulan. Setelah itu ada penyebutan samudera raya dan air. Samudera dan air erat kaitannya. Samudera adalah kumpulan air dalam sekala massive (besar). Contoh samudera adalah: Samudera Atlantik, Pacific, Hindia. Dan samudera ini mendukung kata2 air pada urutan kalimat tersebut.  Disamping itu, kita memiliki pemahaman baru bahwa, ternyata BUMI diciptakan dalam kondisi lautan tanpa daratan, sebab daratan baru muncul pada hari ke-2 (lihat hari ke-2).  Artinya daratan BUMI (tanah Bumi) ditutupi oleh air, makanya disebut ROH Allah melayang (bergerak) diatas permukaan air, karena daratan belum ada. Dan kondisinya gelap gulita. Yang pasti pada saat itu yang ada hanyalah : TUHAN, BUMI yang berair, Ruang Angkasa. Satu hal lagi, waktu belum tercipta disini karena belum ada siang dan malam sebagai ukuran waktu (1 hari/24 Jam).  Karena semua serba gelap, maka pengukuran waktu menjadi tidak ada.

Jadi, kesimpulan yang bisa kita ambil di ayat 1 ini adalah bahwa TUHAN sejak awal (belum ada ukuran waktu) menciptakan langit dan bumi (Planet air atau Planet Biru) dengan ajaib karena tanpa bahan.

3.       Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.

4.       Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.

5.       Dan Allah menamai terang itu siang dan gelap itu malam. Jadilah petang, jadilah pagi itulah hari pertama.

Pada ayat 3 dan 4 diatas sudah jelas sekali, setelah langit ada dan BUMI ada, maka diperlukan sumber cahaya (cahaya) untuk menerangi BUMI. Maka TUHAN menciptakan terang. Terang yang diciptakan TUHAN disini tidak dijelaskan secara detail namun nanti akan saya coba uraikan terang yang dimaksud dari Firman TUHAN di ayat lain. Setelah terang jadi maka saatnya TUHAN memisahkan (divided) terang dari gelap. Bagaimana cara TUHAN memisahkan (divided) terang dari gelap? Sangat sederhana sekali (hehehe) caranya dengan membuat rotasi BUMI. Dengan rotasi maka terang dan gelap bisa berpisah (divided). Menurut pemahaman saya, kata memisahkan disini adalah mengatur pergantian gelap dan terang. Cara mengatur pergantian ini adalah dengan membuat BUMI berputar pada sumbunya (Rotasi). Sehingga setelah berotasi, jelaslah mana siang dan mana malam sehingga bagian terang dinamai siang dan bagian gelap dinamai malam. Setelah itu petang dan pagi hari muncul. Disinilah pertama kali petang dan pagi muncul sebagai akibat dari rotasi BUMI. Saat inilah muncul pengukuran waktu didasarkan pada rotasi BUMI yang disebut satu hari. Maka inilah disebut hari pertama.

6.       Berfirmanlah Allah: Jadilah cakrawala ditengah segala air untuk memisahkan air dari air.”

7.       Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada dibawah cakrawala itu dari air yang ada diatasnya. Dan Jadilah demikian.

8.       Lalu Allah menanami cakrawala itu langit. Jadilah petang  dan jadilah pagi, itulah hari kedua.

 

Pada bagian ini, Allah menciptakan cakrawala. Apa itu cakrawala? Cakrawala adalah Atmosfer Bumi. Atmosfer BUMI memiliki banyak lapisan. Didalam lapisan itu ada awan-awan yang mengandung kadar air yang bisa jadi hujan. Jadi TUHAN sudah mengatur bagaimana system Hujan di hari kedua ini. Dengan tujuan agar daratan yang hendak diciptakannya nanti bisa mendapatkan air. Karena TUHAN berencana memunculkan daratan, oleh sebab itu TUHAN harus mempersiapkan siklus air yang akan bertujuan membasahi daratan secara alami. Cakrawala (Atmosfer) itu dinamai langit. Disini mungkin banyak yang bingung, mengapa langit diciptakan 2 kali (Hehehe). Sebenarnya penamaan langit itu sejalan dengan pemikiran orang2 zaman dahulu (kemungkinan juga pemikiran sang penulis MUSA). Bahkan orang2 sekarangpun masih suka mempertukarkan kata langit ini. Kalau malam hari, melihat angkasa luar maka mereka menyebut langit. Kalau siang hari melihat lapisan biru (Atmosfer) dan awan, mereka menyebut langit. Jadi 2 nama yang sama namun berbeda objek dari nama tersebut. Salahkah kita menyebut atmosfer itu langit? Tidak. Salahkah kita menyebut ruang angkasa itu langit? Tidak. Jadi sejauh ini, proses penciptaan ini konsisten dan logis. Dan urutan penciptaan ternyata memang sangat berkaitan. Yang satu dicipta agar mendukung yang akan dicipta berikutnya.

9.       Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang dibawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian.

10.   Lalu Allah menamai yang kering itu darat dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Pada bagian ini (Ayat 9-10) Tuhan melanjutkan membentuk BUMI. Memunculkan daratan yang ada dibawah air dengan cara membuat air berkumpul pada satu tempat.  Dan lagi-lagi langit disini maksudnya adalah atmosfer. Allah mengatur laut dan daratan. Ada satu hal yang menarik sekali disini, yaitu kemana air itu berkumpul karena ketika diciptakan BUMI adalah planet tanpa daratan alias planet air, sehingga pasti ada air yang hilang untuk memunculkan daratan. Jawaban yang paling masuk akal adalah air yang hilang itu berkumpul di kutub utara dan selatan sehingga membeku menjadi ES. Ketika proses memisahkan itu, ternyata air yang berkumpul kearah kutub akan membeku sehingga bisa memunculkan daratan dibagian lain.  Dengan kata lain, jikalau sebagian  besar es di kutub mencair, maka BUMI akan kembali menjadi planet air tanpa daratan. Sampai disini urutan penciptaan masih konsisten dan logis. Tujuan memunculkan daratan adalah sebagai tempat makhluk hidup yang akan ditempatkan kemudian (Tumbuhan, Hewan dan Manusia) dan juga sebagai bahan untuk membentuk makhluk hidup.  Kebanyakan kita menganggap bahwa BUMI diciptakan pada hari ke-2  karena ada kata daratan disitu, padahal kalau kita berpikir secara logis, BUMI harus diciptakan lebih dulu sehingga air dan samudera memiliki tempat dan sangat konsisten dengan ayat 1 dan sangat logis. Kita juga tahu bahwa dibawah laut ada daratan. Kalau air atau samudera mengering, maka daratan yang muncul.

11.   Berfirmanlah Allah: Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian.

12.   Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik

13.   Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.

Pada bagian ini, TUHAN memunculkan tumbuh-tumbuhan dari BUMI.  Tepat setelah daratan muncul, langsung TUHAN memunculkan tumbuh-tumbuhan dari tanah (Daratan). Sangat konsisten dan logis.

Disamping itu unsur2 pendukung untuk kehidupan tumbuh-tumbuhan sudah ada, yaiut :  Terang (sumber cahaya) dan siklus air. Terang dan sumber cahaya berguna untuk proses fotosintesis tumbuh-tumbuhan. Yang pasti terang yang diciptakan pada hari pertama bisa menjadi pengganti matahari, karena matahari baru diciptakan hari berikutnya. Sampai disini proses penciptaan tetap konsisten dan logis.

14.   Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,

15.   Dan sebagai penerang pada cakrawala (langit) biarlah benda-benda itu menerangi bumi. “ Dan jadilah demikian.

16.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang  dan yang lebih besar untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.

17.    Allah menaruh semuanya itu di cakrawala (langit)  untuk menerangi bumi,

18.   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

19.   Jadilah petang  dan jadilah pagi, itulah hari keempat

Pada bagian ini, Allah menciptakan benda-benda penerang (Matahari, bulan dan bintang). Tidak ada yang perlu dikomentari kecuali satu yaitu : Mengapa benda-benda penerang ditaruh di cakrawala??? Bukankah Cakrawala merupakan atmosfer.  Disini, penulis kitab kejadian masih belum memahami langit sebagai angkasa raya, dan langit sebagai atmosfer (Cakrawala), sehingga penulis kitab kejadian menyatakan bahwa Matahari, bulan dan bintang ada di Cakrawala.  Jika Cakrawala disini adalah ruang angkasa, maka penciptaan ini menjadi benar, namun ternyata cakrawala disini bukanlah ruang angkasa melainkan atmosfer. Kenapa ? Karena pada ayat selanjutnya yaitu proses penciptaan burung-burung di udara, lagi-lagi penulis mengatakan burung2 itu melintasi cakrawala (langit). Jadi di mata penulis, definisi cakrawala ada 2 yaitu :

a.       angkasa raya tempat matahari bulan dan bintang

b.      atmosfer tempat burung melintas

Sepertinya penulis kitab kejadian (Musa) menganggap bahwa Matahari, bulan, bintang-bintang serta burung-burung semuanya ada di cakrawala alias langit alias atmosfer, padahal matahari, bulan dan bintang-bintang ada di angkasa raya (Ruang Angkasa).  Musa masih mempertukarkan langit sebagai atmosfer dan langit sebagai ruang angkasa.

20.   Berfirmanlah Allah : “Hendaklah dalam air berkeriapan makhlukyang hidup, dan hendaklah burung beterbangan diatas bumi melintasi cakrawala (langit).”

Pada bagian ini, Musa menganggap Cakrawala sebagai atmosfer, namun di-ayat sebelumnya Musa menganggap Cakrawala sebagai ruang angkasa. Sehingga komplitlah bahwa terminologi langit sejak awal memang ada 2 yaitu : Atmosfer dan Ruang Angkasa. Maka urutan penciptaan tetap logis (hehehe). Seandainya Musa tidak menyebut langit di ayat 1, maka proses penciptaan menjadi membingungkan. Itulah sebabnya ada 2 langit diciptakan yaitu angkasa raya dan atmosfer.

21.   Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan didalam air, dan segala jenisburung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

22.   Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.”

23.   Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima.

Pada bagian ini, Allah menciptakan binatang air (asin maupun tawar) dan juga binatang di udara. Binatang diciptakan setalah tumbuh-tumbuhan supaya binatang tersebut memiliki makanan, jadi Allah mempersiapkan segala sesuatunya. Proses ini konsisten dan logis.

24.   Berfirmanlah Allah: “ Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian.

25.   Allah menjadikan segala jenis  binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Pada bagian ini, kita bisa lihat bahwa Hewan-hewan dijadikan dari Bumi (tanah). Hewan-hewan keluar dari Bumi (tanah). Dengan kuasa yang dahysat segala hewan bisa terbentuk dari tanah dengan masing2 jenisnya. Sungguh luar biasa. Inteligensia yang sangat super yang sanggup melakukannya.

26.   Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi”

27.   Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakannya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

28.   Allah memberkati, lalu berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap  di bumi.”

29.   ….

Pada bagian ini, Allah menciptakan manusia sesuai dengan gambar/rupa Allah. Allah melukis wajahnya ditanah dan membentuk makhluk berdasarkan lukisan wajahnya. Bahasa latinnya Imago Dei. Dalam pelajaran biologi belalang berkembang biak dalam fase imago. Secara fisik, sama persis belalang dengan anak belalang. Kalau dilihat dari jauh, maka keduanya sama (Imago) hanya beda ukuran. Jadi manusia adalah wajah Allah di bumi (Imago Dei).