Submitted by guestx on

Atau, bolehkah saya bertanya : Masihkah ada gunanya Kristen di dunia ini ?

Ups!

Membaca berita tentang 'prestasi' orang-orang berlabel Kristen di negeri ini, saya bertanya tentang dua hal yang menjadi judul artikel ini dan yang menjadi kalimat pembuka di atas.

Lahir di keluarga Kristen, dibesarkan di tengah-tengah keluarga besar Kristen, dan belajar hingga lulus sekolah menengah dari sekolah Kristen, saya diajarkan bahwa kekristenan adalah hal yang baik. Bahkan, kekristenan adalah yang terbaik dibanding agama dan aliran keyakinan lain di muka bumi ini.

Saya percaya. Itu sebelum mata saya terbuka.

Mata saya terbuka ketika saya melihat bahwa orang-orang Kristen di dunia nyata tak berbeda dengan orang bukan-Kristen.

Orang Kristen yang menjadi pembunuh, penzinah, penjambret, perampok, pencuri, koruptor, penipu, pendusta, pengkhianat, ..., sebut saja segala kejahatan,... ternyata berjibun.

Ayah Kristen yang mencabuli anaknya sendiri, suami Kristen yang menganiaya istrinya, anak Kristen yang menelantarkan bahkan membunuh orang-tuanya ... tak sulit menemukan beritanya.

Ibu Kristen yang membuang bayi yang baru dilahirkannya, istri Kristen yang berselingkuh dan meninggalkan keluarganya, perempuan-perempuan Kristen yang hidup hedonis ... bukan berita baru.

Dalam beberapa minggu ini, para selebriti Kristen pun jadi berita hangat di media. Bukan karena kekristenannya, tetapi karena 'prestasi'nya.

Ada politisi Kristen yang diciduk dan menjadi tersangka kasus korupsi, ada politisi Kristen yang  mencampakkan istri pertamanya, ada artis Kristen yang tertangkap dan ternyata sudah lama pakai narkoba, ada artis Kristen yang menjadi tersangka kasus penipuan, ...

Kejahatan yang dilakukan oleh orang bukan Kristen ternyata banyak dilakukan juga oleh orang-orang Kristen.

Jadi, apa gunanya orang menjadi Kristen ?

Jawaban standar yang hampir selalu saya dapatkan : Menjadi Kristen berarti beriman kepada Kristus dan karenanya terjamin akan mendapat hidup kekal. Ah, iman... Dulu saya percaya, orang yang BERKATA beriman kepada Kristus adalah orang beriman. Sekarang saya belajar dari Yakobus untuk membedakan antara iman dengan omong-kosong. Saya tak bisa melihat iman Kristen di dalam perilaku sebagian besar orang-orang yang mengaku, menyebut diri atau mendaftarkan status kewarganegaraannya sebagai Kristen.

Ketika saya dijejali dengan ilusi bahwa  kekristenan itu baik, saya masih bisa percaya ... satu atau dua Kristen yang buruk itu 'cuma oknum'. Tapi, setelah mata saya terbuka, saya menyadari : satu atau dua Kristen yang baik itu 'cuma oknum'.

Lebih sering sekarang saya bertemu dengan orang-orang Kristen yang 'serupa dengan dunia ini' daripada sebagai 'umat pilihan Allah, yang diKUDUSkanNya'.

Silakan intip isi chat anak-anak sekolah minggu atau remaja Kristen di media sosial. Atau curi dengar obrolan dan guyonan ibu-ibu dan bapak-bapak aktivis gereja. Atau : silakan lihat manuver pendeta Kristen dan pemimpin gereja pada masa sinode - apa bedanya dengan politik kotor di dunia sekuler ? Pendeta atau pemimpin jemaat yang melakukan percabulan, mencuri uang gereja dan menggunakan kekerasan untuk merebut atau mempertahankan posisinya di gereja sudah menjadi cerita sehari-hari. Seberapa banyak orang yang menyebut diri Kristen bahkan pemimpin jemaat yang menunjukkan 'pembaharuan budi' ?

Berapa banyak rumah-tangga Kristen yang masih bertahan dan tak terimbas tren kawin cerai ? Berapa banyak keluarga Kristen yang mengikuti prinsip Alkitab dalam hubungan antara suami istri dan antara orang-tua anak ? Adakah secara statistik lebih baik dari keluarga bukan-Kristen ?

Masihkah banyak sekolah Kristen yang menghasilkan orang-orang berbudi pekerti yang baik dan bukan hanya terkenal karena uang sekolahnya yang super mahal ? Berapa banyak rumah sakit Kristen yang paramedis dan pekerjanya membuat orang melihat Kristus dalam pelayanan mereka ? Apa gunanya mempertanyakan 'pembaruan budi' di lingkungan sosial Kristen, jika berita tentang pencabulan yang dilakukan oleh pemimpin gereja atau pejabat lembaga gerejawi tak lagi mengejutkan kita?


Apakah kekristenan masih punya pengaruh dan manfaat bagi para penganutnya ? Apakah kekristenan masih bermanfaat bagi orang-orang lain di dunia ? Apakah 'terang dunia' dan 'garam dunia' masih layak disematkan pada orang-orang Kristen?

Ah, sudahlah, mengapa saya nyinyir pula ? Apakah nyinyir pun sudah jadi karakteristik orang Kristen masa kini ?

Lebih baik saya bersiap-siap berangkat ke gereja. Mana tahu bisa ketemu pendeta atau anggota jemaat yang bisa mengoreksi kesesatan pikiran saya. (Semoga tidak ketemu pendeta dan anggota jemaat yang malah mengonfirmasi opini saya).

Selamat hari Tuhan, saudara-saudara.

 

 

PS : Ssttt, jangan menduga saya lagi  berencana murtad, gak lah! ... saya teguh memandang bahwa Kristus adalah Tuhan ... yang ngaco itu orang-orang yang memanggilNya Tuhan, tapi tidak mau tunduk pada perintah dan kehendakNya