Walaupun tidak memahami maknanya, namun tradisi Cengbeng atau sembahyang kuburan masih dilakukan oleh banyak orang Tionghua generasi ini. Umumnya orang-orang Kristen menyangka sembahyang kuburan (cengbeng) adalah penyembahan arwah, itu sebabnya banyak sekali yang melecehkannya sebagai perbuatan bodoh dan sia-sia. Pengkotbah alam roh melarang jemaat untuk ikut merayakan cengbeng karena menurut mereka hal itu akan mendatangkan kutuk dan membuka cela untuk dikuasai iblis.Pengkotbah Kristen umumnya menganggap cengbeng adalah praktek penyembahan arwah yang dapat dikelompokkan sebagai penyembahan berhala. Walaupun dengan nama lain, pada hakekatnya orang Kristen juga merayakan cengbeng. Walaupun dengan cara yang berbeda, sesungguhnya orang Kristen juga melakukan sembahyang kuburan atau sembahyang arwah.
Memberanikan diri bertanya; Dalam bukunya yang berjudul Imlek & Alkitab, Pdt. Markus Tan menulis:
Hari raya Ceng Beng dirayakan pada bulan ketiga tahun imlek. Tanggalnya dalam tahun imlek tidak tetap atau berubah-ubah. Yang pasti pada permulaan bulan ketiga tersebut. Menurut penanggalan Masehi, jatuh pada tanggal 5 atau 6 April. Ceng berarti bersih dan murni. Beng berarti tenang. Cengbeng berarti bersih tenang. Imlek & Alkitab hal 129
Pada hari raya Cengbeng, orang Tionghua biasanya akan berziarah ke makam orang tua atau leluhur mereka dengan membawa batang dupa (hio), lilin, kertas sembahyang dan sedikit sesajian. Biasanya dalam bentuk buah atau kue basah. Selain melakukan sembahyang juga membersihkan kuburan tersebut. Ibid hal 129
Hal ini dilakukan bukan saja untuk menunjukkan rasa bakti, tetapi juga untuk mengajukan permohonan ijin, laporan atau permintaan. Biasanya dalam sembahyang tersebut mereka akan mohon diri (pamit) kalau mereka akan pergi ke tempat yang jauh atau ke luar kota. Juga akan dilaporkan tentang usaha yang baru, pernikahan ataupun hal-hal lainnya. Mereka juga akan mohon izin bila ingin menjual rumah warisan ataupun hal lainnya. Tidak jarang juga mengajukan permintaan, seperti rejeki, perlindungan dan sebagainya. Ibid hal 129
Agar setiap permintaan atau doa terkabul, maka untuk penguburan atau pemakaman tersebut tidak dilakukan secara sembarangan. Biasanya pemakaman tersebut dilakukan berdasarkan kepercayaan atau perhitungan Hong Sui. Istilah Hong Sui dapat diartikan angin dan air. Kepercayaan atau perhitungan Hong Sui ini antara lain menetapkan tempat, arah dan letak makam. Keluarga akan meminta pertolongan kepada ahli (sinshe) Hong Sui. Orang inilah yang akan mencarikan tempat yang baik dan tepat, dengan cara mengukur, menghitung dan sebagainya, sesuai dengan kebiasaan Hong Sui. Ibid hal 131
Dapat dibayangkan bila kebetulan berdasarkan perhitungan Hong Sui tersebut, makam harus berada di sebuah bukit yang terjal dan jauh. Tentunya pada saat keluarga tersebut menjenguknya, akan memakan waktu dan tenaga yang lebih dari pada biasanya. Beruntung, bahwa melalui hari raya Ceng Beng ini adalah semacam peraturan yang tidak tertulis yang merupakan keharusan untuk keluarga mengunjungi makam tersebut. Oleh karena itu bagi keluarga yang tinggalnya cukup jauh dari tempat pemakaman, sekurang-kurangnya dalam setahun, pasti sekali ia membersihkan makam tersebut. Ibid hal 131-132
Sembahyang Ceng Beng biasanya dilakukan di rumah, bahkan ada keluarga-keluarga yang satu marga (she), mengadakan sembahyang bersama di tempat perkumpulan atau rumah abu. Umpamanya, rumah abu marga (she) Djiau, Lim, Tan dan sebagainya. Ibid hal 132
Keluarga yang mengunjungi makam orang tuanya atau leluhurnya biasanya meletakkan beberapa lembar kertas kuning yang panjang dan kecil di atas Bong Pai (batu nisan.) Ibid hal 132
Ceng Beng adalah hari raya dalam arti hari peringatan. Bukan hari pesta. Itulah sebabnya sangat keliru bilamana ada orang yang memakai istilah pesta Ceng Beng dan kemudian mengadakan pesta atau makan-makan. Mengenang anggota keluarga yang wafat bukanlah suatu alasan untuk mengadakan pesta. Ibid hal 132-133
Sebagai orang Kristen, bila kita mengunjungi makam orang tua atau keluarga serta membersihkan, menabur bunga, merapihkannya sebagai tanda cinta kasih kita, itu tidak salah. Yang salah kalau kita berdoa kepadanya dan meminta sesuatu kepadanya. Ibid hal 133
Bengcu menjawab:
Qingming jie atau Cengbeng dirayakan setiap tanggal 1 bulan 3 kalender Imlek atau tanggal 5 April. Pada tahun kabisat Cengbeng jatuh pada tanggal 4 April. Cengbeng artinya terang benderang.
Pada jaman Musim Semi dan Gugur (770-476SM) dinasti Zhou kehilangan kedaulatannya sehingga Tiongkok terpecah-belah menjadi belasan negeri yang dikuasai oleh para rajamuda yang saling berperang untuk demi nama besar.
Negeri Jin. Ketika difitnah ingin membunuh ayahnya oleh ibu tirinya, pangeran Shensheng memilih untuk bunuh diri dari pada dihukum pancung oleh ayahnya, rajamuda Jin xiangong. Sementara itu pangeran Chonger yang berumur 43 tahun memilih untuk melarikan diri ke negeri Di. Dia tinggal di sana selama 12 tahun lalu melarikan diri ke negeri Qi karena takut dibunuh oleh pembunuh bayaran yang dikirim ayahnya. Dalam pelariannya dia ditolak oleh raja Wei sehingga terlunta-lunta dan kelaparan. Suatu siang ketika melewati desa Wulu (lima kijang), karena tidak tahan lapar, salah satu anak buahnya minta makanan kepada penduduk desa. Alih-alih menolong penduduk kampung itu justru mengejek rombongan Chonger sebagai kumpulan lelaki tidak berguna yang tidak mampu menghidupi dirinya.
Di luar kampung, Chonger dan rombongannya beristirahat di bawah pohon. Lelah dan kelaparan. Tiba-tiba salah satu anak buahnya, Jie zhitui mengangsurkan semangkuk sop daging panas kepada Chonger. Tanpa pikir panjang dia langung melahapnya sampai habis. Setelah kenyang dia baru bertanya, dari mana sop daging itu didapat? Ternyata itu adalah sop daging paha. Demi junjungannya Jie zhitui mengerat daging pahanya sendiri lalu memasaknya. Chonger sangat terharu dengan tindakan demikian.
Setelah mengembara selama 19 tahun akhirnya Chonger kembali ke negerinya dan menjadi rajamuda dengan gelar Jin wengong (697-628SM). Alih-alih memangku jabatan Jie zhitui justru meninggalkan dunia ramai dan hidup berdua dengan ibunya di hutan. Jin wengong berusaha mencarinya namun tak dapat menemukannya, karerna kesal dia lalu menyuruh anak buahnya untuk membakar hutan dengan harapan Jie zhitui akan melarikan diri keluar dari hutan yang terbakar. Sayang seribu kali sayang! Jie zhitui dan ibunya mati terbakar. Rajamuda Jin wengong menyesal bukan kepalang. Dia lalu menegakkan Hanshijie hari makan dingin untuk mengenang Jie zhitui. Para hari itu rakyat dilarang menyalakan api bahkan untuk masak sekalipun.
Karena melihat betapa sia-sianya pemborosan yang dilakukan oleh rakyat dalam sembahyang kuburan, maka raja Xuanzong dari Dinasti Tang pada tahun 732 menegakkan hari Cengbeng. Sembahyang kuburan hanya boleh dilakukan sekali dalam setahun.
Cengbeng dan Hanshijie adalah dua perayaan yang berbeda namun salah satu raja dari dinasti Qing (1644-1911) lalu menggabungkan keduanya menjadi satu. Hanshijie dirayakan satu hari sebelum Cengbeng. Dalam perubahan waktu, perayaan Hanshijie mulai dilupakan sehingga orang-orang Tionghua hanya merayakan Cengbeng dan menganggap makan dingin adalah bagian darinya.
Pada hari Cengbeng orang Tionghua mengunjungi makam leluhurnya. Mereka membersihkan makam lalu melakukan sembahyang kuburan. Apakah perayaan Cengbeng adalah penyembahan leluhur? Ada tiga hal yang membuktikan bahwa Cengbeng bukan penyembahan leluhur. Pertama, orang Tionghua tidak pernah menganggap arwah leluhurnya memiliki kuasa ilahi. Kedua, orang Tionghua tidak pernah berdoa minta berkat kepada arwah leluhurnya. Ketiga, walaupun banyak dongeng yang menyatakan bahwa mingqi atau barang-barang sembahyang berguna bagi kebutuhan arwah di alam baka, namun baik agama Khonghucu mau pun agama Dao dengan gamblang mengajarkan bahwa mingqi atau barang-barang sembahyang adalah pernyataan cinta kasih dan hormat, bukan untuk memenuhi keperluan arwah, itu sebabnya mingqi adalah barang-barang tiruan, bukan barang asli sementara makanan yang disajikan tidak boleh ditinggal, dibakar atau dibuang, namun harus dimakan.
Di kuburan Tionghua, ada dua altar, yang pertama disebut altar leluhur, letaknya di kepala kuburan, yang kedua disebut altar Houtu, letaknya di depan kuburan dengan tulisan Houtu. Di altar leluhur dibakar satu batang hio (dupa) dan kertas perak sementara di altar Houtu dibakar 3 batang hio dan kertas emas. Bagi umat Dao, Haotu adalah dewa bumi sementara bagi umat Khonghucu Houtu adalah Tuhan pencipta alam semesta. Altar Houtu adalah altar untuk menerima berkah dan mengucap syukur.
Raja mendirikan sebuah altar She untuk semua marga, disebut Altar Agung She (Dashe) dan mendirikan sebuah altar She untuk dirinya sendiri yang disebut Altar She Raja (Wangshe). Rajamuda mendirikan sebuah altar She untuk beratus marga, disebut Altar She Negara (Guoshe) dan mendirikan sebuah altar She bagi dirinya sendiri, disebut Altar she Rajamuda (Houshe). Para kepala daerah (Dafu) mendirikan sebuah altar She untuk masyarakat di wilayah yang diperintahnya, disebut Altar She wilayah (Zhishe). Li Ji XX:6 - Jifa
Altar She adalah jalan suci Shendi . Di mewujudkan berlaksa ada. Tian mewahyukan berbagai peta. Mendapatkan berkat dari Di. Memperoleh hukum dari Tian. Maka dimuliakanlah Tian dan dikasihilah Di. Karena itulah diajarkan kepada masyarakat untuk mengucap syukur. Kepala keluarga melakukannya di halaman rumah sedangkan kepala negeri melakukannya di altar She. Untuk menunjukkan yang pokok. Ketika dilakukan sembahyang di altar She, setiap orang keluar dari rumahnya. Ketika membangun altar She, semua warga negeri ikut bekerja. Demi altar She, dari gunung dan lembah bersatu memberikan persembahkan. Itulah cara bersyukur kepada yang pokok dan membalas budi kepada yang mula. Liji IX:I:21 - Jiao tesheng
Para penilik Hongshui mengajarkan bahwa penguburan harus dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah hongshui dan dilakukan dengan mewah. Penguburan mewah (Houzang) bukan hal baru di kalangan orang Tionghua, hal itu sudah ada sejak purbakala, jauh sebelum masehi. Mozi (470-391 SM) mengungkapkannya dengan gamblang.
Apa yang mendatangkan kemakmuran di kolong langit ini? Apa yang menolak bencana dan malapetaka di kolong langit ini? Apa yang membuat negara, kampung dan masyarakat hidup dalam persatuan dan damai? Apa yang menyebabkan negara, kampung dan masyarakat hidup dalam perpecahan dan kekacauan? Sejak purbakala hingga sekarang, tidak ada bukti-bukti mengenai apa yang menyebabkan semua itu. Bagaimana kita dapat mengetahui kebenarannya? Dewasa ini, para bijaksana di bawah matahari sama-sama menghadapi suatu keraguan besar; Apakah tradisi penguburan mewah (Houzang) dan perkabungan lama (Jiusang ) di Tiongkok ini berguna atau merugikan? Sehubungan dengan hal itu, Guru Mozi berkata, “Aku sudah melakukan penelitian mengenai hal itu. Hingga hari ini, tidak ada hukum yang mengatur tentang tradisi penguburan mewah dan perkabungan lama tersebut, walaupun dikatakan bahwa itulah tradisi negara dan keluarga. Tradisi ini mengatur upacara perkabungan bagi raja, rajamuda, dan orang-orang besar. Dikatakan, peti mati dan peti mati luar harus beberapa rangkap, penguburan harus mewah, pakaian dan jubah harus banyak, barang-barang seni, sulaman dan lukisan harus benar-benar indah, kuburan dan pusara harus besar dan megah. Untuk melayani seorang rakyat jelata yang mati, harus menguras gudang harta keluarga. Untuk melayani seorang rajamuda yang mati, harus membebani perekonomian sebuah negeri. Emas, giok, permata dan mutiara digunakan untuk mempercantik tubuh. Bermacam-macam pakaian sutra, kereta-kereta dan kuda-kuda, juga bermacam-macam tenda memenuhi kuburan. Bejana, genderang, meja kecil, lonceng, teko, cangkir, tempat es, tombak, pedang, hiasan bulu, panji-panji, kereta ketapel, baju zirah, semuanya dikuburkan secara lengkap. Semua itu masih dianggap belum sempurna. Untuk raja disertakan beberapa puluh hingga beberapa ratus Shaxun (orang yang ikut dikubur hidup-hidup), untuk para jenderal dan menteri disertakan beberapa hingga beberapa puluh orang. Mengenai perkabungan apa yang dikatakan oleh ajaran ini? Disebutkan, menagislah sejadi-jadinya, suara senggukannya harus sengau seperti suara orang tua, mengenakan pakaian berkabung dari rami dan ikat kepala berwarna putih, air mata dan ingus tidak boleh diseka, tinggal di ruang berkabung, tidur di atas tikar berbantalkan gumpalan tanah, makan sedikit, supaya nampak lemah dan lapar, mengenakan pakaian tipis supaya nampak kedinginan, matanya dipicingkan seolah takut melihat sinar, wajah harus nampak gelap, telinga seperti tuli dan mata seperti buta, tangan dan kaki seolah tak bertenaga dan sulit untuk digerakan, juga dikatakan, bila dia adalah sorang pejabat, ketika berdiri harus dibantu dia juga harus menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Semuanya dilakukan hingga genap tiga tahun. Ajaran ini juga mengajarkan bahwa, untuk sementara raja, pangeran dan para pejabat tinggi tidak dapat bekerja. Sesuai adat, penguasa dan pejabat tidak boleh mengunjungi ke lima kantor pelayanan publik dan enam kantor pemerintah, melakukan perjalanan pemeriksaan ke daerah, memasukkan hasil panen ke lumbung. Hal ini menyebabkan petani tidak dapat bekerja karena sesuai adat, petani tidak boleh pergi pagi-pagi dan pulang larut untuk mengurusi sawah dan kebunnya. Hal ini menyebabkan ratusan pekerja tidak dapat bekerja karena sesuai adat, mereka tidak boleh memperbaiki apalagi membuat perahu, kereta serta barang-barang keperluan lainnya. Hal ini menyebabkan para istri tidak dapat bekerja karena sesuai adat, mereka tidak boleh bangun pagi-pagi dan tidur larut malam untuk menenun. Demi penguburan mewah, banyak harta yang ikut dikuburkan. Demi perkabungan lama, banyak pantangan yang harus ditaati. Harta yang telah terkumpul dikuburkan sementara hasil yang akan diperoleh kemudian tertunda karena menaati pantangan. Mencari kemakmuran dengan cara seperti ini ibarat melarang orang bercocok tanam namun menuntut panen. Dengan ajaran seperti ini, mustahil meningkatkan kemakmuran. Mozi - Jiezang xia 4
Para penganut ajaran penguburan mewah (houzang) dan perkabungan lama (jiusang ) mengatakan, “penguburan yang mewah dan perkabungan yang lama, walaupun tidak dapat membuat orang miskin menjadi kaya, menjadikan yang sendirian menjadi kumpulan orang, menolak bencana dan malapetaka serta menjadikan negeri yang kacau menjadi damai, namun ini adalah ajaran para raja suci (Shengwang).” Guru Mozi berkata, “Tidak benar! Dahulu kala, raja Yao melakukan perjalanan ke utara untuk mendidik kedelapan suku Di ?. Dia meninggal dalam perjalanan. Dia lalu dikuburkan di lembah gunung Qiong dengan mengenakan baju dan jubah tiga potong. Peti matinya terbuat dari kayu lunak yang diikat dengan tali rami. Penguburannya diiringi tangis kesedihan sementara liang lahatnya hanya ditimbun dengan tanah, tanpa nisan. Setelah penguburan, lembu dan kuda bebas berkeliaran di atas kuburannya. Raja Shun melakukan perjalanan ke Timur untuk mendidik ketujuh suku Rong. Dia meninggal dalam perjalanan. Dia dikuburkan di dekat pasar kota Nanji, mengenakan baju dan jubah, tiga potong. Peti matinya terbuat dari kayu lunak yang diikat dengan kain rami. Setelah penguburannya, masyarakat bebas berlalu lalang di atas kuburannya. Raja Yu melakukan perjalanan ke Barat untuk mendidik kesembilan suku liar (Jiuyi). Dia meninggal dalam perjalanan. Dia dikuburkan di lembah gunung Huiji, mengenakan pakaian dan jubah tiga potong. Peti matinya dibuat dari kayu Tong yang tebalnya tiga 3 inci yang diikat dengan kain rami. Peti matinya tidak menutup sempurna ketika diikat dan tidak terkubur penuh ketika diturunkan ke liang lahat. Liang lahatnya tidak dapat digali terlalu dalam agar tidak mengenai mata air, namun bagian atasnya tidak boleh tipis agar bau mayatnya tidak menyebar. Itu sebabnya, setelah peti mati diturunkan maka di atasnya ditimbun dengan tanah hingga membentuk gundukan yang menyerupai bukit. Bukankah penguburan ketiga raja suci tersebut harus dijadikan teladan? Berdasarkan cara penguburan ketiga raja suci kita dapat menyimpulkan bahwa penguburan mewah dan perkabungan lama bertentangan dengan ajaran suci ketiga raja suci. Ketiga raja suci itu, masing-masing adalah Tianzi (Anak Tian) yang agung, selain kaya raya juga penguasa kolong langit ini, bagaimana mungkin tidak mampu untuk membiayai (penguburan mewah dan perkabungan lama)? Mereka dikuburkan dengan sederhana karena itulah hukum yang berlaku. Mozi - Jiezang xia 10
Penguburan mewah bukan ajaran agama Tiongkok kuno. Mozi, pendiri agama Mojiao menentangnya karena itu bukan tradisi Tiongkok kuno yang dianut oleh para raja suci. Kongzi, pendiri agama Khonghucu dengan gamblang mengajarkan bahwa pada zaman kuno, semua kuburan menghadap arah yang sama, utara. Kongzi juga mengajarkan bahwa tradisi menghiasi dan membersihkan makam bukan tradisi kuno bangsa Tionghua, sementara itu, penguburan sederhana sudah cukup untuk menyatakan bakti kepada orang tua .
Bila ada yang meninggal, orang naik ke atap rumah dan berteriak memanggil berkali-kali. Setelah itu,mereka menyertakan nasi dan daging serta memakaikan pakaian. Menghadap Tianmeninggalkan Di . Tubuh dan nyawa turun ke bawah, sementara zhiqi (roh yang cerdas) naik ke atas. Jenasah dimakamkan di utara sementara orang hidup tinggal di selatan, di desa. Hal ini berlaku sejak purbakala. Liji VII:I:7 – Liyun
Membersihkan makam, bukan adat istiadat kuno. Liji IIA:II:26 - Tangong shang
Setelah selesai melakukan hezang (memakamkan tulang belulang ibu dan ayahnya di dalam satu makam), Kongzi berkata,”Saya sudah menyelidiki: Pada zaman dahulu makam tidak diberi gundukan. Memberi gundukan adalah tradisi generasi ini. Sebagai pengembara aku berjalan ke timur, ke barat, ke selatan dan ke utara. Walau demikian, tidak boleh tidak mencari cara untuk mengenali makam orang tuaku.” Itu sebabnya Kongzi menumpuk tanah hingga empat kaki tingginya di atas makam orang tuanya. Kongzi pulang duluan untuk menghindari hujan. Ketika para muridnya pulang, Kongzi bertanya, “Kenapa pulang terlambat?” Murid-muridnya berkata, “Kami membenahi gundukan makam yang longsor.” Kongzi terhenyak. Tiga kali mereka menjawab pertanyaannya namun Kongzi diam dan meneteskan air mata dan berkata, “Aku telah mempelajari bahwa pada zaman kuno, tidak ada tradisi menghias makam. Liji IIA:I:6 - Tangong shang
Zilu berkata, “Sungguh malang nasib orang miskin! Ketika orang tuanya hidup tidak memiliki apapun untuk merawat mereka, ketika meninggal tidak memiliki apapun untuk menegakkan kesusilan (li).” Kongzi berkata, “Biarpun hanya makan nasi dan minum air putih selama dapat membuat mereka bahagia, itu sudah berbakti (xiao) namanya. Hanya mampu membungkus tangannya dan membiarkan kakinya telanjang lalu menguburkannya tanpa peti mati, itu sudah memenuhi kesusilaan.” Liji IIB:II:16 - Tangong xia
Melakukan sembahyang berarti meneruskan untuk merawat dan terus berbakti (xiao), sebab berbakti berarti merawat. Taat kepada jalan suci (dao ) tidak berani mengingkari hubungan keluarga, itulah yang disebut merawat. Itu sebabnya dikatakan seorang anak berbakti akan mewujudkan baktinya kepada orang tua melalui tiga jalan suci yaitu: Ketika orang tuanya hidup, dia merawatnya (yang). Ketika orang tuanya meninggal, dia berkabung (sang). Setelah masa perkabungan berlalu dia menyembahyanginya (ji ). Ketika merawat dia menunjukkan kepatuhan, ketika berkabung dia menunjukkan kesedihan, ketika sembahyang dia menunjukkan rasa hormat (Jing) dari waktu ke waktu. Dengan menggenapi ketiga jalan suci tersebut dia memenuhi seluruh kewajiban baktinya. Liji XXII:3 - Jitong
Agama Dao mengajarkan bahwa manusia yang mencapai kesempurnaan akan manjadi dewa-dewi sementara yang lainnya akan pergi ke alam bawah (neraka) untuk menjalani hukuman hingga tiba waktunya untuk dilahirkan kembali sebagai manusia. Dengan ajaran demikian, maka penguburan mewah sesuai kaidah Hongshui adalah hal sia-sia. Tidak berguna bagi orang mati juga tidak membawa berkah bagi orang hidup.
Agama Konghucu, Mojiao dan Dao sama-sama mengajarkan bahwa penguburan mewah dan sesuai kaidah Hongshui adalah tindakan sia-sia, bahkan bertentangan dengan ajaran agama. Namun, harus diakui, hingga saat ini masih banyak orang Tionghua yang percaya bualan para penilik Hongshui tersebut. Apabila ada orang Tionghua yang menyembah arwah leluhurnya dalam perayaan Cengbeng, maka itu berarti mereka melakukan hal yang dilarang oleh agamanya.
Di kampung saya makam-makam orang Tionghua dipisahkan menurut sukunya. Sebagai orang Hokian, maka leluhur saya dimakamkan di makam Hokian. Di makam itu didirikan sebuah klenteng yang didedikasikan kepada Tu dikong.
Orang Tionghua di kampung saya beribadah sesuai tradisi leluhurnya tanpa memahami ajaran apalagi maknanya. Sejak tahun 2003 setiap tahun saya pulang kampung dan ketika asyk ngobrol saya mengajarkan pengetahuan saya tentang agama Tiongkok kuno. Saat ini banyak di antara penduduk kampung saya yang mulai mengerti makna Cengbeng menurut ajaran Tiongkok kuno dan memahami bahwa Tu dikong adalah Tuhan pencipta alam semesta.
Saat merayakan Cengbeng keluarga Tionghua kampung saya mengunjungi makam leluhurnya. Mereka membersihkan kuburan lalu menempelkan kertas perak (hokian: gincua) di makam. Mereka juga menyajikan makanan, membakar hio (dupa) dan kertas perak bagi almarhum leluhur dan kerabatnya. Di samping itu mereka juga menyajikan makanan, membakar hio (dupa) dan kertas emas (hokian: kimcua) di altar Houtu yang ada di sebelah kiri makam.
Sembahyang Cengbeng boleh dilakukan sejak sepuluh hari sebelum hingga sepuluh hari setelah Cengbeng. Tepat pada hari Cengbeng, orang-orang kampung saya merayakan Cengbeng dengan memasak dan makan bersama di halaman Klenteng dengan duduk beralaskan daun pisang. Cengbeng adalah hari kasih sayang, bukan hari untuk menyembah arwah.
Apakah orang Tionghua Kristen boleh melakukan sembahyang Cengbeng? Adakah yang melarang orang Tionghua Kristen membersihkan makam leluhurnya lalu menaburkan bunga? Sebagai orang Tionghua saya percaya ajaran leluhur saya bahwa ketika seorang manusia meninggal, tubuhnya membusuk menjadi tanah sementara rohnya kembali kepada penciptanya. Sebagai orang Kristen saya percaya ajaran Alkitab bahwa ketika seorang manusia meninggal, tubuhnya membusuk jadi tanah sementara rohnya kembali kepada penciptanya. Walaupun tahu pasti makam-makam itu hanya berisi tulang belulang namun ada rasa tidak tega membiarkannya ditumbuhi rumput-rumput liar. Itulah alasan saya mengunjungi makam.