Kata “pulih” merupakan salah satu kata yang diterjemahkan dari kata Ibrani arukah (Alef-Patah-Resh-Sureq-Kaf-Qames-He). Kata arukah diturunkan dari akar-kata induk RK (Resh-Kaf). Setiap huruf Ibrani, pada awalnya bukan sekedar lambang bunyi, melainkan juga lambang ide atau gagasan. Setiap gagasan diujudkan dalam bentuk gambar, yang kemudian dikenal sebagai tulisan-gambar (piktograf).
Huruf Resh adalah sebuah gambar kepala orang, sedangkan huruf Kaf adalah gambar telapak tangan yang antara lain berarti menutupi. Gabungan kedua gambar tersebut berarti “seorang menutup.”
Apa hubungan kata “pulih” dengan makna harfiah “seorang menutup”? Dalam budaya orang Ibrani, seseorang yang mengalami luka dan memborok, maka luka itu dibuka dan dibersihkan. Berikutnya, luka yang telah terbuka dan bersih itu ditutup dengan ramuan obat dari tumbuh-tumbuhan tertentu dan dibalut. Inilah tahap memulihkan tubuh yang terluka, sehingga menjadi sembuh.
Makna kata “pulih” ini berhubungan erat dengan makna kata “menyembuhkan” (lihat: edisi 008). Kata “menyembuhkan” berarti “seorang membuka”, sebagaimana borok pada tubuh seseorang harus dibuka lebih dulu untuk diobati.
Ketika saya kecil, saya memiliki teman yang mempunyai borok di kakinya. Beberapa macam obat dioleskan diboroknya itu, tapi tidak membuahkan hasil. Karena boroknya semakin parah dan melebar dibawalah ia ke seorang mantri kesehatan. Mantri itu membuka borok di kaki rekan saya itu. Borok itu diangkatnya sampai bersih. Ia menggunakan alkohol agar lukanya bebas dari kuman. Setelah bersih, bekas borok itu dibubuhi obat dan dibalut dengan kain kasa. Pendek cerita, rekan saya itu menjadi sembuh.
Itulah arti kata “pulih” yang bermakna “seorang menutup”, yaitu menutup luka dengan obat dan membalutnya. Apabila saya dan Anda memiliki borok dosa, mari kita buka borok itu di hadapan Tuhan. Tuhan akan mengangkatnya. Jika kita telah menanggung resiko akibat dosa itu dengan menerima peringatan atau penghukuman Tuhan, maka kita akan mengalami pemulihan dari Tuhan itu.
Luka Yehuda
Nabi Yesaya menyerukan firman Tuhan kepada Yehuda karena bangsa itu berdosa. Mereka mencari Tuhan dan mereka menyukai jalanNya, tapi perilakunya tidak sejalan (Yesaya 58:1-2). Mereka hanya melakukan ibadah secara formal, bukan beribadah dengan hatinya. Karenanya, perilakunya tidak menjadi lebih baik (ayat 3-7). Mereka tidak menguduskan hari Sabat (bandingkan ayat 13).
Seruan Yesaya tersebut merupakan peringatan hukuman terhadap Yehuda “yang akan datang” apabila mereka tidak bertobat. Dosa-dosa yang tergambar dalam pasal 58 adalah dosa-dosa yang mereka lakukan pada zaman Yesaya itu, sedangkan ketidakpedulian Tuhan merupakan gambaran hukuman pada masa yang akan datang. Sebab, bangsa itu memang tidak bertobat.
Yesaya menyerukan firman Tuhan ini antara tahun 740-690 SM dan hukuman Yehuda mulai terjadi pada tahun 605 SM, pada waktu bangsa itu jatuh ke tangan Babel. Puncak kejatuhannya terjadi tahun 586 SM, yaitu hancurnya Yerusalem dan Bait Allah dan diangkutnya penduduk Yerusalem ke Babel.
Pada saat peringatan itu disampaikan, Tuhan pun memberi janji kepada bangsa Yehuda, umatNya. Jika mereka berbalik kepada Tuhan, maka terang mereka akan merekah dan lukanya dipulihkan (bandingkan ayat 8). Lebih lanjut, Tuhan menjanjikan kepada umatNya: kebenaran dan kemuliaan Tuhan (ayat 8), pertolongan Tuhan (ayat 9), terbitnya terang (ayat 10), tuntunan Tuhan, kepuasan hati, pembaruan kekuatan (ayat 11), dan pemulihan negerinya (ayat 12).
Apakah “luka” Yehuda itu? Luka mereka adalah penderitaan yang dialami akibat dosa-dosanya. Mereka menderita dengan mengalami pembuangan. Sekalipun luka mereka itu terjadi akibat perbuatannya sendiri, namun Tuhan mau memulihkan luka bangsa itu.
Seperti halnya janji Tuhan akan memulihkan luka bangsa Yehuda itu, begitu juga janji itu pun berlaku bagi saya dan Anda yang mau bertobat, sehingga luka akibat dosa-dosa kita akan dipulihkan Tuhan.
Implikasi
Setiap orang Kristen pernah jatuh dalam dosa. Akibat kejatuhannya itu kita menanggung resiko dari perbuatan dosa itu. Mungkin kita menderita, entah fisik, atau pun mental, bahkan rohani.
Seorang pemuda yang jatuh ke dalam dosa harus dikeluarkan dari tempat ia menjalani persiapan sebagai seorang hamba Tuhan. Ia menderita secara mental. Perasaannya hancur. Bahkan, ia merasa Tuhan tidak menyertainya.
Dalam suatu proses konseling, saya mengajaknya untuk membahas Roma 8:28-30. Sekalipun ia menderita secara mental dan perasaannya hancur, semua itu dipakai Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi dirinya. Sebab, ia seorang yang terpanggil menurut rencana Allah, ia dipilihNya, dan ditentukan untuk menjadi serupa dengan gambaran Kristus. Puncaknya, ia akan dimuliakanNya. Puji Tuhan, pemuda itu merasa dikuatkan. Ia merasakan dan mengalami kebersamaan dengan Tuhan.
Apakah Anda mengalami luka akibat dosa yang Anda lakukan? Maukah luka Anda ditutup sendiri oleh Tuhan? Syaratnya: bertobat dan bersedia menjalani pendisiplinan yang Tuhan kenakan!
(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan rujukan dari berbagai sumber).