Submitted by susanto on

Pagi tadi saya melintas di sebuah rel kereta api. Seperti perlintasan kereta pada umumnya, lintasan tersebut dilengkapi dengan palang dan tanda peringatan sebagai perangkat keselamatan bagi pengguna jalan. Sebuah kejadian menarik perhatian saya. Tepat ketika akan melintas, sirine berbunyi dan palang perlahan turun dan melintang tepat di depan saya. Tiba-tiba seseorang yang mengendarai sebuah motor berusaha melewati palang tersebut. Hal seperti ini sering terjadi. Meskipun tahu resiko yang akan dihadapi bila tidak memperhatikan tanda pada perlintasan rel, masih banyak orang yang melanggar.

Saya teringat kepada bangsa Israel dalam Perjanjian Lama. Salah satu gelar bagi bangsa pilihan ini adalah tegar tengkuk. Gelar ini diperoleh karena seringnya mereka menyimpang dari perintah Allah. Salah satu kasus adalah ketika mereka membuat lembu tuangan dan menyembahnya (Keluaran 32:8,9). Perjalanan sejarah bangsa Israel selalu diwarnai dengan pelanggaran-pelanggaran, sampai akhirnya Israel Utara harus dibuang ke Asyur dan Israel Selatan ke Babilonia.

Paulus menulis dalam Efesus 2:10 bahwa kita adalah ciptaan Allah yang dituntut untuk hidup dalam pekerjaan yang telah Dia siapkan. Maka semestinyalah kita menjadi orang-orang yang selalu melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak-Nya. Pertanyaan bagi kita, ''Masihkah pelanggaran menjadi bagian hidup kita?". Saya pikir masing-masing pribadi tahu jawabannya, dan juga tahu apa yang harus dilakukan.